1

34 16 33
                                    

Happy Reading

.
.
.

Dayana baru saja bangun dari tidurnya, dan pagi itu ia bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena keinginan dia, lebih tepatnya wanita yang sebentar lagi berusia dua puluh lima tahun itu kesulitan untuk tidur sejak kemarin hari, dikarenakan hari itu adalah hari pernikahannya dengan Kaivan, lelaki yang telah melamar dirinya dua bulan yang lalu. Ya, Dayana kini akan menikah dan sebentar lagi akan menyandang status sebagai istri dari seorang lelaki yang begitu memuja dan sangat mencintai dirinya.

Setelah beberapa tahun bersedih hati akibat cintanya yang tak terbalaskan dan pengkhianatan dari sahabatnya yang ternyata diam-diam menjalin hubungan asmara dengan pujaan hatinya, kini Dayana sudah tidak lagi mengingat hal itu dan benar-benar melupakan semuanya. Karena ia kini akan sepenuhnya menyerahkan diri dan hidupnya pada lelaki yang selama dirinya terpuruk, selalu ada untuknya dan telah menjadi sumber kekuatannya untuk bangkit dari keterpurukan yang hampir membuat dirinya lupa pada dirinya sendiri.

Masih ada rasa tidak percaya di hati Dayana kalau hari itu dirinya akan bersanding dengan lelaki yang sudah memenuhi hatinya sejak dua bulan yang lalu. Bukan karena lamaran dari Kaivan yang begitu tiba-tiba, namun dalam waktu dua bulan itu, Kaivan semakin menunjukkan keseriusan pada Dayana dan terus meyakinkan wanita itu kalau Kaivan tak akan pernah mengkhianati dia. Karena itulah, setelah memantapkan diri dan berdoa kepada Tuhan untuk mendapatkan keteguhan hati, Dayana pun akhirnya menerima lamaran dari Kaivan, tepat satu minggu setelah lelaki itu mengutarakan perasaan dan keinginannya pada Dayana.

"Dayana?! Sudah bangun, Nak?! Ayo siap-siap! Jangan sampai terlambat!"

Itu suara Bunda Dayana. Wanita paruh baya itu sangat gembira ketika mengetahui kalau anak gadisnya itu telah di lamar oleh seseorang dan akan segera menikah. Karena sang ibu tau bagaimana Dayana menghabiskan waktunya selama beberapa tahun terakhir hanya berdiam diri seperti orang yang kehilangan semangat hidup. Dan bunda Dayana sangat bersyukur karena lelaki yang meminang putrinya adalah orang yang begitu ia kenal baik.

"Iya, Bunda! Aku sedang siap-siap!"

Ekspresi di wajah Dayana terlihat datar dan biasa saja, namun tidak dengan jantungnya. Wanita itu merasa kalau jantungnya berdetak terlalu cepat, seperti sedang lari maraton keliling dunia. Jangan lupa keringat dingin yang mulai mengucur dari pelipisnya. Dayana bahkan sudah mencoba mendengar musik untuk mengurangi rasa gugupnya, namun hal itu tidak berhasil. Dirinya malah semakin dibuat tak karuan saat bayangan dirinya berada di pelaminan bersama Kaivan sukses membuat wajahnya menampakkan semburat merah.

"Ay? Kamu demam? Kenapa wajah kamu memerah?"

"Rin, aku..."

"Hayoo, kamu lagi mikirin apa sampai wajah kamu merona kayak gitu? Mikirin calon suami kamu, ya?"

"Ish! Arin!"

Arin - sahabat Dayana sejak SMP - terkekeh geli melihat ekspresi Dayana yang begitu lucu baginya. Ia begitu paham dengan apa yang dirasakan Dayana saat itu, karena Arin sudah melewatinya. Sedikit cerita, Arin sudah menikah dengan seorang lelaki yang ia cintai dan juga mencintai dirinya. Bahkan Arin sudah memiliki seorang anak laki-laki berusia tiga tahun dan kini sedang mengandung anak keduanya.

"Rin, apa ini semua benar? Apa aku batalkan aja semuanya?"

"Ay, kamu kalau ngomong mikir dulu, bisa? Dikira pesan ojek mau dibatalin seenaknya."

Goresan Rindu [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang