Part 18

1K 57 8

. greyson .

Sesungguhnya aku ingin sekali mencium Merri. Tapi aku bendung keinginanku karena aku tidak mau semakin membuat perasaannya dan juga perasaanku kacau. Aku di Singapore hanya untuk membantunya, membantu semangatnya bangkit lagi setelah apa yang Harness lakukan padanya. Aku mengikuti apa yang Sarah inginkan, dan semuanya berjalan sangat sempurna. Aku juga mendapatkan apa yang aku inginkan sejak perginya Merri di malam itu, yaitu sebuah jawaban. Lalu sekarang, aku begitu tak tahu arah harus kemana. Perasaanku pada Merri hanya sebagai seorang promotor dan clientnya saja tapi show ku sudah selesai, dan sekarang apa yang akan terjadi selanjutnya? Aku pun belum bisa memutuskannya.

Aku menyetir mobil dalam diam. Merri bersandar di kursi penumpang sambil menghadap jendela. Aku tak mau berlama-lama di Singapore. Semakin lama aku disini, semakin membuatku tak bisa berfikir apapun. Aku mungkin bisa saja mengatakan pada Merri bahwa aku menginginkan sesuatu yang lebih, tapi tidak sekarang. Hatinya masih hancur karena Harness. Pikirannya masih tak bisa menentukan untuk sebuah jawaban. Aku hanya sia sia. "Hey"

Merri tak menjawab.

"Hey". Aku elus pundaknya. Tak ada jawaban. Aku putuskan dia mungkin saja tertidur. "Aku tahu ini gila karena kau sedang tidur dan aku berbicara padamu. Tapi Merri, aku ingin mengetahui dirimu lebih dalam. Aku ingin mengenal dirimu, bukan sebagai promotorku. Aku ingin mengenal dirimu sebagai seutuhnya kau. Would you?

Tak ada jawaban. Lalu aku tertawa sendirian. "Right, dia tertidur Greyson"

Mobil sudah memasuki Lobby apartement. "Hey Merri"

Tak ada jawaban juga.

"Kau tidur nyenyak sekali yah. Baiklah kalau begitu, akan aku antarkan kau ke kamarmu"

Aku membuka pintu mobil dan setengah berlari menuju pintu penumpang depan. Membukanya dan mulai menggendong Merri masuk ke dalam apartement. Aku berhenti. "Jadi di kamar nomor berapa kau tinggal"

Aku menidurkannya di kursi lobby selagi aku menelepon Sarah. Saat itu sudah jam 12 malam. "Come on Sarah, pick up the phone"

Sarah mengangkatnya di dering ketiga. "Greyson"

"Hey, nomor berapa kamarmu?"

"505"

"I'm on my way". Aku putuskan sambungannya dan mulai menggendong Merri lagi. "Ayo Merri, its time to go bed"

Aku menekan tombol lift naik, dan menekan angka nomor 5 itu berarti ke lantai 5. Lift berdenting dan lucky me, apartement ini ternyata hanya memiliki satu kamar di setiap lantainya. Sarah berada di luar pintu kamarnya, dan kaget melihatku menggendong Merri. "Apa dia baik baik saja?"

"Dia hanya tertidur"

"Oh syukurlah". Sarah membuka pintu kamarnya. "Masuklah Greyson"

Kamar apartement Sarah dan Merri betul betul mewah sekali. Besar, luas, dan bernuansa putih. Ada tiga kamar tidur di dalam kamar apartementnya. Sarah membuka salah satu pintu kamar tidur. "Letakkan Kak Merri disana"

Aku menurut. Aku meletakkan Merri pelan pelan agar dia tak terbangun. Aku tarik selimut hingga menutupi dadanya, dan aku menatapnya yang sedang terlelap.

"Terimakasih Greyson karena sudah mengantarkan Kak Merri pulang"

"Itulah perjanjian awalnya bukan", kataku. "Aku tak bisa lama-lama di Singapore"

"Jadi -- "

Seraya tahu apa yang akan dikatakan Sarah. "Ya, aku akan pulang ke Los Angeles besok siang. Lagipula aku rasa sudah cukup membantu Merri"

"Benar", kata Sarah. "Terimakasih sekali lagi Greyson"

"Yep". Aku keluar kamar diikuti Sarah dibelakangnya yang menutup pintu kamar Merri. Kemudian aku berjalan ke luar pintu kamar apartement mereka. Sebelum memencet tombol turun, aku berkata, "kau bilang padaku kalau Merri suka bunga Lily. Tapi ternyata, dia suka bunga Mawar"

Sarah menghembuskan nafasnya. "Aku hanya bercanda saat itu"

Aku memencet tombol turun. "Tak apa Sarah. Kalau bukan berkat kau, aku tak mungkin ada disini"

Lift berdenting dan aku masuk ke dalam. "Ucapkan salamku untuk Merri jika dia sudah bangun"

"Pasti Greyson"

"See you later, Sarah". Pintu tertutup dan lift turun kebawah.

Sesampainya di lobby aku masuk ke dalam mobil dan mulai berkendara pulang menuju hotel, aku alihkan pandanganku ke atas apartement Merri. Entah dimana kamarnya jika dilihat dari bawah sini, tapi aku tahu bahwa Merri sedang tertidur lelap di kamarnya. "Goodbye, Merri"

. merri .

Tanganku meraba raba samping kanan kiriku. Aku merasakan kelembutan di sarafku. Aku membuka mataku dan yang aku lihat adalah langit langit kamar tidur. Aku terbangun. Aku berada di kamarku. Aku segera turun dari tempat tidur dan mencari Sarah. "Sarah?"

"Here". Sarah berada di dapur sedang membuat pancake. "Selamat pagi, kak. Tidurmu nyenyak?"

"Bagaimana aku bisa berada di kasur?"

"Greyson membawamu", ujar Sarah selagi menaruh satu persatu pancake di atas meja. "Kau tidur lelap sekali jadi mau tidak mau dia yang menggendongmu"

"Greyson menggendongku?"

"Yeah"

Aku memperhatikan Sarah yang sedang mempersiapkan sirup maple untuk di siram diatas pancake. "Jadi sekarang dimana dia?"

"Pulang, tentu saja"

"Pulang?", tanyaku. "Kemana?"

"Pulang ke Los Angeles"

Aku seketika diam. "Ka-kau seriuss? Darimana kau tahu?"

"Dia sendiri yang mengatakannya semalam"

"I need to meet him"

Secepatnya aku keluar kamar dan memencet tombol ke bawah. Sarah menyusulku. "Kak, kau tak akan bisa menyusulnya"

"I don't care. Dia tidak mengucapkan selamat tinggal padaku"

"Kak ... "

"Sarah, please. I need to meet him"

Sarah mundur dan membiarkanku memasuki lift. "Be careful"

Pintu lift tertutup dan membawaku ke lobby. Sesampainya di lobby aku langsung berlari ke pinggir jalan dan memanggil taksi. "Airport"

Semoga saja aku masih bisa bertemu dengannya.

Aku masih menggunakan dress merah yang semalam dan sebuah sandal yang seharusnya aku gunakan hanya di dalam apartement. Aku tak ada waktu untuk menggantinya. Aku juga tidak peduli dengan wajah dan rambutku yang super berantakan ini. Saat ini bukan itulah yang aku pikirkan. Tapi Greyson.

Sesampainya di bandara, segera saja aku berjalan menuju pintu keberangkatan, lalu melihat layar maskapai penerbangan.

Singapore - Los Angeles  10.45

Aku melihat jam yang berada disana

10.20

Aku masih punya waktu 25 menit lagi sebelum pesawat take off. Aku berjalan cepat mencari Greyson di semua pintu keberangkatan. Sial sekali karena Changi Airport begitu luas dan banyak sekali pintu keberangkatan dan juga banyak sekali orang, jadi aku susah untuk menemukan Greyson.

10.25

Aku benar benar dikejar waktu. Aku berhenti begitu saja tidak tahu harus kemana, lalu pengeras suara bergema yang mengatakan bahwa pesawat menuju Los Angeles, Amerika akan segera take off di pintu 19. Aku berada di pintu 15. Jadi aku hanya perlu melewati 4 pintu keberangkatan lagi, dan benar saja aku melihat Greyson sedang mengecek passport dan tiketnya. Dia akan masuk. "Greysonnn!!"

Dia tak mendengarnya. Aku maju beberapa langkah. "Greysonn!!!"

Shit.

[ BOOK 1 ] - D I V E | Greyson ChanceRead this story for FREE!