Satpam Kantor 1

94.8K 576 4
                                    

Liana merahasiakan kehamilannya dari siapapun, kecuali sang suami dan Heru pastinya. Sikapnya berubah semenjak hamil, tidak seperti kehamilan sebelumnya.

"Kamu sekarang jadi lebih manja," ucap Heru saat mereka sudah berada di rumah sewaan atau kos. "Kamu manja juga sama suami?"

Liana menggelengkan kepalanya "Aku hanya manja sama kamu, Mas. Anak ini tahu siapa ayahnya jadi hanya manja sama satu orang, apalagi kalau kontolmu itu masuk kedalam kayaknya anak ini bakal tenang."

"Alasan kamu aja itu." Heru mencubit hidung Liana pelan.

Mereka berbicara banyak hal, posisi mereka berbicara berada diatas ranjang tanpa sehelai benang ditubuh masing-masing. Heru sebenarnya mau minta lagi, tapi harus menahan diri karena Liana hamil anaknya.

"Kamu alasan apa sama suami?" tanya Heru penasaran.

"Mas alasan apa sama istri? Dua istri pula." Liana menatap selidik pada Heru.

"Aku cowok jadi gampang alasannya, kalau kamu?" tanya Heru penasaran.

"Suami dinas luar kota selama sekitar 3 bulan, jadi agak sedikit bebas. Aku sudah pernah bicara sama mas kalau nggak salah."

"Aku sudah tua pastinya lupa dan pikun." Heru memberikan alasan membuat Liana memutar bola matanya malas.

Flashback On
Heru yang bertugas malam harus merasakan kesepian, kondisi hujan membuat semuanya menjadi berantakan. Heru memiliki istri dua yang pastinya bisa memuaskannya, kalau bosan dengan pertama bisa datang ke yang lain. Kepuasannya ternyata tidak benar-benar maksimal, Heru menginginkan sesuatu yang lebih dalam mencapai klimaksnya.

"Pak Heru, yang jaga malam ini?" sapa Liana yang sepertinya baru dari warung depan.

"Ya, Neng." Heru menjawab sopan, hanya saja matanya fokus pada payudara Liana.

"Aku masuk dulu, Pak." Liana menganggukkan kepalanya untuk pamitan.

Isi kepala Heru saat ini adalah bagaimana membawa Liana masuk kedalam pesonanya, membuat Liana yang ketiga atau menjadi selingkuhannya. Heru sangat yakin jika vagina Liana bisa memuaskan penisnya dibandingkan kedua istrinya, Heru langsung membayangkan bagaimana rasanya Liana.

Heru mengamati kantor yang berada didalam, pegawai-pegawai sudah pada pulang dan tampaknya hanya Liana yang belum. Memilih untuk menutup dan mengunci pagar, Heru berjalan memasuki ruangan kantor mencoba melihat keadaan Liana.

"Belum pulang, Neng?" tanya Heru berjalan mendekat kearah Liana.

"Belum, Pak."

"Teman-temannya udah pada pulang, nanti nggak dicari suami?" Heru mencoba memancingnya.

"Akhir bulan sudah paham, Pak. Bapak kenapa ada disini?" Liana menatap sekilas pada Heru.

"Lihat keadaan dalam dan Neng Liana yang belum pulang." Heru menjelaskan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Heru menatap Liana yang sudah sedikit berantakan, tapi tidak dengan wajahnya masih terlihat menyegarkan. Heru membelai penisnya perlahan, membayangkan rasa penisnya didalam vagina Liana.

"Sudah selesai, Neng?" tanya Heru saat melihat Liana membereskan sesuatu.

"Subuh, aku pulang mungkin." Liana mengatakan tanpa menjawab pertanyaan Heru.

Heru angkat tangan dan memilih kembali ke posnya, tidak ada kejadian apapun dan di kantor hanya ada mereka berdua. Waktu berjalan cepat dan teman Heru sudah ada yang datang untuk menggantikan dirinya, dari jauh Heru melihat Liana dengan wajah lelahnya. Heru langsung berpamitan pada temannya, mengambil jam pulang awal dan mendatangi Liana yang akan berjalan keluar.

Short StoryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang