Sial.
Satu kata itu cukup menggambarkan keadaanku sekarang. Lucyfer sialan itu mengotori kamarku dan pergi dengan seenaknya. Dia pikir kamarku adalah sampah? Dan dimana teman sekamarku sekarang? Kenapa dia tidak datang kemarin malam? Apa dia juga sengaja membullyku juga.
"Eliza? Apa yang terjadi? Kenapa kamu belum bersiap?" Tanya Camelia yang kebetulan lewat. Oh demi tuhan ingin rasanya Eliza mengumpat sekarang.
"Lucy mengotori kamarku, aku harus membersihkannya sebelum Miss Jessi memarahiku," ucap Eliza.
"Aku bantu ya, kamu harus bersiap. Jika kita terlambat sedikit saja Maam Wendy tak akan memperbolehkan kita sarapan," kata Camelia sambil mengambil alih pel yang aku bawa.
"Ah tidak usah—"
"Mandilah dulu Eliza, aku yang akan bereskan semua kekacauan ini," Camelia tersenyum kearahku kemudian menyodorkan alat mandi yang aku letakkan di meja.
"Cepat Eliza, tak lama lagi Chatty juga datang dia pasti membantuku."
Aku mengangguk kemudian segera berlari ke kamar mandi yang letaknya ada di ujung lorong. Huh, Aku berhutang banyak kepada Camelia.
Tanpa lama aku menyelesaikan kegiatanku, aku khawatir Camelia akan ikut terlambat nanti.
Baru saja aku akan mengeringkan rambut Lucy datang dan menarik rambutku.
"Kau mengadu hmm? Apa kau tak sanggup membersihkan kandangmu sendirian sampai harus meminta bantuan?"
"Lepaskan Lucy, ini sakit," Cicitku perlahan.
Lucy terkekeh pelan kemudian semakin mengeratkan pegangannya pada rambutku. "Kau bilang, bully adalah hal biasa bukan? Kalau begitu nikmati hal biasa ini. Bukankah menyenangkan Eliza?"
Lucy menceburkan kepala Eliza kedalam wastafel yang sudah terisi penuh. Oh tuhan rasanya sungguh sesak. Rasanya paru-paru Eliza terisi penuh dengan air. Eliza benci ini ketika asmanya kembali menyerang.
"L-ucy h-hentikan ini sakit,"
"Sakit? Ini menyenangkan bodoh," sahut Rachel sambil menahan kepala Eliza.
Setelah beberapa menit barulah Lucy menghempaskan Eliza ke lantai. Lucy berjongkok kemudian mengelus kepala milik Eliza. "Ini baru seberapa hal kecil. Aku akan melakukan banyak hal biasa itu untukmu. Okey?"
"Sudah biarkan dia mati disini," ucap Rachel.
Eliza memukul dadanya yang sesak, Dia terbatuk perlahan. Rasanya benar-benar hampir mati. Eliza berusaha bangkit namun kakinya mati rasa. Pasti Camelia mencarinya kan sekarang?
Eliza bersandar di tembok kamar mandi yang dingin. Kenapa tak ada orang yang lewat? Kenapa tak ada yang mau menolongnya? Apa yang salah?
Eliza memejamkan matanya sekejap sebelum kegelapan merenggut kesadarannya.
🦊❤️🦊
Hah rupanya Tuhan masih berpihak kepadaku. Aku terbangun dengan Camelia disisiku. Dia menatapku cemas.
"Kau baik-baik saja? Adakah yang masih sakit?"
Aku menggeleng pelan. Yah aku sudah tak merasakan sesak nafasku sekarang. "Buka mulutmu," kata Camelia pelan.
Camelia menyuapkan sebuah kembang gula kepadaku. Permen itu rasanya sangat asam. Aku benci rasa asam.
"Tidak apa-apa rasanya memang sedikit asam tapi itu akan mengembalikan tenagamu,"
Permen yang kumakan aneh. Warnanya hijau seperti ingus dan rasanya sangat masam. Ini bukan asam jeruk.
"Rasanya aneh ya? Tidak apa-apa namanya juga obat. Ayo kembali ke kelas,caira infusmu sudah habis."
KAMU SEDANG MEMBACA
Welcome Too School Hell
HorrorAku tidak tau sekolah apa yang aku masuki sekarang. Kematian,Teror,dan juga gangguan selalu menganggu kami, akankah mati hanya satu-satunya cara agar kami bisa hidup bebas? Atau memilih bertahan sembari menunggu giliran? Sekolah ini adalah sekolah k...
