Part 16

977 57 0

Saat aku mau membuka pintu mobil. Greyson menarik tanganku. "Sebentar dulu"

"Ada apa Greyson?". Aku membenarkan posisi dudukku.

"Aku tahu kalo aku tak bisa memberikanmu lebih, tapi aku harap kau menyukainya dan mau memakainya"

"Maksudmu?"

Greyson mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam dari saku jasnya. Pada awalnya aku kira itu adalah cincin, namun saat Greyson membukanya, terdapat sebuah kalung berliontin piano dengan hiasan berlian di sekelilingnya. Greyson mengambilnya. "Maukah kau memakainya?"

"Greyson ini sangat indah". Aku masih tak percaya.

"Would you?"

Aku mengangguk. "Yes"

Aku membiarkan Greyson memakaikan kalung itu di leherku. Aku bisa mencium wangi tubuhnya yang maskulin. Setelah selesai, wajah kami bertemu. Aku berkata dengan pelan, "terimakasih banyak Greyson"

Greyson menghembuskan nafasnya. "Kau cantik sekali, Merri"

Lalu Greyson memundurkan badannya.

Greyson dan aku keluar dari mobil. Greyson menggenggam tanganku erat. "Are you ready?"

"We can't turning back"

Kami berjalan memasuki tempat pernikahan Harness dan Claretta. Nuansanya begitu glamour dengan sentuhan warna biru dongker dan hitam. Kami mungkin ketinggalan momen dimana Harness dan Claretta berjalan di karpet merah ini. Karena saat kami datang, Harness dan Claretta sudah berada di panggung altar menyalami para tamu undangan yang datang.

"Kau takut?"

"Kenapa aku harus takut?", tanya Greyson seakan mengencangkan genggaman tangannya. "Kau tak perlu takut. Ada aku disini"

Karena antrian tamunya begitu panjang, aku dan Greyson memutuskan untuk mencari tempat duduk. Mataku sangat awas jika ada orang orang yang aku kenal berada disini.

"Kau kelihatannya tidak nyaman"

"I do"

Musik dansa dimainkan. "Lebih baik kau berdansa denganku, maukah kau?"

Greyson mengulurkan tangannya padaku. Aku menggenggamnya. Dia mengajakku ke tengah ruangan dimana sudah banyak tamu yang ikut berdansa. Greyson melingkarkan tangannya di pinggangku. Kemudian menarikku hingga aku begitu dekat dengannya. Kami berdansa. Ini adalah pertama kalinya lagi bagiku, terakhir aku berdansa saat prom night SMA, 5 tahun yang lalu. "Aku suka sekali wangi tubuhmu"

Aku tersenyum. "Aku juga sangat suka wangi tubuhmu"

"Bisakah kau seperti ini setiap hari?"

"Seperti apa?"

"Ini. Dekat denganku"

Aku tertawa. "You are so funny"

"I'm serious, Merri. Kau membuat perasaanku kacau"

"Apa itu buruk?"

"Buruk, jika kau pergi lagi"

"Maafkan aku"

"Berjanjilah padaku bahwa kau tidak akan pergi lagi dariku"

"But, Greyson ... "

Seseorang berdehem.

Aku menoleh ke sumber suara, Harness berdiri di depanku dan Greyson. Disampingnya berdirilah Claretta dengan gaun putih panjang yang sederhana. "Hai"

"Hai", kataku masih membiarkan Greyson melingkarkan tangannya pada pinggangku.

Greyson melepaskan tangannya dan bersalaman dengan Harness. "Aku Greyson. Greyson Chance"

Mata Harness berkedut. "Jadi, kau artis yang menjadi client Merri beberapa hari yang lalu?"

"Benar", katanya. "Itu aku. Selamat menempuh hidup baru"

Aku bersalaman dengan Claretta. "Kau terlihat sangat cantik, Claretta. Lebih cantik disaat pertama aku bertemu denganmu di Jepang waktu itu"

Claretta mengubah senyumnya menjadi raut wajah malu. Itulah yang aku mau. Aku bersalaman dengan Harness. "Kau pantas mendapatkan sebuah kebahagiaan, Harness"

Harness juga merubah senyumnya menjadi tatapan serba salah padaku. Lalu dia bertanya, "kalian sudah pacaran?"

Kali ini aku diam namun Greyson bersuara. "Hampir"

Aku melihatnya bingung. Hampir? Maksudnya?

"Oh, kalau begitu semoga kalian bisa menjadi pasangan yang selalu saling mencintai sepanjang waktu"

"Tentu saja". Greyson memeluk pundakku. "Aku tidak akan meninggalkan Merri tanpa alasan. Aku akan selalu memberinya sebuah kepastian, dan pastinya tidak akan membuatnya menangis. Hanya pria pecundang yang membuat seorang wanita menangis"

Jantungku berdegup kencang. Aku takut antara Harness dan Greyson memiliki dendam sendiri didalam hati mereka. Aku melihat Claretta yang sudah sangat tidak nyaman berada diantara suasana seperti ini. Begitupun denganku.

"Greyson", panggilku.

"Yes honey?"

"I think it's enough. We have to go"

"Oh sure. I take you to dinner then"

"Harness. I have to go. Its such a pleasure to meet both of you". Aku memeluk Harness sebagai tanda bahwa aku sudah merelakannya bahagia dengan wanita lain. Aku juga memeluk Claretta. "I'm happy for you"

Aku dan Greyson pergi meninggalkan tempat pernikahan Harness dan Claretta.

Saat di mobil. Aku diam. Selagi Greyson memasang seat belt. "Apa yang kau katakan pada Harness tadi ... "

"Seperti yang aku katakan padamu tadi, aku akan membantumu malam ini"

"Tapi itu berlebihan"

"I'm sorry. Aku hanya tidak mau melihat kau sedih saat melihat Harness dan Claretta"

Aku diam dan melanjutkan. "Thank you, Greyson"

"Your welcome". Greyson menjalankan mobilnya kembali menuju jalanan Singapore. "Jika kau tidak keberatan, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat"

"Kemana?"

"Kau lihat saja nanti"

"Okey baiklah. Aku ikut"

--

Greyson berhenti di pinggir jalan. "Kita sudah sampai"

Greyson keluar dari mobil dan aku mengikutinya. Saat Greyson melihat aku sudah berada di luar, dia diam. "Tak apa, aku bisa membuka pintu ini sendiri"

Greyson mengulurkan tangannya.

Aku meraih tangannya, dan kami pun berjalan sambil berpegangan tangan.

Kami berhenti di sebuah taman. Dibawah kami terdapat sebuah sungai, dan tepat di depan kami menjulang gedung ternama di Singapore, Marina Bay Sands. Saat malam gedung itu seperti bintang, berkilau. "Kenapa kau membawaku kesini?"

"Karena tidak ada lagi tempat yang aku ketahui selain disini"

Aku tertawa. "Polosnya kau Greyson"

"Sebenarnya aku ingin mengajakmu minum kopi di Starbucks sebelah sana"

"Ide bagus. Aku butuh kafein"

Aku dan Greyson kembali berjalan menuju Starbucks, masih dengan berpegangan tangan. Malam ini benar benar sangat cerah sama cerahnya dengan perasaan yang sedang aki rasakan sekarang. Seperti bintang pun tahu bagaimana cara mengembalikan perasaanku, sama seperti yang Greyson lakukan untuk tidak membuatku begitu terpuruk malam ini.

[ BOOK 1 ] - D I V E | Greyson ChanceRead this story for FREE!