—
Seorang wanita dengan rambut yang hari ini dia biarkan tergerai, terlihat terburu-buru memasuki bangunan kantor yang sudah menjadi tempat ia bekerja kurang lebih satu tahun itu.
"Pagi, Mbak Naya."
"Pagi juga, Pak." Walaupun wajahnya sudah sangat tertekuk sejak di perjalanan menuju ke kantor, dia tetap membalas sapaan ramah security yang baru saja menyapanya.
Naya kembali mempercepat langkah, segera masuk ke dalam lift yang akan membawanya menuju lantai tujuh bangunan tinggi itu. Dia menyempatkan diri merapikan rambut pada dinding-dinding besi yang dapat memantulkan penampilannya. Bunyi 'ting' pada lift membuat dia segera bergegas menuju kubikelnya.
"Tuh kan! Gue yakin banget kok udah kirim revisi laporan ke tim finance, emang itu divisi kerjaannya ngajak gelud marketing, hobinya mempersulit banget." Nada frustrasinya yang sesaat meluncur ketika ia duduk di kubikel berhadapan dengan komputer itu membuat seseorang yang kubikelnya tepat di sebelahnya terpingkal-pingkal seolah sangat terhibur.
"Good morning, Nayanika..." Sapaan selamat pagi sarat akan nada geli itu semakin membuat Naya menghembuskan napas kesal. "Nih kopi dulu, untuk mengawali hari biar kuat adu jotos sama divisi sebelah," lanjut Gista, yang tidak lain dan tidak bukan adalah sosok yang kubikelnya tepat di sebelah Naya.
Naya mengucapkan terima kasih seraya menyeruput kopi yang baru saja berhasil meredakan tensinya. Sama-sama sering menghadapi mumetnya pekerjaan dalam divisi yang sama, membuat keduanya yang kebetulan seumuran dan masuk di waktu yang sama di perusahaan ini, menjadi sangat dekat layaknya kawan karib.
Selain sering belanja bersama sebagai dalih self reward di awal bulan setelah jenuh bekerja, mereka akan sangat nyambung dalam hal julidin divisi sebelah.
Selain Gista, ada juga Mbak Jean yang jauh lebih kalem dan Mas Brian yang selalu jadi most wanted guy divisi lain di kantor ini, sedangkan Naya, Gista maupun Mbak Jean yang notabenenya satu divisi sama dia, sudah sangat hafal kelakuan absurdnya di balik paras good looking yang sering dikatakan banyak orang.
Terkadang, Brian yang selalu jadi umpan yang dikirim ke divisi finance untuk memudahkan seluruh deal mereka, berhubung Mbak Sesil wanita menor yang menyebalkan itu sangat menyukai Mas Brian.
"Mas Brian mana sih? Belum datang? Mau aku suruh labrak Mbak Sesil. Masa dia gak mau cairin dana buat vendor? Sinting," jelas Naya masih dengan nada misuh-misuh.
"Dipersulit, Nay? Mbak aja yang ke sana," sahut sosok wanita cantik nan anggun yang selalu jadi primadona kantor ini, Jeana Aranulla. Bisa dibilang divisi marketing adalah divisi paling populer di kantor ini. Bukan mereka yang mengakui. Kebanyakan orang kantor yang mengakuinya sendiri, katanya divisi marketing di isi sama orang-orang dengan visual luar biasa. Ya, mereka sih tidak terkecuali Naya, senang-senang saja menanggapi pujian yang silih berganti.
So called cool divisi.
"Boleh, Mbak. Tolong banget diintimidasi kalau perlu. Biar dia tambah insecure lihat kecantikan maha dahsyat Mbak Jean yang gak bisa dia tandingi."
Sekali lagi, Gista terpingkal-pingkal mendengar kejulidan Naya. Sementara Jean hanya geleng-geleng kepala dengan senyum geli.
Jean yang baru saja akan mengunjungi ruangan lain di bilik sebelah yang dibatasi pintu kaca lebar, tempat divisi finance berada. Tampak Brian baru saja keluar dari lift, aroma parfum woody musk menyusul seperti biasanya, lelaki itu bersiul santai menuju kubikelnya yang tepat berada di sebelah Jean, berhadapan dengan kubikel Naya dan Gista, seolah tanpa beban berbanding terbalik dengan tingkatan stress Naya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Somebody To You
Romance(COMPLETED) Bisa dibilang kehidupan Nayanika Riyani Maurisa sangat jauh dari drama. Dunia dan bahagianya sederhana. Sesederhana self reward dengan gaji sendiri, work-play balance, punya keluarga cemara, she's just living her best life. Selama kuran...
