"ToD? hmm ayo" Ucap Fikri sambil tersenyum

Dipikir pikir lagi, Keyla masih agak trauma soal ToD, kalian ingat saat Angga menembaknya? dan itu hanya ToD? hati Keyla seperti teriris iris oleh pisau yang sangat tajam

"Siapa dulu nih Key jadinya?"

Fikri menyadarkan Keyla dari lamunannya, "Ah oh iya, lu dulu dong"

"Gue pilih D aja deh"

"Tantangan buat lo- lo besok kudu ajarin dan kerjain pr gue"

"Aelah yang gituan disebut tantangan, sekarang lo"

"Gue T" sebenernya Keyla sedikit ragu memilih Truth

"Apa kamu masih menyimpan rasa padaku?"

Pertanyaan yang terlontar dari mulut Fikri membuat seluruh badan Keyla membeku, hati berkata Ya, masih dan otak berkata Maaf, tidak

Mau tak mau Keyla harus menjawabnya, benar kan? karna jika ia menghindari ini Fikri akan terus mengejar jawaban Keyla

"Maaf, mungkin engga Fik" Keyla menundukkan kepalanya

"Haha okay no problem, gua T"

"Apa ada hal yang lo sembunyiin dari gue? apa itu? kenapa lo sembunyiin?"

Jreng

"Ah- oh, ada mungkin, rahasia, karna gue gamau bikin lo khawatir"

Saat mereka mau bermain lagi, Fikri terlihat terus memegang lambungnya, ada apa ini?

"Lho, lo kenapa Fikkk?" Keyla panik ia hendak menelpon ambulan tapi di cegah oleh Fikri

"Gue, gapapa"

Dan benar saja seseorang pingsan di saat itu juga, dia pingsan, dia

Keyla.

×STALKER×

KEYLA POV ON

Aku terbangun, dan aku melihat bahwa diriku berada di rumah sakit, ada apa denganku?

Aku melihat keselilingku, dan aku mendapati seseorang sedang tidur di sofa dekatku, orang itu Fikri.

Mungkin Fikri sadar bahwa aku telah sadar, sehingga ia pun tiba tiba saja bangun

"Udah sadar Key?"

"Belum, belum sadar"

"Yaudah"

"Udah sadar lah, elo malah nanya gue udah sadar apa belum, gimana sih" Aku berdecak sebal sambil melipatkan kedua tangan di depan dada

"Lah jangan ngambek gitu dong.."

"Ya abisnya elonya sih"

Tiba tiba aku teringat akan keadaan kesehatan Fikri, mau tak mau hatiku pun luluh.

Aku kembali memasang wajah khawatir akan Fikri, lalu aku menatap matanya, senyumnya.

Dia hanya meunjukan wajah datar saat aku ketahuan tengah menatapnya

"Mau lanjut ToDnya kapan nih?" Fikri memecahkan keheningan di antara kami

"Besok aja gimana? eh btw gue gamau terus menerus disini. Hayu anter gue balik ke rumah"

Aku beranjak dari kasur rumah sakit, lalu meraih tangan Fikri

Saat kupegang tangannya. tangannya terasa panas, layaknya makanan yang baru saja di goreng.

"Aww" Sontak aku kaget, "Lu panas banget yaampun, lu demam ya?"

Karna mumpung di rumah sakit, aku mengajak Fikri untuk memeriksakan dirinya ke dokter, tapi ia menolak

Stalker✨Baca cerita ini secara GRATIS!