Chapter 1

30.2K 982 72

"Naruto..," wanita yang tergeletak tidak berdaya memanggil anak sulungnya.

 

Naruto yang sejak tadi diam menunggu ibunya terbangun dari lamunan. Ia megenggam tangan ibunya, dan mengecup punggung telapak tangan ibunya dengan lembut. Wanita yang tertidur di atas kasur rumah sakit ini adalah ibunya.Orang yang selama ini selalu meng-support Naruto.

 

 Dengan wajah sendu, Naruto mengelus kening ibunya. Sesekali pemuda itu mengucapkan doa pada Tuhan agar rasa sakit yang diderita ibunya karena mengalami kanker usus menghilang. Naruto memaksakan dirinya untuk membalas senyuman Kushina yang selalu terlihat cantik, walaupun wajahnya memucat dan berkerut—termakan oleh penyakit.Sakit hati, sedih, dan penderitaan Naruto, tidaklah sebanyak rasa sakit yang diderita ibunya, namun tetap saja, sakit yang diderita ibunya membuat Naruto sulit untuk tersenyum bahkan mengucapkan kata-kata manis sekalipun.

 

"Ibu, ibu mau apa?" tanya Naruto dengan lembut. Ia membuka masker yang menutupi mulut dan hidungnya agar aroma obat tidak tercium. "Ibu sakit? Aku panggilkan dokter, ya?" tanya pemuda ini, ketika ibunya hanya menatap dirinya.

 

Kushina mencegah Naruto untuk beranjak pergi."Ayahmu..," Kushina hanya mengucapkan satu kata yang membuat jantung Naruto serasa dihunus oleh ribuan pedang.Naruto terdiam ketika mendengar permintaan ibunya.

 

Naruto mengelus rambut Kushina yang merahnya memudar,  sedikit beruban. Kushina tampak kewalahan ketika Naruto hanya diam saja. Berharap anaknya merespon, Kushina memaksakan diri untuk merubah posisi menjadi terduduk. Namun gagal. Tidak ada tenaga sedikitpun di dalam tubuhnya, membuat dirinya melemas karena dia hanya bisa bertahan hidup dengan obat-obatan yang diberikan oleh dokter rumah sakit.

 

"Jangan bergerak tiba-tiba ibu," Naruto berusaha memposisikan ibunya untuk tiduran kembali, dan ibunya menurut untuk kali ini.Naruto megenggam tangan ibunya semakin erat."Dia pasti datang ibu.Percayalah, dia pasti datang," ujar Naruto, walaupun dia tidak yakin bisa memenuhi keinginan ibunya yang hanya tinggalah menghitung hari sebelum ajal menjemputnya. "Ibu percaya, kan, padaku?" setetes air mata membasahi pipi Naruto. Anak muda ini berharap dia tidak berbohong pada ibunya.Ia berharap orang yang dicintai ibunya akan hadir dan duduk di samping ibunya.

 

Kushina menggerakan jari-jarinya, menghapus air mata anak sulungnya."Aku selalu percaya padamu, Nak!" bisik Kushina dengan lembut. "Sampai kapanpun, ibu selalu mempercayai anak-anak ibu," lanjutnya. Kushina pun memejamkan matanya, walau untuk membuka mata ia sudah sangat lelah. "Ibu akan menghemat energi untuk ayahmu," lanjut Kushina."Sampai dia datang," lanjutnya, dengan senyuman penuh keyakinan.

 

"Ya, Bu.. beristirahatlah agar kau bisa berbicara banyak pada ayah," bisik Naruto, berusaha menghapus kesedihan di dalam dirinya."Dia pasti akan datang."

 

.

 

.

 

Di kala itu, semua terasa sendiri bagi Naruto. Rasa pedih ketika melihat orang yang disayanginya terbaring sakit, Naruto yakin tidak ada satupun yang merasakan, terutama kesendiriannya di tempat sunyi seperti ini.  Rasa sedih terus menyelimuti  Naruto, di saat dia tidak bisa memenuhi permintaan terakhir ibunya. Harapan terakhir Naruto pun untuk membahagiakan ibunya kandas hanya karena ayahnya sendiri.

Wow, because You are Naughty-Naughty! [WIP]Baca cerita ini secara GRATIS!