Part 19

959 53 3

Greyson menoleh. Dia melihatku. Dia melambaikan tangan padaku, dan berbicara setengah berteriak. "See you later, Merri"

"Greyson, wait!!". Aku berjalan ke depan, menerobos banyak orang yang sedang mengantri. Greyson masih menungguku, dan kami terhalang oleh batas pengantar.

"Merri, apa yang kau lakukan disini?"

"Greyson, kenapa kau pulang?"

"Aku memang harus pulang, Merri". Seorang pramugari berbicara dengan Greyson untuk segera masuk karena pesawat akan segera take off. "Aku harus pergi"

Aku sebenarnya tidak ingin dia pergi. Tapi dia harus pergi. Jadi aku merelakannya pergi. "But ... "

"See you later, Merri". Greyson masuk ke dalam pesawat diikuti pramugari disampingnya. Aku melihatnya terus sampai dia hilang di balik pintu pesawat yang tengah ditutup.

---

Aku duduk di pinggir jalan. Diam. Sebuah pesawat melintas di atas, mungkin saja itu Greyson. "Bye Greyson", ujarku setengah berteriak, membuat beberapa orang yang melihatku. Aku terus melakukan itu, mengucapkan selamat tinggal pada Greyson di setiap ada pesawat yang melintas.

Lalu seseorang mengangkatku. "Kak Merri, what are you doing here?"

"Hello Sarah"

"Are you crazy?"

"I'm not". Lalu pesawat kembali melintas di atasku. "Bye Greyson"

"Let's go home"

---

Sesampainya di apartement, aku duduk diam di lantai sambil melihat bouquet mawar yang diberikan Greyson semalam. Aku mengambilnya dan menciumnya. Aku ingat secara detail momen dimana Greyson memberikan bunga ini untukku. Padahal baru kemarin malam aku begitu merasakan hidupku kembali terisi, namun sekarang hidupku kembali kosong.

"Hey?". Sarah duduk di sampingku. "Are you okay?"

"I don't know"

"Kau tak bertemu dengannya?"

"Sebentar lalu dia pergi". Aku masih memegang bouquet bunga itu, dan pundakku masih tersampirkan jas milik Greyson. "What's going on with me?"

"You love him?"

"I don't know"

"Kau harus kembali ke Finlandia, kak"

"Sarah, aku ingin ke Los Angeles"

Sarah memegang tangan kiriku. "Hillarian sudah dalam perjalanan kesini, dia sendiri yang akan menjemputmu"

"Tapi aku tidak mau"

"Aku tahu kak. Tapi waktumu sudah habis"

. greyson .

Pesawat sudah meninggalkan Changi Airport.

Selamat tinggal, Merri.

Aku tidak tahu kapan akan bertemu dengannya lagi setelah ini. Atau mungkin tidak akan bertemu dengannya lagi. Punya nomor teleponnya tidak bagaimana bisa aku berkomunikasi dengannya. Hanya Sarah, itu saja aku tidak yakin apakah dia akan menyimpan atau menghapus nomorku.

Semalam aku tidak bisa tidur, gelisah entah karena apa ditambah lagi jadwal penerbangan pesawatku jam 10.45, dan aku sudah harus berada di bandara dua jam sebelumnya. Jadi lebih baik aku tidur untuk mengistirahatkan pikiranku yang selalu dibayang-bayangi oleh Merri.

--

Aku terbangun dan langit sudah gelap. Aku lihat jam di pergelangan tanganku.

18.00

Aku tidur lumayan lama. Beruntungnya saat aku bangun, para pramugari tengah membagikan makan malam. Kebetulan sekali, aku lapar. Aku bukanlah tipe orang yang suka makan masakan pesawat karena perutku sangat sensitif jika makan dengan keadaan sedang berada di udara. Aku bisa jadi muntah. Tapi karena aku lapar. Kepalaku pusing dan aku setengah mual jadi aku harus makan. Setidaknya sedikit. Pramugari membagikan makanan untukku. Kelihatannya enak. Jadi aku mulai makan.

Setelah makan aku kembali diam. Aku tidak memiliki teman dalam perjalanan ini. Bangku sebelahku kosong. Tak ada yang bisa diajak mengobrol. Waktu tempuh tinggal 6 jam lagi sebelum pesawat transit di San Fransisco. Aku mendengarkan lagu yang berada di playlist Spotify - ku sambil membaca majalah pesawat tentang automotif.

Sebuah berita tertulis: Bersabarlah! Karena sebentar lagi Finlandia akan merilis mobil sport yang canggih.

Jujur saja, aku kembali teringat Merri. Mendengar sedikitpun tentang Finlandia pasti nama Merri langsung berada di otakku. Dan jujur saja, aku masih sangat penasaran apa hubungannya Merri dan Finlandia?

Aku membaca artikel itu. Disana tertulis bahwa ... perilisan mobil sport itu akan dihadiri oleh anak tunggal pemilik perusahan automotif terbesar di Finlandia. Kemunculan anak tunggal pemilik perusahaan itu sudah lama dinantikan seluruh masyarakat Finlandia dan seluruh masyarakat dunia, dan kemunculan ini digadang-gadang sebagai pemberian tahta kuasa dari Ma'am Ellyana Highmore kepada anaknya itu.

Aku tak pernah merasa tertarik dengan berita karena memang aku tidak ada waktu untuk membacanya atau menontonnya. Tapi rasa penasaranku inilah yang membuatnya menarik, tak lain dan tak bukan karena Merri. Perasaanku seperti mengatakan berita ini punya hubungan dengan pekerjaan Merri yang dia katakan harus selalu di kontrol dalam beberapa bulan ini. Berita mengenai mobil sport buatan Finlandia ini adalah berita yang sedang ramai diperbincangkan dimana-mana. Mungkinkah itu?

Aku membawa majalah itu ke kamar mandi. Aku juga bukan tipe yang sudah baca buku kalau sedang pup tapi kebanyakan orang mengatakan kalo inspirasi berasal saat kita sedang pup. Jadi aku mencobanya. Kenapa tidak?

Aku kembali membaca artikel itu dan menemukan sepenggal kalimat yang membuat mengedan ... anak dari Ma'am Ellyana Highmore dikabarkan sedang berada di Singapore untuk bekerja sama dengan perusahaan besi terbesar di Singapore.

Singapore?

Aku baru saja berada di Singapore. Merri-pun juga berada di Singapore. Kenapa aku tidak membaca artikel ini selama ada di Singapore?

Aku menekan tombol air di toilet dan keluar. Perutku memang tidak bisa diajak untul bekerjasama di dalam waktu waktu seperti ini.

[ BOOK 1 ] - D I V E | Greyson ChanceRead this story for FREE!