BAB 49 : Kenapa Gak Berpikir Sampai Sana?

19.4K 2.9K 158
                                    

HAWWOOOHHH~ PEMBACAKU YANG PALING SABAR SE-UNIVERSE~! 💜
Maapkeun lama banget gak update-nya. Tapi udah terbiasa kan kalian? Hehe 😃
Kenapa update-nya selalu lama? Soalnya nunggu aku puas sama hasil tulisan sendiri. Kalau belum puas, gak akan aku update gitchuu 
😃

--
Oh iya! Karna kemaren banyak yang bilang berantemnya kurang, nih aku siram bensin dulu, dibakarnya di next chapter 
🔥
--
1 lagi. 7 bujang aku mau comeback. Janlup streaming army-armyku sayangg 
💜
Udah, itu aja. MET BACA GAESS~! (Kalau ada typo, mohon maklum yagesya~)

"LO DILAMAR ARSEN?!?" teriak Kirana tepat setelah Nayara selesai bercerita

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"LO DILAMAR ARSEN?!?" teriak Kirana tepat setelah Nayara selesai bercerita. Sontak semua orang yang duduk di sekeliling meja mereka, menatap ke arah tempat duduknya dan Kirana. Nayara merutuki kebiasaan berteriak Kirana yang tidak peduli di mana pun tempatnya.

"Ki!" tegur Nayara. Matanya menatap tajam Kirana.

"Sorry, sorry, refleks. Jadi beneran lo dilamar Arsen?" tanya Kirana lagi. Kali ini dengan nada suara normal, tapi penuh keingintahuan.

"Gak. Dia belom lamar gue" Nayara menjawab dengan jujur. Memang benar kan, Arsen belum melamarnya? Laki-laki itu hanya bertanya, apakah boleh bertemu Om-nya untuk meminta ijin melamarnya, bukan langsung melamarnya dengan memberikan cincin. Aduh, bagaimana yah menjelaskannya? Kalian mengerti kan maksudnya?

"Lah gimana sih??? Tadi lo bilang Arsen ngelamar lo?" Lagi-lagi Kirana berbicara dengan suara yang lantang dan membuat mereka menjadi pusat perhatian untuk kedua kalinya.

"Lama-lama mulut lu, gue lem uhu yah, Ki!"

"Ck, tunda dulu ngomelnya dan jawab pertanyaan gue yang tadi"

"Laen kali kalau gue cerita disimak baik-baik. Dia baru nanya doang, boleh gak ketemu Om Adhi buat...ijin ngelamar... gue"

Di akhir ucapannya, Nayara berbicara terputus-putus. Dia juga bisa merasakan pipinya kembali menghangat ketika melontarkan kata 'melamar' untuk yang kedua kalinya pada Kirana. Selalu seperti ini jika kata 'melamar' keluar dari mulutnya. Bahkan semalam, sesampainya dia ke apartemen, pipinya tidak berhenti memanas dan memerah saat memikirkan kata 'melamar'. Hanya memikirkan bukan mengatakan seperti yang dia lakukan sekarang pada Kirana. Nayara seperti dikhianati oleh pipinya sendiri. Sekarang, Nayara hanya bisa berdoa dalam hati semoga Kirana tidak menyadari rona merah yang sebentar lagi akan muncul di pipinya.

"Pokoknya dia belum ngelamar gue, dia cuma-..." Nayara kembali menambahkan, tapi ucapannya langsung dipotong oleh Kirana dan detik itu juga Nayara tahu, doanya tadi tidak terkabul.

"Nay, pipi lo kenapa? Pipi lo merah! Lo blushing?? HAHAHAHAHA"

Nayara memejamkan matanya, merutuki pipinya yang sekali lagi mengkhianatinya. Mulai sekarang, Nayara nobatnya pipinya sebagai pengkhianat nomor 1 di hidupnya. Setelah berhasil mengatur emosinya, Nayara membuka matanya menatap Kirana yang masih tertawa. Tidak, kali ini Nayara tidak menegur atau memarahi Kirana, meskipun wanita itu lagi-lagi membuat mereka menjadi pusat perhatian pengunjung café. Dia hanya menatap datar Kirana, menunggunya berhenti tertawa sambil memakan french fries pesanannya.

Enchanté, Ex!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang