Part 17

1K 57 0

Kami memilih tempat di luar. Sengaja memang, untuk menikmati pemandangan kota Singapore di malam hari. "Kau mau apa?"

"Hazelnut Latte dengan tambahan whipped cream", kataku. "Es dan gula nya standard aja"

"Okay, aku akan kembali"

Selagi menunggu Greyson. Aku mengecek telepon genggam ku. Sarah mengirimkan pesan.

From: Sarah😛
Apa semua baik baik saja?

Aku membalasnya.

To: Sarah😛
Akan aku ceritakan semuanya pada kau saat aku kembali.

Kemudian aku membuka akun Instagram milikku dan feeds pertama yang aku lihat adalah foto Harness dan Claretta yang sedang berciuman di panggung altar. Banyak sekali yang menyukai foto itu dan memberikan komentar kebahagiaan untuk mereka.

Walau sebenarnya hatiku sudah merelakan kepergian Harness tapi aku masih merasakan sedikit kesedihan. Malam ini, aku ditemani Greyson, dia sangat membantu sekali walau bantuan yang diberikannya sedikit berlebihan tapi aku tahu maksudnya Greyson itu baik. Aku pun tahu kalau Greyson tak akan lama berada di Singapore atau juga Greyson tak akan lama berada disampingku seperti sekarang ini. Maka dari itu aku betul betul menikmati sekali malam ini.

Greyson datang membawa dua cup gelas Venti Starbucks. Dia memberikan pesananku, dan duduk di depanku.

"Apa yang akan kau lakukan setelah kembali ke Los Angeles?"

"Beristirahat sebentar sambil mencari inspirasi untuk album berikutnya. Bagaimana dengan kau? Apakah kau akan kembali menjadi seorang promotor?"

"Aku belum tahu. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku terlebih dahulu". Aku menyedot minumanku. "Mungkin jika ada waktu aku akan kembali menjadi promotor"

"Siapa yang menjadi list awalmu?"

"Austin Mahone, mungkin"

"Austin Mahone?", tanyanya. "Aku belum pernah bertemu dengannya tapi selera musiknya lumayan"

"Austin sepertinya sedang naik daun", kataku. "Dan juga artis artis yang mengawali karirnya dari Youtube, seperti kau"

Greyson tertawa mengingat memori karirnya. "Youtube memang sangat membantu banyak orang untuk bisa meraih kesuksesan. Entah menyanyi, make up, fashion, atau komedi. Semua orang bisa terkenal cuman karena Youtube.

"Well, tidak dengan waktu yang singkat", kataku. "Banyak yang berujung manis tapi juga banyak yang berujung pahit. Maksudku, tidak menjadi apa apa"

"Setidaknya mereka sudah mencoba"

"Kau benar. Itulah yang paling susah". Aku mengelus elus lenganku. Aku merasa kedinginan dengan pakaian yang terbuka begini.

Greyson melihatku, dan dia langsung melepaskan jasnya. Dia berdiri dan mendekatiku. "Pakai lah"

"Tidak Greyson, kau -- "

"Kau lebih membutuhkannya daripada aku". Greyson memakaikan jas itu pada badanku. "Better?"

"Ya", kataku. "Terimakasih Greyson. Kau baik sekali"

"Menjadi orang baik itu penting"

"Jika menurutmu penting, kenapa kau tidak memiliki seorang pacar?"

Greyson mendengus. "Tidak sekarang. Aku pernah berpacaran sekali saat aku belum se-terkenal seperti sekarang ini"

"Sekali?", tanyaku bingung. "Mana mungkin. Maksudku kau kan sangat terkenal, banyak yang suka denganmu. Tapi kenapa kau hanya berpacaran sekali?"

"Susah mencari yang pas", ujarnya. "Lagipula aku sedang tidak memikirkan yang seperti itu sekarang. Sekarang aku balik bertanya padamu. Berapa kali kau berpacaran?"

"Eehh.... Sekali. Dengan Harness", ujarku gugup.

"Apa yang membuatmu bisa jatuh cinta dengannya?"

Aku mencoba mengingat kembali saat dimana aku mulai jatuh cinta kepada Harness. "Malam itu aku datang ke pesta ulang tahun temanku. Lalu aku bertemu dengannya di acara itu. Kami mengobrol, obrolan kami tidak pernah habis, selalu saja ada topik untuk dibicarakan. Aku merasa bahwa aku sudah sangat dekat dengannya begitupun yang dirasakan Harness. Lalu dia meminta nomor ku dan komunikasi kami berjalan. Dia mengajakku ke Penang, Malaysia saat itu untuk berlibur. Dia begitu perhatian sekali, dan saat sunset tiba, dia mengatakan bahwa dia mencintaiku dan aku pun juga. Jadi aku mau menjadi pacarnya"

"Hanya begitu saja?"

"Hanya begitu saja". Aku mulai tidak nyaman jika ditanya mengenai Harness. "Bagaimana denganmu?"

"Tidak penting", katanya. "Kau mau berjalan jalan?"

"Kenapa tidak penting?"

"Itu sudah lama sekali, aku pun lupa bagaimana kronologisnya"

Aku ingin marah karena Greyson tidak menceritakan masa lalunya dengan mantan pacarnya. Tapi aku ikut saja saat dia mengajakku jalan jalan.

Greyson kembali memegang tanganku saat berjalan. Kami seperti sepasang kekasih yang menghabiskan malam ini dengan jalan jalan romantis ditemani suara aliran sungai di bawah kami dan lampu lampu gedung yang bersinar seperti bintang di atas kami.

"Merri, apa kau senang malam ini?"

"Aku sungguh senang Greyson. Bagaimana dengan kau?"

"Kau jangan tanya aku, aku pastinya senang". Greyson mengajakku ke toko bunga di pinggir jalan. Lalu mengambilkan bunga Lily untukku. "Untukmu"

Keningku mengernyit.

"Kau suka Lily kan?"

"Kata siapa?"

"Sarah"

"Sarah mengatakan itu padamu?". Aku tertawa. "Kapan?"

"Saat di Jakarta. Benarkan? Kau suka Lily?"

Aku mengembalikan bunga Lily itu pada tempatnya dan mengambil bunga Mawar. "Aku suka bunga ini"

Greyson menggaruk tengkuk lehernya.

Aku tertawa. "Sudah berapa kali kau di bohongin Sarah?"

"Sejauh ini baru sekali". Raut wajah Greyson masih kebingungan. "Serius kau suka bunga Mawar?"

Aku mengangguk. "Kalau aku tidak suka, kenapa aku mengambilnya?"

"Keterlaluan sekali. Kenapa kau masih tertawa?"

Aku masih tertawa. "Kau lucu sekali. Mukamu terlebih lagi". Aku mencubit pipi Greyson.

Pipi Greyson memerah seketika saat aku selesai mencubit pipinya. Greyson memegang pipinya. Lalu seketika menggelitiki perutku. Aku tertawa tak henti hentinya karena geli sekali. Aku memohon pada Greyson untuk berhenti. "Tidak akan aku hentikan. Gantian. Kau sudah mencubit pipiku"

"Ah Greyson please. Aku tak bisa nafas". Aku tertawa sejadi jadinya. "Greyson pleaseeee"

Aku berdiri tidak tepat pada tempatnya. Jadi heels ku terarah ke lain arah dan membuatku tak seimbang. Aku menutup mataku. Seharusnya aku sudah berada di tanah sejak tadi, tapi aku merasa melayang. Aku membuka mataku, dan Greyson tepat berada di wajah ku. Dia menahan badanku. Aku mengatur pernafasanku, alih alih menciumku. Greyson membangunkanku dan mengatakan, "ayo pulang"

Dia pergi selangkah demi selangkah meninggalkanku yang masih terpaku.

[ BOOK 1 ] - D I V E | Greyson ChanceRead this story for FREE!