Part 26

957 61 6

Aku masuk ke dalam Cafe Demitasse dan mencari tempat duduk. Austin belum datang. Seorang pelayan menghampiriku dan aku langsung memesan kopi kesukaanku. Selagi menunggu pesananku dan Austin datang. Aku bermain Candy Crush untuk mengusir rasa bosanku menunggu.

"Hey", sapa seseorang dan itu Austin yang segera duduk di kursi yang menghadap ke arahku. "Sorry I'm late"

"Wait a sec. I have to finished my Candy Crush". Aku meliriknya yang sedang memperhatikan aku bermain. Aku mendapatkan score yang begitu kecil karena tidak konsentrasi, aku kehilangan life dengan sia sia. "A'right, its done"

Pesananku sampai, Austin berkata, "Is it for me or you?"

"Err ... Me but if you want it, just drink it. I'll order it again". Aku meminta si pelayan untuk membuatkan kopi yang sama seperti ini. "So, about the collaboration. Can you tell me about the idea of yours and I'll tell you mine"

"Right". Austin menyesap kopi. "Staci told me about your idea of this collaboration. I'm pretty sure you can tell me more than Staci did. But the point is, I really wants to help you more than became a partner. Do you know what I mean, right?"

"Totally no", ujarku. "What Staci told to you"

"Not much. She said that she's your manager and she said that you're finding a partner to solve your problem. I dont what is that means but after I heard everything that your label said about your contract and your fame, I already understand. I'm so sorry to hear that, Greyson"

Aku meringis. Sekarang Austin tahu kalau karirku sedang di ambang maut. "It's okay. It's not your faults though, I have to figure it out"

"Yeahh, so I'm here to help you, Greyson"

Pesananku datang dan aku langsung menyesapnya perlahan. "Thanks dude"

"Any idea about the song?"

"I have. Our genre are pop. We can make a song with a beat that people who listened wants to shake their hips but still, it's all about love. A boy fallin' in love with a girl, how they met and how they spend their entire life together. What do you say?"

"Sounds good. I think that you can playing your piano in the Intro, make it slow so people thinks that this is sad song then the tune changed in the Reff. A boy and a girl dance in the rain"

"Perfect", kataku semangat. "We can make it dude"

"Now, we should to named our song. Any idea?"

"Oh no. I can't find one. Maybe you can choose that"

"More than words". Austin tertawa pelan. "It's describe all of our idea. A boy and a girl loved each other and no more than words can describe their feeling to each other"

"Ah! I love that. Let's make it"

--

Kami menulis lirik dari More Than Words. Menulis lagu berdua dengan seorang partner memang memiliki keistimewaan sendiri, yaitu; kita tidak memikirkannya sendiri. Austin adalah orang yang begitu asik diajak berpendapat tentang apapun. Lirik kami pun terlihat begitu ringan dan menarik sehingga mampu menarik daya tarik para fans kami untuk menghafal lagu itu dalam sekali dengar. Kami menghabiskan waktu berjam jam di Cafe Demitasse untuk menyelesaikan lirik itu karena Austin memang ingin menyelesaikannya sekarang. Aku berterima kasih sekali kepada Staci karena telah bertemu dengan Austin dan membicarakan tentang ide kolaborasi ini yang pada awalnya aku rasa tidak akan menjadi kenyataan.

Setelah lirik selesai, kami berdua akan memberikan lirik ini kepada label kami - yang ternyata Austin juga satu label denganku dan aku baru tahu itu - besok pagi dan mulai merekam lagu itu.

"I think it's enough for today", kataku. "We meet again tomorrow at studio"

"Yeah", katanya. "Before leave. We should take a selfie and share it to our Twitter and Instagram"

"A'right. Let's do this"

Kami berdua mengambil foto bersama.

"I'll share it", katanya. "Your fans and mine would be crazy"

Aku tertawa. "You're right"

Aku dan Austin keluar kafe bersama. Kami masuk ke dalam mobil masing masing. Aku tidak langsung kembali ke apartementku. Aku ingin bertemu dengan Staci.

--

Aku mengetuk flat Staci. Pintu terbuka dan muncul lah seorang pria atletis yang mungkin umurnya sama seperti Staci. "Hey, kau pasti Greyson kan?"

Aku menelengkan kepala. "Benar"

"Masuklah", katanya ramah. "Akan kupanggilkan Staci"

Aku menurut karena aku yakin aku tidak salah flat, hanya saja aku belum pernah melihat pria ini. Aku duduk di sofa sementara pria ini yang aku tidak tahu siapa namanya memanggil Staci, "sayang, ada tamu"

Sayang? Staci tak pernah cerita padaku kalau dia memiliki seseorang yang sudah dipanggil sayang? Staci keluar dari kamar dengan memakai baju tidur. "Hey Greyson". Dia duduk tepat disampingku. "Ada apa kau kemari?"

"Aku ingin memberitahukan sebuah berita untukmu", kataku sambil memperhatikan si pria itu yang sedang duduk di meja dapur. Aku menceritakan pada Staci tentang pertemuanku dengan Austin, tentang lagu yang sudah kami tulis bersama. "Kami besok akan ke studio untuk mulai rekaman"

Staci memelukku erat. "Aku turut senang jika Austin membantu karirmu"

Aku mengangguk setuju. "Aku harap semoga pamorku naik setelah ini"

"Pasti Greyson, aku sangat yakin itu"

Aku membenarkan posisi dudukku ketika si pria itu masuk ke dalam kamar. "Omong omong siapa dia?"

"Seorang teman"

"Teman?", tanyaku mengejek. "Teman dengan panggilan sayang?"

Staci tersipu malu. "Oh Greyson, ayolah. Kau harusnya mencoba untuk mempunyai teman perempuan"

"Ah tidak tidak. Tidak sekarang", kataku menahan tawa. "Aku masih memikirkan karirku terlebih dahulu. Tapi kau benar, aku harus mencobanya, agar bisa dipanggil sayang terus setiap hari"

Staci lagi lagi tersipu malu.

"Aku rasa aku harus meninggalkan kau dan pacarmu berduaan sekarang", kataku sambil berdiri. "Kau besok akan ikut ke studio?"

"Tentu saja", katanya. Dia membukakan pintu untukku. "Aku akan selalu ada untukmu sampai masa kontrakku habis"

Aku keluar flat Staci. "Sampaikan salamku kepada -- ah ya siapa namanya?"

"Rodney", jawabnya. "Akan aku sampaikan. Text aku jam berapa kau akan ke studio besok"

"I will. See you later then, Staci. Have a great night with Rodney". Aku berjalan sambil setengah berteriak berharap agar Staci mendengarnya dari balik pintu. Aku masuk ke dalam mobilku dan pulang ke apartement.

[ BOOK 1 ] - D I V E | Greyson ChanceRead this story for FREE!