Part 10 - Birthday Boy

1.2K 31 4

Cloudy pulang ke apartemennya dengan mata sembab. Sesampainya disana ia langsung menuju kamarnya kemudian mengunci pintu. Pertanyaan yang dilontarkan oleh Mba Yeni tak dihiraukannya sama sekali. Bahkan ketukan pintu serta panggilan namanya dari luar pun tak mampu membuatnya angkat bicara. Ia terdiam membisu di balik pintu kamarnya.

Ia merasa bingung pada dirinya sendiri. Ia merasa marah pada dirinya sendiri. Ia juga membenci dirinya sendiri. Entah sejak kapan ia memiliki perasaan itu, namun yang pasti ia telah mengingkari sesuatu yang sudah menjadi komitmennya sejak dulu, yaitu komitmen untuk tidak jatuh cinta. Apa yang menjadi prinsip dan cita-citanya kini terasa buyar, keinginan untuk membuktikan pada orangtuanya selama ini terasa sia-sia. Cloudy benci jatuh cinta.

Tetapi kenapa harus Adrian? Kenapa harus pada lelaki itu Cloudy melabuhkan hatinya? Ia bahkan baru mengenalnya kurang dari satu semester. Mengapa takdir seolah membolak-balikan jalan hidupnya yang selama ini tak pernah berubah?

Cloudy tak mengerti mengapa jatuh cinta terasa sangat menyakitkan. Jatuh cinta pada seseorang yang hatinya sudah dimiliki oleh oranglain.

-----

Senna asik bercumbu mesra dengan laki-laki yang baru saja ia temui malam ini di sebuah club. Seperti biasa, ia membawa laki-laki itu ke apartemennya untuk 'melanjutkan' aktivitas mereka. Sepanjang jalan dari lift menuju apartemennya, kedua orang itu seakan tak bisa melepaskan cumbuan mereka.

Senna terburu-buru menekan password apartemen miliknya. Setelah berhasil membuka pintu, mereka pun langsung bergegas menuju kamar tidur Senna. Namun, ketika cumbuan mereka semakin tak karuan tiba-tiba saja laki-laki itu menghempaskan tubuh Senna.

"Who the hell is he!?"

Senna yang bingung melihat sosok laki-laki yang sedang tertidur di kamarnya hanya diam tak berkutik.

"Wow. Hebat banget kamu, Sen. Jadi ini balasan buat aku?" Laki-laki itu menggeleng tak percaya.

"Wait, aku bisa jelas..."

"Good night, Senna." Laki-laki itu berlari keluar apartemen Senna dengan perasaan kesal dan juga marah.

Senna mengacak rambutnya kesal. Ia mendekati laki-laki yang sedang tertidur di kasurnya serta secara tidak langsung sudah merusak kencannya ini.

"Ck ck kirain siapa." Senna menghela nafas berat setelah mengetahui bahwa laki-laki itu adalah adik kandungnya sendiri.

-----

"Morning!" sapa Senna pada Adrian yang baru saja keluar dari kamarnya. Saat ini ia sedang membuat sarapan spesial.

"Selamat ulang tahun adikku, Adrian Keenan Althaf yang paling ganteng!" kemudian Senna menghampiri Adrian lalu menghujam wajah adiknya itu dengan kecupan.

"Kak, kalo ada orang liat, aku kaya lagi mau diperkosa nih." Ujar Adrian sambil berusaha menghindari kakaknya itu namun gagal. Sejak dulu kakaknya memang selalu seperti ini. Bahkan waktu itu ada yang mengira kalau mereka berdua pasangan mesum dan sebagainya. Ironis sekali.

"Nggak nyangka adik kakak yang dulu masih suka ngompol sekarang udah sebesar ini, makin ganteng lagi." Ujar Senna. Ia terlihat sangat gembira pagi ini.

"Kak... jangan mulai deh..." Adrian mulai kesal melihat kakaknya membahas masa lalunya yang memalukan itu.

"Hahahaha." Senna membayangkan masa kecil adiknya yang sering buang air sembarangan itu. "Ngomong-ngomong kok kamu bisa ada disini? Nggak bilang kakak dulu lagi."

"Abisan semalem mau pulang ke rumah udah kemaleman sih, Kak. Jadi kesini aja yang deket."

"Mentang-mentang udah 18 tahun, udah berani pulang malem ya." Ledek Senna. "Kamu mau minta kado apa dari Papa, Dri?"

Only One [Completed]Read this story for FREE!