Prologue

12 3 2
                                    

"Akhir-akhir ini kamu sibuk banget ya, Sa."

Sasa terdiam dengan ucapan Restu. Memang akhir-akhir ini Sasa sangat sibuk dengan tugas maupun persiapan untuk mengikuti perlombaan akademik di bidang sains.

"Maaf, Restu." Lirih Sasa.

Restu mengangguk kepalanya."Berapa hari lagi kamu ikut lomba itu?"

"Tiga hari lagi, maka dari itu aku harus punya persiapan yang matang untuk bisa menang."

"Sains itu gak gampang dan—"

"Iya aku tau, kamu gak perlu jelasin." Potong Restu dan Sasa tersenyum kecil.

Restu berdiri dari duduknya membuat Sasa mendongak menatap nya.

"Mau kemana? Kita baru aja ketemu." Ucap Sasa dengan menahan lengan Restu.

Restu melepaskan tangan Sasa yang menahan lengannya."Ada urusan yang harus aku selesaikan."

"Mendadak? Tapi kan kita baru ketemu, sudah satu minggu kita gak jalan bareng."

Restu menarik kedua tangan Sasa dan menggenggamnya, menatap Sasa dalam tatapan lembut.

"Maaf, aku harus pergi ada urusan dari tempat papah aku kerja."

Kedua mata Sasa memanas dan akhirnya sebulir jatuh membasahi pipinya.

Restu menghela nafasnya melihat Sasa menangis."Jangan nangis,Sa."

Dengan lembut Restu menarik tubuh Sasa, memeluk nya dengan erat.

Menenangkan Sasa sejenak dan...

"Udah, kamu jangan nangis."Tegur Restu.

"Aku pergi ya, kamu pulang naik gojek aja." Restu mencium kedua pipi Sasa lalu pergi dari hadapannya.

Apa yang terjadi pada cewek itu?

Restu tidak ada hati kah? Meninggalkan Sasa yang sedang menangis di tempat umum seperti ini?

***

"Kamu bisa gak? Gak usah kasar sama Manda!" Bentak Restu dengan wajah tegas nya.

Sasa tersentak ketika Restu membentaknya dengan keras.

"Kamu kenapa bentak aku? Jelas-jelas dia yang salah! Kenapa aku yang kamu bentak!"

"Kamu masih salahin Manda? Kamu gak sadar? Kamu yang dorong Manda sampai dia jatuh ke aspal!"

Sasa menggeleng kepalanya dengan kedua mata terus mengeluarkan air mata.

"Enggak! Aku gak pernah berbuat kaya gitu! Manda yang jatuh kan dirinya sendiri ke aspal!"

Restu mengeraskan rahangnya."Kamu gak punya otak! Gak mungkin Manda jatuhin dirinya ke aspal!"

Sasa sesenggukan mendengar kata-kata kasar dari mulut Restu.

Restu menghela nafasnya berat lalu pergi dari sana meninggalkan Sasa yang sedang menangis.

Lagi dan lagi, Restu selalu meninggalkan Sasa ketika menangis.

Apa salah nya?

Kenapa selalu dirinya yang di salah kan oleh Restu?

***

"Udah berapa kali sih gue bilang sama lo, Sa."

"Putusin Restu!"

Ara, teman Sasa sejak duduk di SMA kelas X. Kini kedua nya sedang ada di kelas yang sepi karena semua siswa-siswi pergi ke kantin untuk membeli makan dan minum.

Jam istirahat keduanya sedang ada di kelas, Sasa yang terus menangis dan terus menggalau.

Ara yang gregetan dengan Sasa yang lemah sebagai perempuan.

"Gak segampang pengucapan, Ra."Balas Sasa pelan.

"Ck, apa susah nya sih! Tinggal bilang, aku mau kita putus! Udah kan?" Ara menjelaskan cara memutusi pacar.

Sasa menggeleng kepalanya."Buat lo gampang, tapi buat gue itu sulit!"

"Ya elah! Kaya lagu aja! Begitu syulittt lupakan Restuuuu, apalagi Restu baik!!!"

Sasa menatap aneh temannya itu."Mirip intan lo!"

"Dih gak lah!" Tegas Ara membuat Sasa tertawa kecil.

Ara tersenyum lebar."Nah gitu dong!" Seru Ara membuat Sasa terkejut.

"Kenapa?"

"Lo ketawa, gue seneng kalo liat lo ketawa." Ucap Ara dan Sasa tersenyum kecil.

"Lah, Sa? Lo kok malah di sini?" Tanya Rangga yang tiba-tiba datang ke dalam kelas.

Kedua nya menoleh dan mengerutkan keningnya.

"Kenapa?" Tanya Sasa.

"Tadi gue liat Restu sama cewek, gue kira itu lo."

Sasa dan Ara saling menatap dan beralih menatap Rangga.

"Cewek? Siapa?"

Rangga menggeleng kepalanya."Gue gatau, Sa."

Sasa mengalihkan pandangannya ke arah lain, sebulir air mata kini jatuh.

"Thanks atas infonya." Ucap Ara dan Rangga mengangguk lalu pergi dari sana.

Ara mengelus punggung Sasa, Ara merasa kasihan dengan temannya itu selalu di sakiti oleh Restu.

Cowok itu tidak sadar dirinya telah melukai hati perempuan?

"Sa, mau gue bantu labrak gak?"

Sasa menggeleng kepalanya."Gak usah, biarin mereka puas."

"Dia puas, lo nangis."

"Gitu maksud lo, Sa?"

"Gue capek, Ra..." Lirih Sasa keras.

***

"Puas?"

"Maksudnya?" Tanya Restu saat dirinya melihat Sasa datang dari arah belakang.

"Puas sama cewek lain?"

"Cewek lain apa sih?" Restu terasa aneh dengan sikap Sasa.

"Gak usah pura-pura bego, kamu makan sama cewek kan tadi?"

Restu mengangguk kepalanya."Owh, iya. Kenapa?" Seraya menaikan alisnya sebelah.

Sasa menggeleng kepalanya tak percaya Restu tidak menyadari apa-apa.

"Masih tanya kenapa? Seharusnya kamu sadar! Aku itu lagi sakit hati gara-gara kamu, tapi kamu enak-enakan makan sama cewek lain."

"Pasti cewek itu Manda kan?"

Restu menghela nafasnya."Kalo iya, kenapa?"

"Disini yang bego aku atau kamu sih?" Tanya Sasa.

Restu tertawa kecil sembari mengalihkan pandangannya ke arah lain."Terserah."

"Aku capek, Res. Kamu giniin aku terus, kamu pikir ini gak sakit?" Sasa menjeda kan ucapannya.

"Sakit banget, Res." Lirih nya.

Restu menghela nafasnya."Aku minta maaf, udah nyakitin terus ke kamu."

Sasa menghapus air matanya dengan jemarinya dan menatap Restu dengan tatapan dalam."Kamu minta maaf habis itu kamu nyakitin aku lagi? Percuma, Res."

"Aku harus apa? Biar kamu bisa maafin aku dan gak nyakitin buat kamu."

"Jauhin Manda."

Manik mata Restu membulat sempurna mendengar itu.

"Kenapa kamu gak bisa?" Tanya Sasa sembari tertawa renyah.

Restu mengusap wajah nya dan menatap Sasa."Apapun buat kamu, aku bakal lakuin."

Sasa tersenyum kecil mendengar itu. Seenggaknya hati yang terluka saat ini bisa membaik sedikit demi sedikit.

***

Next?
Jangan lupa vote dan komen ya

impossible Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang