Wah aku enggak tahu kalau ada libur 4 hari beruntun haha, jadi bisa baca2 watti terus apdet sekarang hehehe so happy ^^ okelah selamat membaca chapter barunya smoga suka yaa hihi oya cuma mau mm ngasih tau kalau di chapter ini ada sedikit bumbu dewasanya, jadi ya warning-warning aja kalo yang belum cukup umur haha tapi enggak panas-panas gimana juga sampe keringetan sih wkwkwk dan makasih buat para readers, voters dan semuanya ^w^ kurangdaritiga deh untuk kaliaaaann <3 *chuchu*

***

Di ruangannya, Tata mau mengambil dokumen dan membuka lemari putihnya. Tangannya yang akan mengambil map merah itu seketika terhenti saat melihat kertas tentang Adrian yang tertempel di balik pintu. Ia menatapnya tajam. Tata ambil pulpen di mejanya dan mulai menulis sesuatu pada kertas itu. Ia isi 3 nomor yang masih kosong dengan posesif dan protektif, jahil, dan manja. Namun, ia tambahkan 1 nomor lagi di bawahnya. Ia tulis kata 'pembohong' pada nomor itu.

Thirty isn't enough for you..

***

Niko dan Adrian sedang berbicara berdua di ruangan bosnya itu. Mereka terlihat serius dan suasana pun cukup tegang.

"Dia belum juga ditemukan?" Adrian bertanya dengan kening yang berkerut.

"Iya. Dia menghilang begitu saja tanpa jejak. Aneh." Jawab Niko yang juga ikut keheranan.

"Selidiki terus. Kabari aku kalau ada perkembangan."

"Siap bos!" Ucap Niko dan bangkit berdiri. Ia pun melangkah pergi dari ruangan Adrian.

"Apa yang direncanain orang itu sebenernya?" gumam Adrian bertanya-tanya pada dirinya sendiri.

***

Sorenya sepulang kerja, Tata pergi ke dalam ruang privat sebuah restoran yang sepi atas permintaan Rangga. Di sana, ia melihat Rangga dan Hardi sudah duduk berdua di sebuah meja cukup besar. Tata pun menghampiri keduanya dan duduk di sebelah Rangga. Hardi tampak tersenyum senang melihat kedatangan Tata.

"Jadi apa tugasku?" tanya Tata tanpa basi-basi.

"Yang pasti, tetaplah bertingkah seperti biasanya. Jangan sampai mereka curiga kalau kamu sudah tahu semuanya. Lalu, saya ingin kamu berikan informasi mengenai setiap proyek dan acara yang akan Palais buat."

"Kemudian memberikannya pada anda untuk digunakan pada hotel anda sendiri?" Tata mencoba menebak.

Hardi tampak menyeringai mendengar pertanyaan Tata.

"Bukan untuk hotelku. Tapi hotel lain. Kalau aku yang menggunakannya, mereka akan curiga padaku. Kamu mengerti, kan?"

"Ya." Jawab Tata singkat.

Hardi pun tersenyum tipis, sedangkan Rangga hanya menatap Tata dengan wajah sedih.

"Kalau ada yang mau kamu tanyakan, kamu bisa tanyakan pada Rangga. Dia sudah berpengalaman melakukannya dengan sangat baik." lanjut Hardi.

Mendengar ucapan Hardi, kepala Tata memutar melihat Rangga dengan tatapan agak kaget.

"Kakak juga melakukannya pada Palais di Singapur." Rangga seolah bisa membaca pertanyaan yang ada di benak adiknya.

Jadi selama ini Kakak yang aku bilang sebagai cucurut itu?

"Tapi, kenapa kalian enggak berencana membunuh satu per satu keluarga Bramantio lagi?" tanya Tata.

"Karena kami sadar kalau mereka pantas hancur dulu sebelum mati." Jawab Rangga.

"Setelah 2 insiden itu Palais mengalami masalah besar. Itulah tujuan yang sebenarnya. Kami juga bisa saja memasukkan Adi ke penjara sekarang, karena kami sudah punya bukti dan saksi atas penyuapan yang Adi lakukan dalam kasus kecelakaan orangtuamu." Hardi menimpali.

Taste of Revenge [III]Baca cerita ini secara GRATIS!