RANGGA'S EXPLANATION

Mulai dari awal

"Kakak juga enggak tahu. Nanti akan Kakak coba selidiki."

"Kakak harus hati-hati, ya. Takutnya dia punya niat jahat sama Kakak." Kata Tata yang terlihat cemas.

"Iya. Kamu tenang aja." Rangga tersenyum hangat.

"Dia juga bilang kalau ada seseorang yang menyuruhnya. Sebenernya siapa yang nyuruh dia? Apa Palais punya musuh?"

"Semua pembisnis pasti punya saingan dan terkadang persaingan itu membuat mereka buta. Seringkali mereka menggunakan kekerasan untuk menaklukan yang lain. Dunia bisnis itu keras, Ta. Karena itulah, Kakak enggak setuju kamu menikah dengan Adrian. Namun mendengar kamu hanya akan menikahinya selama 2 tahun, Kakak akhirnya setuju. Kakak pikir dengan begitu kamu bisa mencicipi sedikit gimana enaknya hidup jadi orang kaya seperti dulu. Tapi, Kakak enggak nyangka kamu akan benar-benar jatuh cinta pada Adrian. Kakak takut terjadi sesuatu padamu seperti waktu itu. Kakak udah pernah bilang ini kan sebelumnya sama kamu?" Ucap Rangga lirih.

Tata terdiam dan memegang tangan kakaknya.

"Kakak.. Tata udah dewasa sekarang. Lagipula, ada Adrian yang selalu ngejagain Tata. Jadi Kakak tenang aja, oke?" Tata coba meyakinkan kakaknya yang terlihat khawatir.

Rangga pun hanya menatap Tata dan menghela napasnya.

"Jadi, gimana hubungan kamu sama Adrian? Apa dia udah berani macem-macem?" tanya Rangga dengan mata yang serius melihat Tata di depannya.

Tata tersenyum kecil mendengar pertanyaan Rangga.

"Baik kok, Ka. Tata enggak pernah merasa dicintai sebesar ini. Dia mencintaiku dengan caranya dan aku menyukainya. Dia menjadikan aku ratu dalam hatinya dan aku menikmatinya." Tata tersenyum manis.

"Jadi, selama ini cinta Kakak belum cukup besar?" Rangga yang terlihat iri mendengar jawaban Tata.

"Yehh cinta Kakak sama Adrian kan beda.." Tata mulai tertawa kecil.

"Tapi cinta Kakak sama Adrian gedean mana kata kamu?"

"Kakak deh Kakak.. Da Adrian mah apa atuh dibandingin cinta Kakak. Puas mas?" jawab Tata yang cekikikan mendengar kakaknya yang tidak mau kalah dengan Adrian.

Rangga pun tersenyum menang.

"Kakak denger kamu baru liburan ke Eropa, mana oleh-olehnya? Jalan-jalan ga ngajak-ngajak!" Rangga memasang wajah cemberut.

"Hadeuh namanya juga bulan madu mas, bukan karya wisata. Ya keleus ajak Kakak, entar Kakak ngences lagi ngeliat aku ma Adrian. Makanya jangan jomblo mulu! Mau sampai kapan jadi perjaka tuaa??"

"Entar, kalo Galgadot udah cerai sama suaminya."

"Idihhh apa hubungannya? Ngarep banget! Ngimpi sih boleh, tapi jangan ketinggian mas!" cibir Tata.

Rangga pun tertawa dan menyumbat mulut Tata dengan satu sendok es krim yang besar.

"Biar nggak banyak comel lagi!" ucap Rangga dengan seringai lebar.

***

Malamnya, Tata baru pulang dan membuka pintu kamar perlahan. Ia melihat Adrian sedang menggosok-gosokkan rambutnya yang basah dengan handuk.

"Hei. Baru pulang?" sapa Adrian yang juga melihat Tata.

Adrian pun hanya dapat anggukan dan senyuman kecil dari istrinya.

"Ah iya! Maaf tadi enggak bilang apa-apa dulu waktu pergi." sesal Tata sambil meletakkan tasnya di atas meja rias.

Adrian pun berjalan mendekat dan memegang pipi Tata seperti mengecek wajahnya.

Taste of Revenge [III]Baca cerita ini secara GRATIS!