Tatapan kosong Ara mengarah pada langit kamarnya yang bercat putih. Jejak air mata di sudut mata sembabnya mulai mengering. Ditemani deru kipas angin yang menyala, pikirannya kembali memutar memori tentang salah satu pil pahit kehidupan yang terpaksa ia telan lagi—untuk hari ini.
Sakit dan sesak yang menghinggapi rongga dadanya masih begitu jelas ia rasakan ketika mengingat kembali bahwa dua jam tadi terdapat sebuah kotak merah pada laman pengumuman jalur masuk perguruan tinggi yang ia ikuti. Lelah yang dari kemarin tidak ia rasakan sama sekali, tiba-tiba datang begitu saja seakan ingin menambah beban tak kasat mata pada dua bahu kecilnya.
Ara menghela napas untuk yang kesekian kali, mencoba menenangkan dirinya meski belum berhasil. Tidak bisa dipungkiri, saat melihat teman-temannya mendapat lampu hijau memasuki perguruan tinggi, terbesit kekhawatiran yang mendalam pada diri. Khawatir akan masa depan yang akan menjadi buram karena rentetan kegagalan dan penolakan yang ia dapatkan. Tak hanya berhenti di situ, ketakutan untuk mencoba lagi pun perlahan memeluknya dengan kencang. Membuat dirinya bertanya-tanya, untuk apa terus mencoba jika kegagalan itu terus ada di depan mata?
Pikirannya yang kacau mulai kembali membawanya pada ingatan lain, membisikkan banyak hal yang membuatnya semakin gamang. Seharusnya, dia berusaha lebih keras lagi. Katanya, orang yang akan mencapai kesuksesan adalah orang yang berusaha lebih daripada orang lain, bukan? Jika orang lain belajar lima jam, maka ia harus belajar delapan jam. Mungkin semua itu kesalahannya, dengan kapasitas yang pas-pasan, ia hanya meluangkan waktu rata-rata saja, maka dari itu ia gagal lagi. Berbagai skenario berawalan 'seharusnya' mulai berputar di kepala seperti kaset rusak. Bisikan bahwa memang semua ini salahnya yang memang tidak mampu dan tidak pantas untuk lolos mulai terasa familiar hingga membuat badannya bergetar dan berkeringat dingin.
Perlahan, air mata itu kembali menetes dari pelupuk matanya. Isak tangis yang sempat berhenti, sekali lagi mengisi kamar tidurnya yang terasa mencekam dan sepi. Ia lelah dan ingin menyerah, kalut dan takut, khawatir tapi harus terus merasakan getir. Ara ingin berlari mengasingkan diri dan berhenti. Tak lagi ingin mencicipi sakitnya kegagalan yang terasa mencekiknya begitu kuat saat ini.
Detik demi detik berlalu, kedua matanya yang sembab dan basah itu sedikit demi sedikit menutup, membawanya kepada dimensi lain yang tidak pernah ia sangka akan mengubah hidupnya.
BINABASA MO ANG
Jika
General FictionKegagalan yang ia alami lagi untuk kesekian kali membuat Ara menangis hingga tertidur. Tapi siapa sangka ketika ia membuka mata, bukan lagi disambut langit kamar tetapi gemuruh tepuk tangan. All Rights Reserved, 2022 Written by Catasthrophi
