Blue POV

Aku memandangi Harry di sampingku, wajahnya pucat dan bingung. Apa yang Ia rasakan sekarang pernah kurasa ketika aku dikirim kemari, rasa kesal dan benci. Anne masih terpaku pada tempatnya sembari menunggu respon dari Harry, Ayahku hanya diam saja berdiri dibelakang istrinya.

"Sebaiknya kita bicara di dalam saja," Ajakku. "Kalian pasti sangat lelah. Biar kubuatkan teh, oke?"

Harry mencegat tanganku tiba-tiba sebelum aku sempat melangkahkan kaki.

"Aku menyukai Blue.Jangan pisahkan aku dengan dia.'

Segera kuputar tubuhku menghadapnya terkejut. Ya Tuhan lelaki ini benar mengatakan itu di depan Ibunya serta Ayahku? Gadis dalam batinku sedang menjerit gila, apa yang sedang Ia lakukan?

Raut mukanya jelas serius memandang kedua mata Anne. Ayahku seperti hendak meledak mendengar kalimat tersebut. Sama halnya denganku. Tak kusangka bahwa Harry akan senekat ini.

"Apa maksudmu?"

"Harry Styles. Apa yang kau bicarakan?" Tanya Anne yang bingung. Dia sedikit menaruh nada bercanda pada kalimatnya, aku tahu menggelikan sekali. "Kau suka dengan Blue?"

Perlu beberapa menit sebelum Ayahku mendaratkan tamparan keras pada pipi kanan Harry. Mata Anne intens mengamatiku-jijik. Apa ini? Apa sekarang dia menganggapku penggoda? "Ayah!" Jeritku tak percaya dia menyakiti Harry.

"Aku tak pernah mendidikmu untuk menaruh hati pada saudara tirimu, Harry Styles!"

"Sejak kapan kau pernah mengajariku? Sejak kapan, Bu? Kau bahkan tak sedetik pun perduli terhadap kehidupanku! Apa yang kau ketahui tentangku, Bu?! Apa kau tahu bahwa selama ini aku sering bergonti-ganti gadis setiap malam? Apa kau tahu bahwa aku memiliki banyak gadis? Apa kau pernah peduli setiap aku menceritakan gadis yang kusukai sejak SMA dan Ansel merebutnya?! Yang kutahu kau selalu berkata kalau Ansel mungkin hanya bercanda, atau Edward. Kemudian Edward lagi. Dan Edward lagi."

Air mukanya menggambarkan amarah dalam dirinya yang bergejolak. Sama seperti api yang tertiup oleh angin. Apa yang dapat kulakukan sekarang hanyalah diam mematung disebelah Harry. Merasa setiap pedih yang dia rasakan. Tak dipedulikan. Tak dianggap. Dia mengingatkanku pada kisah gadis kecil bersama Ibunya di tengah malam dingin Amerika, tanpa rumah, tanpa ayah atau suami sebagai penghangat.

"Blunada, segeralah kau kemasi barang-barangmu. Kau akan pindah dari sini." Ayahku memberi instruksi. Aku masih tidak percaya setelah semua yang Ia lakukan padaku Aku masih bisa menuruti perintahnya. "Kau bisa menghabiskan sisa liburanmu di apartemenku."

"Tunggu! Apa yang kau lakukan? Dia tak bersalah atas semua kegilaan ini. Ini salahku dan mengapa Blue yang harus pergi?" Harry bertanya dengan menggebu-gebu. Matanya melebar menatap ayahku.

"Harry sudah cukup. Sudah cukup. Apa yang kau rasakan adalah kesalahan besar." Potong Anne, "Apakah selama ini kalian menjalani hubungan dibelakang kami?"

Aku tak tahu untuk siapa pertanyaan iti diajukan, namun matanya tampak memandang ke arahku, itu artinya Anne mungkin bertanya kepadaku.

"Tidak, Bu. Aku dan Blue tidak menjalani hubungan apa-apa. Dia tak menyukaiku. Sudah selesai dan biarkan dia tetap tinggal disini!"

"Aku ingin ke Amerika." "Tidak. Kau tetap akan tinggal disini selama liburan musim panas," Harry membalasku. "aku tak peduli jika kau harus benci kepadaku karena selalu menahanmu, tapi kumohon jangan pergi."

Gadis dalam batinku merengek bingung. Ia merasa dirinya bak seorang putri yang teramat cantik sehingga Harry tak ingin meninggalkannya, menjijikkan sekali. Aku benci ini. Disatu sisi harus ku akui bahwa Harry memiliki sesuatu yang berbeda. Mungkin itulah alasan para gadis jatuh padanya. Ada sesuatu yang membuat mereka melayang tinggi oleh kata manis dari Harry.

The Triplets // harry stylesBaca cerita ini secara GRATIS!