Season 1. Sudah terbit dan tersedia di Gramedia. Versi wattpad dan Novel berbeda. Di novel diceritakan 75% sedangkan versi wattpad cuma 25%.
Semua orang tau Bandung, begitu juga keindahannya. Tapi semua orang belum tentu tau jika Bandung menyimpan l...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Jika Mata adalah Cahaya, maka hati adalah permata. Jika senyum adalah ibadah, maka mengenalmu adalah Anugerah terindah Biru Erlangga Mahaputra." 🍁🍁🍁
BANDUNG TAHUN 2017
Biru selalu mengenakan seragam sekolah yang lusuh. Setiap hari, dia menjadi sasaran bully dari Januarta dan teman-temannya. Mereka tak hanya mengejek, tapi juga melayangkan pukulan dan tendangan yang membuat Biru meringis kesakitan. Tak ada yang tahu bagaimana rasanya menjadi Biru — hidup dalam bayang-bayang ketakutan setiap hari, tanpa pernah punya kesempatan untuk merasa aman.
"Sakit?" Kaki Januarta menekan punggung Biru hingga seragamnya penuh dengan debu dan lumpur.
"Lo nggak capek bully gue terus?!" teriak Biru dengan suara yang bergetar.
Tapi tak ada jawaban. Tanpa aba-aba, Mario melayangkan tendangan keras ke pinggang dan perut Biru. Napasnya terputus-putus, dadanya terasa sesak. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya. Tendangan demi tendangan terus mendarat, tanpa belas kasihan. Biru terbatuk-batuk, dan darah kental akhirnya mengalir dari bibirnya. Rasa sakit itu begitu menusuk—seakan hidupnya di ambang batas.
"Nggak! Gue seneng lihat lo menderita," jawab Januarta dengan senyum penuh kemenangan.
Biru hanya bisa menangis, tubuhnya tersungkur di tanah belakang sekolah. Januarta, Mario, dan Sagara berlalu, suara tawa mereka masih menggema, puas melihat penderitaan Biru.
Air mata terus mengalir di pipinya. Dengan suara lirih, Biru berbisik, "Biru capek, Tuhan. Kenapa mereka selalu bully Biru? Nggak cuma sekali atau dua kali, tapi berkali-kali. Apa Biru memang pantas diperlakukan seperti ini?"
Mengapa takdirnya semenyakitkan ini?
Aku ingat kalimat Biru beberapa tahun setelah kelulusan SMA. "Tindakan bullying bisa membekas seumur hidup bagi mereka yang mengalaminya, bahkan seorang pembully adalah pembunuh bagi korbannya. Mereka tidak membunuh fisik korban melainkan telah membunuh mentalnya."
☔🌧️
Bandung, kamu harus tahu, aku menyukai salah satu pendudukmu. Rasa ini sudah kupendam sejak lama. Aku masih ingat saat MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah), dia begitu mencolok di antara ratusan siswa lainnya. Di tengah keramaian, hanya sosoknya yang menarik perhatianku. Namanya Biru — satu-satunya orang yang membuatku merasakan debar pertama dalam hidupku.
Aku hanya tahu nama panggilannya, tak pernah tahu nama lengkapnya. Namun itu tak menghalangiku untuk terus memperhatikannya. Sering kali, aku diam-diam mengintip dari balik rak, melihatnya tenggelam dalam buku-buku di perpustakaan, sendirian. Dan di setiap momen itu, perasaanku semakin tumbuh, meski hanya dalam diam.