Dua Dua : Acting

Mulai dari awal

Keyla hanya tersenyum tanpa membalas lambaiian tangan Anggi.

KEYLA POV ON

Aku sengaja membeli cheese cake untuk seseorang, hari ini dia sebenarnya ulang taun, dia

Fikri.

Aku mengetikkan pesan untuk Fikri:

Keyla : Fikkkk, lo sibuk ga?

Fikri: Kagak kok, nape?

Keyla: ketemuan yuk, gua udah di taman deket sd kita dulu

Fikri: Ya gue sekarang caw ke sana

Read.

Sambil menunggu aku mengotak atik ponselku, lalu sesekali aku menarik napas dan menghembuskan nafas secara perlahan untuk mengkontrol detak jantung ku yang amat sangat cepat

Apakah aku degdegan?

Seseorang dari jauh melambaikan tangannya ke padaku, lalu ia berlari kecil untuk segera sampai ke arahku.

"Hehe- maaf, lama ya?," Ia tersenyum

"Haha engga kok, hm happy birthday Fikk! makin lebih baik dari sebelumnya deh ya! maaf waktu di sekolah ga ngucapin."

"Hmmm, Key? Lo lupa?" Fikri menggaruk garukkan kepalanya, aku tau kepalanya tidak gatal.

"Eh?- emangnya kenapa? aku ga lupa kok" Aku bingung ada apa dengan maksud Fikri

"Hmm bukan, gini jadi,

Ultah gue kan bukan sekarang...."

Deg.

"Bukan ya? berarti gue salah ya Fik? maaf ya"

Jujur, aku malu. kok aku bisa sampe salah gitu ya? tapi perasaan Fikri tuh emang ulang tahunnya sekarang.

"Ya gapapa sih, ulang taun gue tuh sebulan yang lalu Key" Fikri tersenyum

Karna sudah terlanjur membeli cheese cake, jadi aku akan tetap memberikannya pada Fikri

"Kalo ultah lo sebulan yang lalu, kan gue belum sempet kasih ucapan sama hadiah kan?"

Fikri mengangguk

"Nih," aku menyodorkan sebuah plastik yang berisi cheese cake, "Terima ya, anggep aja ini hadiah dari gue waktu sebulan yang lalu, dan anggep aja ucapan hbd aku tadi ke kamu itu untuk sebulan yang lalu"

"Makasih Key," Fikri memberikan senyuman termanisnya padaku, senyuman yang membuat hatiku dagdigdug tak karuan

Aku hanya menundukkan kepalaku.

"Hey, kenapa?" Tiba tiba saja Fikri merangkulku dengan membawaku jalan

"Engga kok, aku cuma malu-hehe" Aku membangkitkan kepalaku dan menunjukan cengiranku pada Fikri

"Lo kalo nyengir lebih lucu tau."

Dia bilang kalo gue nyengir keliatan lucu? hmm

"Ah elu mah bisa aja, eh ke sd yuk?"

Belum sempat Fikri menjawab pertanyaanku, aku sudah menariknya terlebih dahulu.

Taadaaaaaa

Aku dan Fikri memasuki sekolah,

sepi.

"Ada perlu apa ya?" Pak penjaga sekolah bertanya dengan tatapan-kok asa kenal ya-

"Eh Pak Udin, mau liat liat sekolah aja Pak, hehe" jawabku dengan menunjukan cengiran yang Fikri anggap lucu

"Tunggu-ini dek Keyla ya?" memegang pundak Keyla, "Dan ini-dek Fikri?" memegang pundak Fikri

"Pak Udin yaampun masih inget gitulah, jadi terharu"

"Lebay Key" Fikri menatapku dengan tatapan sinis

Aku hanya menatap balik Fikri dengan tatapan tak kalah sinisnya, kemudian kami berdua tertawa.

"Yaudah pak, kami liat kiat dulu ya" Aku dan Fikri segera pergi dan meninggalkan Pak Udin yang tersenyum hangat

'Aku dari tadi hanya memandangnya, aku hanya memandang senyuman yang menunjukan bahwa semuanya baik baik saja-

dugaakanku benar, dia pandai berakting.'

"Cieee yang liatin gue muluuu" Fikri tertawa

"Ishh apaan sih geer, gue tuh ya liat ke sana" Aku menunjuk kearah kelas yang kosong

"Ckck jangan ngelak deh," Fikri terus saja tertawa sambil mengacak acak rambutku

"Tuhh kann, rambut gue berantakan" aku mengomel sambil mencubit hidung Fikri yang lumayan mancung itu

"Aww" Fikri berteriak karna kesakitan

"Ish teriakannya kayak perempuan" Aku tertawa puas

"Puas lo? Hah?" Fikri memegang hidungnya

"Gausah akting sok ngambek gitu deh" aku berbicara dengan melipatkan kedua tanganku di dada, "Dan gausah sok akting layaknya lo baik baik aja, terbuka sama gue gabisa?" aku meneruskan kata kata tersebut dalam hati

Akhirnya kami pun berkeliling melihat bangunan sekolah, aku dan Fikri kini berada di tengah lapang dengan posisi tiduran menghadap langit

"Indah banget ya langitnya." ucap Fikri, lalu ia kembali duduk

Aku juga ikut duduk, "Iya dong indah" ucapku sambil menyenggol sedikit tubuh Fikri

Lalu, aku melihat Fikri sedang memegangi perutnya.

"Fik, apakah kau lapar?

"Ah engga, ini- sakit lambung kayak biasa. Tapi udah engga kok" Fikri memberikan senyuman yang menunjukan-bahwa semuanya baik baik saja-

Ah apakah benar dia sudah tak sakit? Lalu, untuk membuat Fikri tak merasakan sakitnya kembali aku mengajak dia untyk bermain.

"Kalo gitu, kita main Tod yuk?" tanya ku penuh harapan

"Tod? hmm ayo"

====================
a.n.

HAI! maaf kalo gaje, jelek, unsur typo bertebaran

Bantu Vote sama commentnya yaa!✌

Stalker✨Baca cerita ini secara GRATIS!