Untuk yang tersayang, Edward-ku yang sedari dulu menjadi raja dihatiku.

Aku menatap dirimu sedang tertidur malam itu, wajahmu yang tampan dipenuhi oleh ketakutan yang belum pernah kulihat selama ini. Kau tidak takut akan apapun, pada ular, hewan buas yang berkeliaran di hutan, pada kerasnya aspal jalanan, angin malam begitu dingin, apapun itu kau selalu berdiri tegak di depanku—Pemimpinku.

Namun malam itu, aku melihatmu sangat ketakutan. Peluh-peluh mulai membasahi keningmu dengan bibir yang terus bergerak-gerak menyebut nama seseorang.

Aku senang saat Edward-ku yang tak pernah membagi rahasianya pada siapapun termasuk aku, akhirnya membongkar sendiri.

Edward Sang Pemberani—Pemimpinku terkasih, yang tak takut apapun ternyata takut akan kehilangan seorang gadis. Sebenarnya ada secercah harapan pada diriku, berharap-harap gadis itu adalah aku.

Tetapi tidak. Mengapa aku begitu egois hingga berpikir seperti itu? Aku tak pantas dimimpikan olehnya atau bahkan ditakutkan akan pergi. Apa mungkin baginya jika aku sudah tak dianggap ada? Selama ini?

Benarkah itu Edward?

...

"Selamat pagi." Sapa Ellena sembari menyiapkan piring diatas meja. Sudah ada telur mata sapi serta bacon, susu yang dituangkan pada gelas sederhana yang mereka beli kemarin. "Kuharap bacon dan telur cukup untukmu."

Edward berjalan gontai menuju wastafel untu mencuci muka. "Bisa sarapan pagi ini saja sudah baik." Jawab Edward lembut yang sudah menempatkan diri pada kursi makan.

"Aku bisa membuatkanmu roti jika kau merasa ini masih kurang." Tawar Ellena dengan sebungkus roti tawar digenggamannya.

"Tidak. Tidak. Ini sudah cukup, sayang. Aku tak ingin merepotkanmu."

Ellena sempat akan menahan senyumnya itu. Kau tahu bahwa dia begitu bahagia dijuluki 'sayang' oleh Edward tetapi juga sakit karena mengetahui julukan itu bukan hanya untuk dirinya saja.

"Mengapa kau diam saja?" Edward negur. Mendapati Ellena hanya berdiam diri memandangi luar jendela. "Kau sedang tak enak badan?"

Gadis itu menggeleng beberapa kali. "Aku merindukan Ayahku. Itu saja kurasa." "Kau yakin itu tak jadi masalah untukmu?" Nadanya bertanya penuh kekhawatiran. Apa yang harus dikatakan Edward sekarang? Menawarkannya untuk kembali ke Sydney agar bisa melepas rindu dengan Ayah Ellena yang berarti menyerahkan gadis pujaan hati pada Jack? Atau berdiam saja melihat Ellena bersedih?

"Mengapa sekarang jadi kau yang diam saja?" Ellena terkekeh. "Ayo makan dan kita bisa menghabiskan waktu bersama!"


Ellena tetap bertingkah wajar dengan ceria serta penuh kasih dan perhatian. Edward pun melakukan hal yang sama sebagai respon, menganggap bahwa pernyataan kekasihnya tadi pagi itu hanya angin lalu. Jauh didalam lubuk hati mereka berdua ada rasa canggung yang membludak memenuhi.

"Aku akan membereskan semua ini, sedangkan kau bisa panaskan mobilnya?" Dengan cekatan tangannya mengambili piring serta gelas kotor dan membawanya pada bak cuci. "Kita bisa pergi keliling Victoria-kan?"

"Tentu. Aku tahu tempat yang bagus disini. Aku dan yang lain sering kesana selagi kami berlibur. Kau akan menyukainya!"


Tak berselang lama, Ellena dan Edward telah siap dengan segala perlengkapan piknik mereka. Maksudku hanya beberapa roti isi, salad, dan karpet tipis yang ditemukan saat sedang bersih-bersih.

"Berapa lama kira-kira?"

Lelaki dengan lesung pipi itu menoleh dan tertawa. "Kita baru saja berangkat dan kau sudah bertanya berapa lama lagi kita sampai?"

The Triplets // harry stylesBaca cerita ini secara GRATIS!