akhir dari pameran, mirah senang karya lukis yang di rajut oleh lentiknya tarian kuas pada kanvas mirah sampai secara emosional untuk para pengunjung, hanya saja hal yang indah akan di kenang gundah.
sosok samudera, pameran, serta hujan.
halte bus adalah titik mirah saat ini tunggu jemputan yang akan antar ia pulang dan memeluk ibu.
juluran jemari genggam matcha hangat, kesukaan mirah. lantas mirah balikan badan untuk menemukan jawaban, rupanya sang mantan.
samudera dengan gaya modisnya, busana warna cokelat mendominasi jangan lupakan tas kulit yang mirah yakin di penuhi jurnal dan alat tulis, dan permen. mirah masih ingat.
"tunggu bus, mir?"
"iya.."
"minum dulu, tadi kebetulan buy two get one free. dan, aku lihat kamu disini."
keduanya hanyut dalam melodi kasat mata angin malam, cahaya dari lampu jalan bantu rembulan ramaikan kegelapan, mirah dan samudera mencuri pandang. keduanya buru-buru alihkan pandangan, sebelum samudera menyelam terlalu jauh.
"mirah."
mirah itu pandai tebak hal dari luar nalar lawan bicaranya, terkadang benar, terkadang mirah menyesal telah menebak.
samudera merogoh tas kulit yang mirah duga penuh dengan lembaran kertas, mirah pikir itu surat cinta yang tidak pernah sampai di jemarinya, mungkin.
"hanya sebuah undangan untukmu, datang ya."
samudera dan sasikirana.
disini ialah pemberhentian mirah yang sebenarnya.
selesai
—
terimakasih banyak yang sudah singgah untuk baca ♡
YOU ARE READING
Impresi
Short Storypresensimu beri rekognisi lampau mengenai peristiwa atas kita parak menyesap rampung euforia. tahun 2022 oleh mellifluens.
