Part 20

966 59 3

Pesawat sudah landing di San Francisco, Amerika. Aku turun dari pesawat dan menuju ruang transit bersama dengan penumpang lain yang akan melanjutkan perjalanan lagi. Sebenarnya jarak dari San Francisco ke Los Angeles hanya 1 jam, dan waktu transit 4 jam. Aku hanya membuang buang waktu untuk menunggu. Selagi menunggu, aku mencari tempat kopi, dan Starbucks lah pilihannya. Aku memesan dan mencari tempat duduk. Aku mengambil telepon genggamku, mengaktifkan wifi dan memberi kabar kepada Ibu, Ayah, dan Kakak-Kakakku serta Staci, dan mengatakan bahwa; aku akan sedang dalam perjalanan menuju Los Angeles dan setelah itu pulang ke Oklahoma.

Disaat aku sedang membalas pesan dari Alexa, seseorang memanggil namaku. "Greyson, kau kah itu?"

Aku menoleh, dan Chloe Grace Moretz berada di depanku.

"Oh my God. Aku tak menyangka akan bertemu denganmu disini. Kau mau kemana?"

"Aku mau ke Los Angeles"

"Kau mau ke Los Angeles menggunakan pesawat? Dari San Fransisco?", tawanya. "Sudah bingung mau menghabiskan uang untuk apa?"

"Sebetulnya, aku habis dari Singapore, dan transit disini selama 4 jam"

"Oh aku tahu. Kau habis pulang dari Tour kan? Dimana kru-mu? Managermu?"

Aku tertawa. "Mereka sudah pulang duluan. Aku ke Singapore sendiri, ada urusan beberapa hari. Kau sendiri bagaimana?"

"Aku baru pulang juga dari London", katanya. "Untuk berlibur"

"Tumben tidak menggunakan jet"

Chloe tertawa dan dia duduk di depanku. "Aku tidak akan menyewa jet jika tidak ada hubungannya dengan pekerjaanku. Lagipula, aku juga akan ke Los Angeles menggunakan jalur darat. Jika kau mau, kau bisa ikut denganku. Lebih cepat dibandingkan harus menunggu 4 jam disini. Bagaimana?"

Chloe ada benarnya juga. Lagipula aku tak membawa barang apapun, hanya tas ransel yang ada dipunggungku. "Aku terima tawaranmu"

Chloe tersenyum. "Kalau begitu kau yang menyetir"

"Menyetir?"

"Kenapa? Aku menyewa mobil tanpa supir"

"Jadi kau mengajakku karena kau tidak mau menyetir sendirian?"

"Kurang lebihnya begitu, dan juga tidak ada teman mengobrol selama diperjalanan"

Aku mendengus. "Dimana mobilnya?"

"Di parkiran. Lebih baik kita kesana dan segera pergi jika kau tidak mau bertemu dengan paparazzi". Chloe berjalan perlahan menuju pintu. "Kalau aku sedang tidak mau. Kau?"

"Paparazzi di jam 1 pagi? Mana mungkin"

"Mungkin saja. Mereka tidak mengenal waktu"

Aku menggendong kembali ransel dipundak kiriku selagi memegang cup Starbucks dan telepon genggam di tangan kananku.

Aku dan Chloe berjalan cepat karena banyak orang melihat kami. Seperti yang aku katakan bahwa masih  jam 1 pagi tapi ada beberapa remaja yang mulai merekam kami. Pasti akan ada tentangku dan Chloe. Aku menunduk dan begitupun juga Chloe. "Cepat Greyson"

Aku mengikuti Chloe menuju parkiran. Untung saja, mobil sewaan Chloe sudah siap. Jadi kami berdua langsung masuk dan tancap gas. Meninggalkan gadis gadis itu. "That was insane. How come?"

Chloe tertawa selagi dia memasang seat belt-nya. "I told you. Kau siap dengan berita yang akan tersebar nanti?"

"No", kataku singkat. "Mereka pasti akan mengarang cerita tentang ini"

"Jadi kau tidak menyukai berita tentang kau dan aku?", kata Chloe pelan. "Maksudku ... "

"Semua ada konsekuensinya kan? Lagipula selama tidak ada apapun tak ada hal apapun antara kau dan aku, we're friend"

"Fansmu dan fansku menyetujui kedekatan kita. Apakah kau tidak ingin menjadikan ini official?"

Aku menyetir mobil jadi tidak konsen. Chloe menganggap ini terlalu jauh sementara aku hanya biasa saja. Aku tak mau menatap wajahnya, itu sangat berbahaya ditambah lagi topik yang sedang dibicarakan adalah mengenai perasaan seseorang. "Chloe, maksudku tidak begitu. Kau tahu kan, aku hanya menganggapmu teman"

"Greyson, aku tahu. Tapi apakah kau tidak mau membuka sedikit saja hatimu untukku?"

"Aku tidak sedang memikirkan soal itu, Chloe"

"Aku bisa membantumu semakin dikenal banyak orang. Jika kau berpacaran denganku"

"Terimakasih", ujarku lembut. "Tapi aku ingin melakukannya sendiri dengan hasil kerja kerasku bukan karena popularitas seseorang"

"Harus berapa kali aku bicara tentang ini dengan kau". Chloe diam, fokus pada jalanan tol yang sepi. Hanya ada lampu mobil yang menerangi. Sisi kanan dan kiri gelap. Lalu Chloe kembali berbicara. "Aku ke London untuk bertemu Brooklyn"

Aku tahu Brooklyn, anak dari pesepak bola terkenal, David Beckham. "Lalu?"

"Aku menemaninya catwalk disana, lalu hangout, shopping, dan bertemu dengan ayahnya di studio foto"

"Kau dekat dengannya?"

Chloe diam seperti memilih jawaban yang tepat. "Aku ragu"

"Ragu?"

"Aku menyukai seseorang"

Aku tahu maksud seseorang itu adalah aku. Tapi aku tidak akan mengatakan itu padanya. "Jika ada seseorang yang menyukaimu, menginginkanmu, seharusnya kau pilihlah dia. Bukan seseorang yang tidak pernah jelas kepastiannya"

"Jadi kau tidak jelas?"

Benar kan, seseorang itu adalah aku. "Bukan begitu, sudah aku katakan padamu kalau aku sedang tidak ingin menjalin percintaan dengan siapapun"

"Kapan Greyson?"

"Aku tidak tahu", ujarku pelan. Aku tidak ingin terdengar seperti membesarkan suaraku. "Maafkan aku Chloe"

Chloe diam. Dia menyandarkan kepalanya di kaca mobil. Aku kembali fokus pada jalan. Aku melihat jam tanganku, sudah berapa lama aku mengobrol dengan Chloe.

10 menit. Apa? Tidak mungkin. Jam ini kemungkinan baterainya habis. Perasaanku sudah sangat lama aku meninggalkan bandara, dan ternyata baru 10 menit? Semoga saja Chloe tertidur, agar dia tidak menghujaniku dengan pertanyaannya yang menyangkut tentang perasaan hatinya padaku. Aku sungguh tidak enak hati dengannya. Aku belum pernah menolak seseorang, walau faktanya aku belum bisa memutuskan pilihanku.

[ BOOK 1 ] - D I V E | Greyson ChanceRead this story for FREE!