THE BLACK LILY

8.5K 569 6

Pagi-pagi sekali, Adrian terbangun dari tidurnya. Matanya yang terbuka tidak melihat sosok Tata di tempat tidur. Ia pun bangkit dan duduk di kasur. Ternyata Tata sedang berdiri di depan meja rias. Ia terlihat sudah berpakaian rapih dan sedang menyisir rambutnya.

            "Kamu mau kemana pagi-pagi gini? Ini kan hari Sabtu." tanya Adrian dengan suara yang masih berat.

            "Aku mau ke Kakak. Mau ngasih oleh-oleh." Jawab Tata sambil terus merapihkan rambutnya.

            "Aku pergi dulu." Tata pamit dan pergi tanpa melihat Adrian sedikit pun.

            Hatinya masih belum siap melihat pria itu. Hatinya masih terguncang mengetahui kebenaran yang selama ini bersembunyi. Kebenaran yang bahkan masih belum bisa dipercayai batinnya yang terus menyangkal.

            Tata sudah berdiri tepat di depan pintu hotel Rangga. Setelah mengetuk beberapa kali, pintu pun terbuka dan sosok Rangga muncul dari belakang pintu.

            Rangga menghela napas panjang melihat Tata yang tengah berdiri di depannya.

***

            Mata Tata masih belum bisa percaya akan apa yang ia lihat. Lembar demi lembar dari kumpulan dokumen itu terus ia baca. Ada pula beberapa guntingan dari kertas koran yang berisi pemberitaan kematian orangtuanya dulu. Hatinya benar-benar tersentak membaca semua dokumen itu.

            "Itu semua bukti-bukti yang berhasil Kakak dapatkan." Kata Rangga pelan yang duduk di sebelah Tata. "Maafin Kakak, Ta.." lanjut Rangga dengan nada penyesalan.

"Maaf atas apa?" Tata bertanya sambil terus membaca.

"Karena Kakak menyimpan semua itu darimu."

"Kenapa Kakak ngelakuin itu? Kenapa Kakak nyembunyiin semua ini dari aku?"

"Karena Kakak enggak mau kamu merasakan kebencian seperti yang Kakak rasakan selama ini. Kakak enggak mau kamu terluka.." Jawab Rangga lirih.

"Kalau gitu, sekarang saatnya Kakak kasih tahu aku semuanya. Tanpa ada rahasia atau kebohongan lagi." ucap Tata dengan tatapan serius pada kakaknya.

Rangga terdengar sedikit mendesah.

"Baiklah. Waktu kecelakaan itu, Kakak duduk di depan dengan Ayah—kamu ingat, kan? Saat dalam perjalanan pulang, hujan sangat deras. Waktu Ayah mau berbelok dalam kecepatan cukup tinggi, tiba-tiba ada sebuah mobil dari arah yang berlawanan dan masuk ke jalur mobil Ayah. Ayah pun reflek membelokkan mobil sehingga tergelincir dan sempat berguling beberapa kali. Setelah kejadian itu, tubuh Kakak semua terasa sakit. Kakak masih sadar dan tubuh Kakak tersangkut pada seatbelt karena mobil Ayah saat itu dalam keadaan terbalik. Tiba-tiba, seseorang datang dan Kakak sempat melihat wajahnya. Kakak melihat Ayah mengulurkan tangannya yang penuh darah meminta bantuan pada pria itu. Namun, sangat jelas sekali di mata Kakak kalau pria itu malah menarik tangannya dari tangan Ayah dan pergi. Kakak bisa mendengar suara mobil yang berjalan pergi sampai akhirnya Kakak enggak sadarkan lagi." Rangga mencoba menceritakan dengan wajahnya yang pedih.

Ia coba untuk mengingat kejadian paling mengerikan yang pernah terjadi di hidupnya. Kejadian yang akan selalu melekat di ingatannya. Kejadian yang membuat dirinya seperti ini sekarang. 

"Setelah sekian lama, wajah pria itu masih Kakak ingat. Sampai suatu hari Kakak melihat wajahnya di koran dan Kakak pun tahu siapa dia."

"Adi Bramantio." sela Tata dengan nada datar.

"Ya. Kakak terus mencari informasi tentangnya. Sampai Kakak bertemu Hardi di Singapura sekitar 6 tahun yang lalu. Dia memberikan Kakak beberapa dari dokumen-dokumen itu. Dia bilang, dia sahabat Ayah sejak dulu dan Kakak memang pernah bertemu dengannya beberapa kali waktu kecil. Dia bilang, dia curiga kalau ada yang tidak beres pada kasus kecelakaan itu. Darinya, Kakak tahu kalau saat itu Ayah dan Adi sedang berebut investor dari Singapura. Saat itu, hotel Ayah kita sedang mencapai puncak kejayaannya sehingga investor itu berencana untuk memilih Ayah. Adi panik karena saat itu Palais sedang mengalami masalah hutang. Akhirnya, Kakak tahu kenapa ia tidak menolong kita saat kecelakaan. Ia ingin Ayah kita—mati." Sorot mata Rangga saat mengucapkan kalimat itu penuh dengan kebencian.

Taste of Revenge [III]Baca cerita ini secara GRATIS!