Audra mencebikkan bibirnya ketika sepupunya terus mengejek namanya, katanya namanya tidak cocok dengannya .
"Nama lo tuh lakik banget tau, Papa lo sadar engga sih lo itu cewe." Ejeknya sambil membuat ekspresi yang menyebalkan.
"Nama gue ada artinya ya ! Engga kayak nama lo di ambil random sama nyokap bokap lo ." Jawab Audra .
"dih .Tapi maaf ya , nama gue jauh lebih cocok sama gue , namanya Angelica nama cewe banget wle..." Sepupu Audra yang bernama Angelica itu tiada hentinya mengejek Audra membuatnya kesal setengah mati.
"Arggh.. pergi lo dari rumah gue ! Jangan pernah kesini lagi!" Audra mendorong sepupunya dengan kencang .
Melihat Audra yang marah besar Angelica segera pergi sambil tertawa kencang , dia mengacungkan jari tengahnya ke arah Audra sebelum pergi melesat dengan mobilnya.
"Karma buruk apa yang gue perbuat sampai punya sepupu nyebelin kek dia." Audra mendumel sambil menutup pintu utama rumahnya.
Audra menghela nafas , tiba-tiba dia menyesal mengusir sepupunya, kini dia merasa kesepian lagi di rumah besarnya ini , wajar saja karena penghuni rumah besar ini hanya dia dan beberapa pembantu saja , sedangkan kedua orang tuanya sibuk pergi ke kantor pagi-pagi dan kadang akan pulang pada jam makan malam , ingat hanya terkadang saja , karena setiap hari nya mereka lebih sering pulang tengah malam dengan alasan pekerjaannya yang menggunung di kantor.
Audra hanya bisa mengangguk mengerti mendengar ocehan Mamanya tentang pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan .
Dia hanya menurut saja ketika Papanya memberikan banyak petuah untuk tidak berbuat macam-macam di rumah selama ditinggal kerja.
Audra menghela nafasnya untuk kesekian kalinya berusaha berpikir untuk menemukan sesuatu yang bisa dia kerjakan agar tidak terlalu bosan, tiba-tiba terlintas di pikirannya untuk pergi keluar membeli beberapa barang yang dia perlukan untuk besok pergi ke sekolah .
Dia memilih mengenakan hoodie hitam dipadukan dengan celana pendek jeans dengan masker hitam dan kacamata andalannya , dia berpamitan dengan satpamnya sebelum pergi berbelanja.
"Tarjo, Udin , gue pergi dulu ya." Teriak Audra .
"Eh kemana neng , kok engga pakek sopir?" Tarjo buru-buru berlari menghampiri Audra yang berada di dalam mobil.
"Ngemall bentar!" Jawab Audra berteriak lagi.
"Sama siapa ? Janjian sama cowo ya neng?" Udin juga datang menghampiri Audra.
"Cowo pala kau ." Jawab Audra ngegas.
"Udah lo pada jaga rumah aja, engga usah banyak cingcong! Bye." Audra menekan gas mobil nya sebelum dua satpamnya yang kepo semakin banyak bertanya.
"EH NENG NTAR DI TANYA BAPAK!." Kedua satpam tersebut berteriak panik .
Dia melirik satpam-satpamnya dari spion mobilnya , melihat wajah panik mereka Audra tertawa puas .
Memang Papa Audra berpesan kepada kedua satpamnya jangan memberikan Audra keluar rumah jika tidak ada alasan yang jelas , Papa Audra juga berpesan tanyai Audra kemana dia akan pergi dan dengan siapa dia pergi , pokoknya jangan memberikan akses keluar masuk rumah yang begitu bebas untuk Audra .
Sampai di mall suasana hati Audra membaik , dengan ceria dia masuk ke mall, mengambil segala hal yang dia inginkan tanpa pusing melihat harganya, toh sekali belanja tidak akan membuatnya jatuh miskin, Papanya kan kaya apalagi Audra adalah anak tunggal, siapa yang akan menghabiskan uang kedua orangtuanya jika bukan dirinya sendiri.
YOU ARE READING
GLASIER
Teen Fictionglasier disebut juga sebagai lapisan atau bongkahan kristal es , ya seperti lapisan es yang menempel di hati Jasper membuat sikapnya begitu dingin dan cuek terhadap semua orang yang ditemuinya , sampai pada akhirnya dia bertemu dengan seorang gadis...
