Part 25

903 56 0

Can't wait to share it all to you. G

Send.

Baru beberapa detik sudah banyak notifikasi Twitter yang masuk. Aku membaca sebisaku selagi aku sedang dalam perjalanan menuju Los Angeles. Karena aku tidak bisa membalas semua mention para fansku, aku kembali membuat tweet;

Sorry can't reply all of your messages but I read it all. G

Lalu aku log out Twitter ku.

Aku sampai di terminal Los Angeles tepat jam 7 malam. Aku turun dari bis dan langsung melihat mobil Staci. Aku segera menghampiri mobil Staci dan masuk ke dalam. "Hallo"

"Hai, Greyson", kata Staci memberikan senyumannya padaku.

"Kau baik baik saja?", tanyaku.

"Seharusnya aku yang menanyakan itu padamu, Greyson"

"Oh". Staci menjalankan mobilnya. "Jadi apa yang ingin kau katakan padaku?"

Staci terlihat gelisah. Hingga detik ketiga dia mulai bicara. "Kau yakin mau mendengarkannya? Tidak besok saja?"

Aku mulai yakin bahwa Staci menyimpan berita yang tidak bagus untukku. "Lebih cepat lebih baik"

"Okay", katanya. "Kau sudah mengerti kan soal ide kolaborasi yang aku katakan padamu siang tadi?"

"Yap. Aku rasa aku ingin bertemu dengan Austin"

"Begitu pun dengan dia". Dia melihatku sekejap, lalu kembali fokus pada jalan. "Aku sudah memberikan nomormu padanya"

"Oh, thanks"

"Dan setelah itu ada kabar yang tidak baik yang mau tidak mau harus kau dengarkan"

"Kalau begitu katakanlah sekarang Staci"

"Label mu mengatakan bahwa waktumu kurang dari 10 bulan lagi"

"Apa katamu? 10 bulan?". Aku sungguh sungguh terkejut mendengar kabar itu. "Kenapa bisa begitu?"

"Label mu telah menemukan artis baru yang segera akan di terbitkan". Lalu dia melanjutkan dengan nada pelan. "Menggantikan posisimu"

Aku diam saja. Karena bagiku tak ada lagi yang harus aku bicarakan dan tak ada lagi yang harus Staci perjelas karena aku sudah tahu kemana arah dari percakapan ini tertuju.

"Greyson, aku sudah melakukan semampu yang aku bisa untukmu", kata Staci lembut. "Tapi keputusan tetap lah keputusan. Aku tak bisa melakukan apa apa lagi"

"Terimakasih, Staci. Tapi tidak usah repot repot jika memang tidak bisa". Akhirnya aku bisa menjawab dengan suara bergetar. Aku benar benar terperosok hingga ingin menangis. Tapi tidak menangis di depan Staci. "Aku hanya ingin kembali ke apartementku. Beristirahat"

Staci mengantarkanku tepat di lobby apartement. Aku langsung turun tanpa mendengarkan perkataan Staci satu patah kata pun. Aku juga tidak membalikkan badanku untuk mengucapkan selamat malam atau terimakasih karena telah menjemputku di terminal atau sudah meneleponku untuk kembali ke Los Angeles dan memberikan kabar buruk untukku yang semakin membuat keadaanku memburuk karenanya.

Aku masuk ke dalam kamarku dan langsung membantingkan badanku di sofa.

--

Telepon genggamku berdering. Tak ada nama, hanya nomor. Dengan mata merem melek karena masih setengah tertidur, aku mengangkatnya. "Greyson, here"

"Hey dude, its Austin"

"Who's Austin?"

"Austin Mahone. Are you okay? You sound horrible"

Aku teringat perkataan Staci kalau Staci telah memberikan nomorku pada Austin Mahone. "Sorry dude, just woke up"

"I knew it bro"

Aku bangun dan melihat jam di layar handphoneku. Jam 9 pagi. "Whats up?"

"Since I met your Manager, I think we should meet to talk about our collaboration, what do you say?"

"Okay, okay. Where?"

"Studio"

"No studio. Choose any place"

"Why?", katanya. "Something happens between you and that place?"

Aku tertawa kecil. "You know it bro, I'll tell you soon. Meet me in Cafe Demitasse at 11.

"Wait. Where's that?"

"Ah. You can search it in G Maps, dude"

"I rarely used it, but I'll try. See you there"

"See you there"

Aku segera pergi ke kamar mandi. Lima menit kemudian aku keluar dan segera mengganti pakaianku. Setelah itu aku menuju ke Cafe Demitasse, dimana Austin dan aku akan bertemu untuk membicarakan soal ide kolaborasi kami berdua.

Aku mengendarai mobilku di jalanan Los Angeles yang saat itu sedang ramai lancar, dan juga sangat terik sekali padahal musim panas masih beberapa bulan lagi.

[ BOOK 1 ] - D I V E | Greyson ChanceRead this story for FREE!