Perlahan, pintu cokelat besar itu terbuka dan sosok Rangga pun muncul. Kakinya berjalan mendekati sebuah meja kerja besar. Ia melihat kursi hitam itu membelakanginya dan kakinya pun berhenti melangkah.

"Sejak kapan Budi bebas?" tanya Rangga dengan sorot mata penuh geram.

"Beberapa hari yang lalu." Jawab seorang pria di balik kursi itu.

"Anda enggak takut kalau dia akan membocorkan rahasia kita? Kemarin saja dia sudah mendatangi Tata dan hampir memberitahu Tata. Dia terlalu berbahaya." Kata Rangga dengan tatapan tajam.

"Tenang aja. Kita memang sudah berjanji akan segera membebaskannya. Tapi, bukan berarti dia bisa terus hidup." Jawab pria itu tersenyum licik.

"Jadi, anda akan membunuhnya?"

"Ya, dan soal Tata—" pria itu menghentikan sebentar kalimatnya.

Rangga terus menunggu lanjutan kalimat yang tergantung di telinganya. Apalagi pria itu menyebutkan nama Tata dalam kalimatnya. Perlahan, pria itu membalikkan kursinya dan melihat ke arah Rangga.

"Mungkin ini saatnya kita beritahu dia yang sebenarnya." Lanjut pria itu santai.

Rangga sontak kaget mendengarnya.

"Apa?! Enggak! Aku enggak setuju! Sejak awal aku enggak pernah mau melibatkannya. Aku enggak setuju Hardi!" sergah Rangga menolak keras.

"Dia perlu tahu Rangga. Sebagai putri mereka, ia berhak tahu kebenarannya."

"Kenapa anda ingin sekali dia tahu?" Rangga masih menatap Hardi tajam.

"Karena kita—membutuhkannya." Jawab Hardi singkat.

Rangga langsung terperangah mendengar jawabannya.

"Enggak! Aku enggak mau melibatkannya dalam masalah ini! Selama ini, aku selalu menyembunyikannya dan sampai kapan pun aku enggak mau dia tahu apalagi terlibat!"

"Semakin lama kamu menyembunyikannya, akan semakin sakit untuk Tata saat mengetahuinya. Karena sebaik apapun kamu menyembunyikannya, ia pasti akan tahu suatu hari nanti." Ujar Hardi.

Rangga terkesiap.

"Tapi—" kalimat Rangga tak sempat selesai.

"Ini semua untuk Bastian dan Tamara. Lagipula, dengan begitu ia akan membenci Adrian seperti maumu. Dia akan segera melepas nama Bramantio itu dari namanya. Tenang saja, biar orang lain yang memberitahunya kalau kamu enggak mau." Kata Hardi yang terus bersikeras.

Rangga pun terdiam dan menunduk. Matanya terus terpejam dan tangannya mengepal kencang.

"Baiklah. Kalau memang itu yang terbaik." Ucap Rangga terakhir dan berbalik pergi.

Rangga masih belum terima jika Tata sampai mengetahui kebenarannya. Kebenaran yang ia simpan rapih selama ini dari adiknya. Kebenaran yang akan menyakiti Tata lebih dari apapun. Namun, kebencian di dalam hatinya terlalu besar. Kebencian yang selama ini selalu menusuk dadanya dan ia sembunyikan dari adiknya tercinta.

***

            Dalam ruang kerja di rumahnya, Adrian sedang menerima telepon. Wajahnya sangat serius dan tatapannya tajam. Sesekali tangannya memegang keningnya yang terus berkerut.

            "Jadi benar ada yang membayarnya? Menghilang? Maksudnya? Gimana bisa Budi hilang gitu aja?!" Adrian terus mengernyitkan keningnya.

"Oke. Sekecil apapun terus kabari." Ucap Adrian terakhir dan menutup teleponnya.

            Perlahan, pintu ruangan Adrian terbuka dan Tata pun melongokan kepalanya sambil cengar-cengir.

Taste of Revenge [III]Baca cerita ini secara GRATIS!