21.2

14.3K 3.1K 186
                                    

Selamat membaca
••

Jangan lupa taburan bintang dan komen, Bestie! 🤌🏻🤣


STEVEN NGGAK ADA, bisik Rukma dalam hati.

Meski matanya masih tertutup, Rukma merasakan kehangatan di balik punggungnya sudah menghilang. Dengan ragu-ragu, dia memundurkan badan untuk memastikan Steven benar-benar meninggalkan ranjang.

Kosong.

Usai berhasil membujuk matanya terbuka, serta menyakinkan diri sendiri bahwa ketiadaan orang di sisi lain ranjang bukan hal menakutkan, Rukma terlentang memandangi langit-langit kamar selama beberapa detik, lalu melirik jam dinding. Sekeras apa pun usahanya menyakinkan diri, bahwa sendirian sekali lagi bukan hal sulit—Rukma tetap merasakan lobang di dalam dadanya membesar tiap detiknya—menyedot segala tindakan baik yang dilakukan Steven menjadi hal mengerikan dan berbahaya.

"Ya ampun, Ma! Apaan, sih, dunia nggak bakal berhenti cuma karena Steven pulang ke Jakarta," erangnya pelan. "Ingat. Lo mau dia beresin kerjaan secepat mungkin, dan terwujud."

Ini gila, tetapi Rukma mendengar ada yang menyahut erangannya dengan kalimat yang menohok hatinya. "Steven pergi hari ini dan nggak tahu kapan balik. Mungkin, nggak bakal kembali kayak Mama dan David ...."

Dia mendesah kasar sembari menaruh satu lengan menutupi kedua mata. Entah untuk menghalau apa, karena cahaya matahari kesulitan menembus kamar ini, hanya lampu tidur temaram yang tidak menusuk mata. Setelah beberapa saat berbaring sembari merasakan embusan napasnya yang teratur, menghitung berapa kali dadanya naik turun, Rukma menjatuhkan lengan lalu berguling turun dari ranjang.

Sekali lagi Rukma melihat jam dinding, dan perasaan tidak enak yang coba diabaikannya semakin menunjukkan taring. Steven bilang mau pergi jam sepuluh pagi. Ini baru pukul 7.00, tetapi lelaki itu sudah tidak ada. Di tengah giatnya pikiran-pikiran buruk berupaya menguasai benaknya, Rukma menyuarakan membisikkan alasan paling masuk akal yang bisa dia pikirkan, "Steven nggak pergi gitu saja. Steven lagi siap-siap di atas sana."

Namun, keheningan yang menyambutnya saat membuka pintu kamar, secara otomatis menghentikan segala upaya Rukma. Perutnya mengejang memikirkan kemungkinan terburuk memang terjadi: Steven sudah pergi. Dengan langkah yang dipaksakan, dia mencapai pintu rumah yang tidak lagi terkuci. Ketika terbuka, lagi-lagi, kekosongan yang dia temui. Mobil Steven sudah tidak ada.

Dengan sisa-sisa harapan yang ada di hati, Rukma berlari masuk ke rumah—mengabaikan sapaan satu barista yang baru saja memarkirkan motor. Dia menaiki tangga seolah di atas sana ada nyawa yang perlu diselamatkan. Ketika sudah berdiri di depan pintu, Rukma mengambil napas untuk mempersiapkan diri, karena masih ada satu pikiran baik yang disuarakan pelan dalam otaknya; Steven hanya pergi cari sarapan.

Pintu perlahan terbuka, dan Rukma langsung menyadari apa yang harus diterimanya. Bahwa, segala pikiran baik yang coba dia pertahankan berakhir sia-sia. Kondisi kamar yang ditiduri Steven beberapa minggu terakhir sudah dalam kondisi rapi. Tidak ada lagi perlengkapan bekerja yang berserakan di meja berbahan kayu jati, alat-alat elektronik pun tidak lagi terlihat berserakan, jendela yang biasanya selalu dibuka lelaki itu untuk pergantian udara—tertutup rapat, koper hitam yang biasanya berada di ruang kosong antara meja kerja dan lemari sudah hilang.

Dengan bahu terkulai, Rukma jatuh terduduk bersandar di kusen pintu. Dia memeluk erat kedua kakinya yang tertekuk sampai sejajar dada.

Jadi, Steven tidak hanya meninggalkan ranjangnya, tapi juga rumah ini? Tanpa berpamitan?

Konyol, tetapi Rukma mengedarkan pandangan sekali lagi ke setiap sudut kamar. Siapa tahu dia melewatkan sesuatu. Siapa tahu Steven baru bersih-bersih. Namun, situasi ruangan sudah kembali seperti sedia kala, seperti sebelum  Steven datang. Kosong.

The TeaseTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang