Glimpse Of Us

923 106 28
                                        

Maaf, tapi lagi suka banget dengerin lagu Joji yang ini. Entah kenapa pengen banget buat ni lagu jadi cerita.
Maaf kalo aneh dan ga nyambung ama lagunya.
Maaf juga kalo ada shipper yang ngerasa keganggu karena ship kalian aku pake atau aku ganggu.
Semuanya demi kebutuhan cerita ini.
Dan maaf untuk typo.
🙇🏻‍♀️🙇🏻‍♀️




Matahari pertengahan Juli. Teriknya menyengat. Cahayanya menyilaukan. Hawa panas sekitar agak meneyesakan.
Tapi segalanya tak menghalangi langkah itu melaju. Kaki jenjangnya bergerak. Mendekati sebuah rumah pinggir pantai bercat putih gading. Ada tanaman menggantung menghiasi depan rumah. Begitu pun halaman depannya yang dipenuhi tanaman hijau. Selain setapak kecil menuju pintu rumah, tanahnya diselimuti rumput kecil yang dirawat sedemikian rupa.
Setengah bangunan itu berlantai dua. Disanalah ia. Cantik dengan angin pantai membelai rambutnya. Singlet putih yang dilapisi kemeja putih transparan, serta celana berwarna sama berbahan kain yang menutupi hingga lutut.
Sebagian akan menyebutnya tampan, bagi Mew, lelaki itu selalu punya sisi cantik di wajahnya. Masih sama seperti beberapa tahun lalu.

"Kau serius mengundangnya?"

Mew tak menjawab dengan kata. Ia hanya mengangguk. Matanya masih terpaku pada sosok itu. Sebenarnya tak menyangka ia akan datang. Mew... hanya iseng mengundangnya.

"Ia bahkan belum bisa melupakanmu. Lihat saja, ia bahkan datang lebih awal dari yang punya acara.
Agak menyedihkan menurutku."

Tul Pakorn, yang sebelumnya bertanya, hanya memandang Off Jumpol datar. Sedangkan Mew hanya tersenyum kecil.

"Tinggal menunggu Bright. Katanya ia sedikit terlambat." Singto kali ini membuka suara. "Apa ia seindah itu? Kenapa semua memandangnya tak berkedip? Ayo masuk. Disini panas." Lanjutnya sambil berjalan memasuki area halaman depan rumah.

"GUUULLFF!!"

Tul, Off, juga Singto yang sudah memasuki halaman ikut berbalik mendengar teriakan itu. Katanya akan lumayan terlambat. Ternyata tak separah yang mereka duga.
Sedang Mew masih sempat melihat reaksi yang dipanggil.
Kepala kecil itu dengan cepat menengok ke arah suara. Lalu senyum cerah dengan cepat tercipta.

"Baaiii!!! Ah, semuanya. Kalian sudah datang?" Sapanya balik. Dan ketika melihat semua manusia dibawah sana, senyuman itu makin lebar ia berikan.
Bright langsung berlari, sedikit menyenggol Mew dalam langkahnya, meminta maaf, namun setelahnya berlari kecil bersama Singto.

"Ia belum melupakanmu, Mew. Dari yang kulihat, ia membuat kontak mata dengan semua orang. Kecuali dirimu." Off lagi-lagi menyinggung sesuatu yang lebih pribadi. "Itu sebabnya aku tak ingin punya kekasih dalam lingkar pertemanan."

"Karena itu kau menggantung hubunganmu dengan Gun?" Sudah cukup. Telinga Tul tak tuli.

Off yang mendengar itu mendelik tak suka. Kan bukan tentang dia. Kenapa jadi menyinggung hubungannya?
Maka dari itu ia memilih pergi. Meninggalkan Tul dan Mew berdiri disana. Masih terdiam di gerbang masuk.

"Kau... serius mengundangnya, Mew?" Tul sekali lagi bertanya.

Mew menghela nafas. Tentu harus ia jawab.
"Ya, Tul. Bagaimanapun, Gulf bagian dari kita."

Setelahnya Mew meninggalkan Tul sendirian. Melangkah masuk pada rumah yang telah ia sewa untuk seminggu ini.

"Apa perlu mengundangnya, Mew?" Tul benar-benar terdengar keberatan.
"Lalu apa, kau ingin aku mengusirnya sekarang? Saat ia sudah jelas-jelas berdiri disana dan bercanda dengan sahabat lamanya?"

Ada emosi yang aneh terpancar dari Mew. Namun Tul memilih abai. Ia memilih melewati Mew untuk masuk. Tul berhenti tepat disebelah Mew, untuk berikutnya membisikan pendapatnya ketika melihat kejadiran Gulf disana.
"Kau hanya perlu mengundangnya di pernikahanmu nanti. Bukan disaat kau ingin memperkenalkan calon pengantinmu.
Terlalu dini, Mew."

Song FictionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang