Sejak hari itu kami menghabiskan banyak waktu bersama-sama dengan tante di rumah. Mengurus ikan, merawat ayam, membakar sampah di halaman belakang dan menemai tante memasak. Oom hanya ada bersama kami sore hingga keesokan harinya. Selama itu pula aku tahu telepon sering berdering mencari Karel. Penggemar-penggemarnya kata tante. Tidak aneh mengingat Karel hampir memiliki kesempurnaan  fisik yang banyak diinginkan perempuan ditunjang lagi sikapnya yang selalu hangat.

            Sebagai satu-satunya anak, Karel ternyata sangat dekat dengan ibunya. Dia bahkan tidak segan membantu tante mengerjakan segala pekerjaan rumah tangga, satu hal yang jarang aku lakukan meskipun aku perempuan. Dia bahkan lebih lihai memanggang bolu dibanding aku. Ini agak kontradiktif mengingat ternyata sanzak  yang tergantung di halaman belakang itu adalah temannya  berlatih pukulan dan tendangan. Olah raga. Dia bahkan menjadi salah satu Sabam, pelatih Tae Kwon Do  di salah satu Dojang milik pamannya. Sikapnya supel dan tutur bahasanya   selalu lugas dan apa adanya.

            “Kamu, semester 5 ya  Brin?”tanyanya sore itu ketika aku membantunya memberi makan ayam. Aku mengangguk saja mengiyakan pertanyaannya. Sudah mulai biasa dengan berbagai pertanyaannya yang tanpa basa-basi.

            “Sudah punya rencana mau nikah?  Kamu nggak pacaran kan?” tanyanya sambil menyendokkan bubur dedak ke dalam beberapa piring kaleng  yang berserakan di kebun. Beberapa ayam mengerubut di dekat kakinya. Tante berdiri beberapa meter di depan kami sambil memilah beberapa biji jagung yang tercampur di wadah kedelai. Aku rasa beliau tidak mendengar pertanyaan Karel  yang membuat pipiku merah barusan.

            “Aku belum ada rencana mau nikah kapan dan ya...aku juga nggak pacaran.”jawabku  merasa tidak perlu menutupi kenyataan itu. Sejak aku paham bahwa tidak ada pacaran dalam Islam, aku memang memutuskan untuk tidak menerima beberapa ajakan beberapa temanku untuk “jadian”. Aku memang belum bisa melaksanakan semua ajaran Islam tapi aku bertekad menjalaninya termasuk yang satu ini.

            “Maukah menikah sama aku?” tanyanya lagi. Aku menoleh tepat ke arah matanya. Kaget.

            “Maksudmu?”

            “Nikah…married...masak nggak paham sih.  Menyatukan dua orang  dalam satu ikatan agung, menyempurnakan sebagian agama...”terangnya sambil tersenyum lebar. Aku tahu dia bercanda.  

            “Bukan itu..maksudku…nggak ada angin gak ada hujan tapi kayaknya aku mendengar suara lamaran deh…”sahutku masih merasa aneh namun aku berusaha mengimbangi gaya bercandanya.

            “Nggak salah. Aku lagi berusaha melamar kamu secara tidak resmi sebelum nantinya aku bakalan resmi meminta kamu jadi istri aku dari ayahmu.”jawabnya lagi. Kali ini tangannya sibuk mencuci tangan di kran yang ada di pinggir kebun. Tante  masih menekuri wadah biji-bijiannya tapi sepertinya tetap tidak mendengar obrolan kami.

            “Mau..ya…aku udah ada penghasilan kok. Kebun sengonku udah mulai bisa dipanen. Itu tabunganku sendiri. Hasilnya lumayan. Aku punya beberapa tempat jadi insyaallah bakalan cukup untuk menghidupi keluarga kecil kita nanti…”sahutnya lagi sambil nyengir. Aku mulai jengah dengan  gaya bercandanya yang makin aneh. Dia bahkan belum mengenalku dengan baik. Ya sih.. aku pernah dengar dari tante kalau kuliahnya sebentar lagi selesai. Dia sedang menyelesaikan skripsi  dan sepertinya om dan tante juga sehat-sehat saja jadi rasanya tidak ada alasan untuk menikah  buru-buru.

            “Kamu tuh ya…kalau becanda nggak kelewatan napa..Lagian kita kan masih sepupu. Kayaknya otak kamu lagi nggak berfungsi normal ya?”sungutku sambil  berjalan menjauhinya menuju tante. Hei, dia menghalangi jalanku dengan mengangkat sebelah kakinya ke arah samping , ke depan lututku tanpa menyentuh kulitku.

Sepupu CintaRead this story for FREE!