Gadis itu mengangguk, ia tidak bisa menyembunyikan semu merah yang ada di pipinya ketika Jeongwoo mengajak berbicara kepadanya.
Tanpa keraguan, Felicia membalas uluran tangan itu. “Oke Jeongwoo, salam kenal juga, gue Felicia”
Setelah itu Jeongwoo melepas jabatan diantara mereka, ia kembali duduk di singgahsananya sembari mengeluarkan benda pipih itu dari sakunya.
Senyuman kecil terbit taktala membaca isi pesan yang barusan masuk ke handphone miliknya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
jeo nanti pulang mau ga jalan-jalan dulu? bills on me deh AKU LAGI SENENGG BANGETT
wow sweetie, calm down mau jalan kemana nih?
KEMANA AJAAA AJAK AKU KEMANA AJA pokoknya aku yang bayarin !!
ada kejadian apa nih? kepo dongg
HEHEHE TAU GAK AKU IKUT OLIM???! I'M SOO SOO HAPPY
EHH?! SERIUS?! kamu keren banget pumpkin, so proud of you always <3
yes as you should ★__★ hihihi kita jalan yaaa???
iya sayang kita jalan abis ini
YEAY love you.
HARU?! seen
Tarikan senyum itu semakin lebar setelah membaca teks terakhir yang dikirimkan oleh Haruto.
Astaga, pacarnya itu sangat menggemaskan.
#
Pada sisi lain, kedua manusia cantik yang sekarang sudah menjadi teman sebangku itu berbisik, menyatukan pandangan mereka kepada pemuda berkulit tan yang digadang-gadang jarang menampilkan senyum apiknya itu.
Teman sekelasnya yang lain, tentu pernah melihat Jeongwoo tersenyum kepada mereka tetapi jika tersenyum lebar bak orang kasmaran? Hell, no. Mereka jarang melihatnya.
“Jeongwoo kenapa bisa bahagia kayak itu?”
“Lo bakal tau alasannya nanti, mau ikut gak pas nanti jam istirahat?”
“Untuk apa?”
“Alasan dibalik lebarnya senyuman milik Jeongwoo. Lo penasaran kan?”
Felicia mengangguk pelan. Iya, dia penasaran.
Entah, sosok pemuda kulit tan itu sudah menarik perhatiannya sejak ia menginjakkan kelas ini. Ada sebuah magnet yang membuat Felicia ingin terus dekat dengan sosok teman kelas barunya.
Walaupun ia tidak bisa berbohong, ia bisa merasakan tembok besar tinggi yang Jeongwoo pasang ketika mereka berkenalan tadi.
Tapi Felicia berusaha abai, ia hanya ingin tau. Ia penasaran. Sugestinya tidak pernah salah.
#
Jam istirahat memang menjadi jam favorit para murid. Mereka akan mengubah kantin yang sepi menjadi lautan murid untuk berebut tempat duduk bahkan antrian makanan untuk disantap.
Jika bukan karena Haruto, Jeongwoo sebenarnya tidak berminat untuk masuk ke dalam kantin sekolah. Ia pasti akan di beri makan oleh Haruto, karena pacarnya itu terkadang membawa makanan lebih tiap harinya.
Tapi kali ini, Haruto memaksanya untuk makan di kantin karena tempat mereka biasa sedang dipakai untuk kegiatan PMR. Entah, Jeongwoo tidak tau pasti.
Tautan tangan mereka yang tidak terlepas sejak masuk area kantin tentu menjadi pusat perhatian beberapa manusia yang ada disana. Tak terkecuali Felicia, yang sudah duduk manis di kursi kantinnya.
“Kamu mau makan apa, wolfie?” bisik Haruto pelan tepat di telinga sang empu.
“Ikut aja, aku cari tempat duduk dulu”
“Okee!” seru Haruto sambil tersenyum, kemudian melepas tautan mereka berdua untuk menuju target makanan yang akan dirinya pesan.
Jeongwoo menahan senyum lebarnya melihat tingkah Haruto. Astaga, dirinya ditinggal untuk makanan. Sudah biasa.
Tak ingin keduluan oleh murid lain, Jeongwoo segera menempati kursi kosong di tengah lautan manusia disana. Sambil mengusir rasa bosan, ia mengeluarkan benda pipih miliknya lagi untuk bermain sebentar.
Tak perlu menunggu lama lagi, makanan sudah datang di meja nya. Haruto memesan soto untuk mereka. Cocok sih untuk cuaca hari ini yang dingin.