Hahah emang dasar penulis baru enggak nahan apdet :p tapi ganapelah mumpung libur haha yoweslah happy reading :) smoga suka dengan sekuel kedua TOTS ini hehe maaf kalo typo dan lainnya dan ditunggu vomentnyaa yaa gaiss ;)

***

Lobby hotel dengan nuansa putih dan abu itu terasa sangat sepi. Tak terdengar suara apapun di dalamnya. Hanya ada seorang wanita yang sedang berdiri mematung di depan sebuah pintu kamar. Mata wanita itu terus terpaku pada nomor pintu kamar di depannya. Ia mulai mengambil napas banyak dan menghembuskannya perlahan. Mencoba menenangkan dirinya yang tengah kebingungan.

Tok. Tok. Tok.

Akhirnya, setelah beberapa menit hanya berdiri terdiam, Tata pun mengetuk pintu kamar itu. Tak lama, gagang pintu terlihat bergoyang dan pintu pun mulai terbuka hingga sosok Rangga pun muncul perlahan dari balik pintu.

Wajah Rangga langsung terperangah melihat adiknya berdiri tepat di depannya. Matanya terus melotot tak percaya dan bibirnya membeku tak bisa berkata-kata sedangkan Tata terus menatap kedua mata kakaknya.

"Ta-Tata?" tanya Rangga terbata-bata.

"Kakak kenapa enggak bilang kalau pulang? Sejak kapan Kakak ada disini? Kenapa Kakak ada di hotel ini?"

Tata langsung melontarkan banyak pertanyaan pada Rangga yang masih terkejut. Selama beberapa detik, Rangga hanya terdiam seperti tidak bisa membuka mulutnya. Kemudian, ia mulai menunduk dan melihat ke beberapa arah. Sampai akhirnya satu sudut bibirnya terangkat dan begitu pun dengan kepalanya.

Rangga mengajak Tata untuk membicarakannya di tempat makan hotel. Mereka duduk berhadapan dan Tata masih terus menatap Rangga meminta jawaban. Wajahnya yang kebingungan kini benar-benar serius menatap kakaknya.

"Kakak ada urusan kerjaan disini. Kakak mau ngasih kamu surprise tapi kamu malah udah tahu duluan Kakak pulang. Kamu tahu darimana?" tanya Rangga yang terlihat sangat ingin tahu.

"Ada seseorang yang bilang. Dia bilang, dia kenal Ayah karena dulu bekerja untuknya. Dia dulu manager di Palais, tapi dipecat karena membocorkan informasi."

"Pak Budi? Sedikit botak di tengah dan pake kacamata?"

"Iya. Kakak kenal orang itu?"

"Dia dulu sempat menjabat jadi manager di Palais Singapura sebelum dipindahkan ke Jakarta. Kakak pernah bertemu dengannya sesekali. Sebatas itu. Apa aja yang dia bilang ke kamu?" tanya Rangga dengan tatapan serius.

"Dia bilang Tata-berkhianat. Dia bilang dengan menjadi bagian dari keluarga Bramantio, Tata mengkhianati Ayah. Maksudnya apa Ka? Tata sama sekali enggak ngerti. Dia nyuruh aku buat tanya jawabannya ke Kakak."

Tata terlihat kebingungan dan tatapannya penuh tanya. Seketika, Rangga memalingkan mukanya melihat ke samping. Wajah Rangga terlihat agak kesal. Sinar matanya lebih tajam. Ia pun memejamkan matanya dan terlihat berpikir.

"Dulu, Palais dengan Reece-hotel Ayah-selalu bersaing. Sebelum bekerja di Palais, dia juga sempat bekerja di Reece. Mungkin karena itu dia pikir kamu sama saja mengkhianati Ayah dengan menikahi anak dari Adi Bramantio." Rangga mencoba untuk menjelaskan.

"Cuma karena itu? Tapi, dia juga kan bekerja untuk Palais, bukannya berarti dia juga berkhianat kalau gitu?" tanya Tata yang masih belum mengerti.

"Dia emang udah tua. Dulu aja umurnya udah 40 lebih. Jadi jangan terlalu dihiraukan. Dia mungkin agak stres setelah keluar dari penjara."

"Tapi dia tahu dari mana soal alamat Kakak disini?"

Taste of Revenge [III]Baca cerita ini secara GRATIS!