⚠01. SENYUM DIBALIK DERITA⚠

73 48 134
                                    

[WARNING! DALAM PART INI ADA ADEGAN SEPERTI KEKERASAN/PENYIKSAAN/DARAH, MOHON UNTUK PEMBACA AGAR BISA BIJAK DALAM MEMBACA KARENA INI HANYALAH CERITA FIKSI. TERIMAKASIH]

.

.

Abdi Bagaskara kembali menghembuskan nafasnya saat tangannya menggenggam gagang pintu, Sebenarnya sangat berat rasanya untuk kembali ke rumah meskipun ia kembali hanya untuk sekedar mengambil beberapa keperluannya.

Tapi mau tidak mau Abdi harus banyak - banyak bersabar, toh apa yang sebenarnya terjadi sudah menjadi santapan setiap hari baginya.

Ketika Abdi membuka pintu rumahnya, aroma alkohol dan juga rokok langsung menyapu indra penciumannya, sudah hal yang biasa jadi abaikan saja.

Masih dengan rasa malasnya Abdi melangkah masuk kedalam rumah.

Mengedarkan pandangannya untuk melihat keadaan rumah yang sederhana itu terlihat sangat berantakan dan tidak terurus.

Mau dibersihkan pun rasanya akan sia - sia karena dalam sekejab rumah itu akan berantakan lagi.

Abdi mendengus pelan, langkahnya terhenti dan tatapannya tertuju pada sebuah kamar utama yang pintunya setengah terbuka yang meskipun Abdi tak melihat ada apa didalamnya.

Tapi pria jangkung itu bisa mendengar dengan jelas suara desahan seorang pria dan wanita. Lagi - lagi Abdi mengabaikannya dan berjalan menuju kamarnya.

Diantara seluruh bagian rumah hanya kamar Abdi yang rapi dan bersih, setiap kali Abdi meninggalkan kamarnya ia akan mengunci rapat pintu kamar itu.

Karena hanya dikamarnya lah seluruh harta keluarganya berada, tersimpan tersembunyi di suatu tempat dikamarnya dan hanya Abdi seorang lah yang tahu dimana brangkas tersembunyi itu.

Abdi menghempaskan tubuh lelahnya dikasur yang empuk, menatap kosong kearah langit - langit kamar berwarna abu gelap sedangkan telinganya masih bisa mendengar jelas suara desahan tadi.

Abdi pun hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Tak lama kemudian ponselnya berdering, Abdi bangun seraya merogoh saku jaketnya dan melihat nama Gilang di layar.

"Yo Lang, kenapa?"

"Bunda lo udah bangun, udah gue sampein kok kalo lo pulang bentar kerumah."

"Oh oke makasih ya Lang, tolong jagain bunda bentar gue mau ambil baju ganti terus balik kesana lagi."

Abdi memutuskan sambungan telepon dan langsung beranjak dari kasur lalu mendorong ranjangnya, pria itu mencongkel sebuah papan yang sudah ia modifikasi sebelumnya.

Dibawah papan yang orang lain kira hanyalah sebuah lantai kayu ternyata ada sebuah brangkas yang menyimpan banyak harta berharga seperti uang tunai, beberapa buku tabungan, beberapa emas batangan dan juga perhiasan yang harganya tak main - main.

Semua itu Abdi kumpulkan dari sisa kekayaan sebelum perusahaan keluarganya mengalami kebangkrutan dan jika tidak dijaga dengan baik semua itu akan habis dalam sekejab oleh seorang pria yang Abdi benci.

Abdi mulai memasukkan beberapa uang tunai kedalam tasnya dan saat dirasa cukup Abdi pun kembali menutup rapat brangkasnya dan merapikan kembali kamarnya.

Abdi menatap pantulan dirinya di cermin besar, memperhatikan lekuk wajah dan tubuhnya dan menemukan beberapa bekas luka.

"Bro, lo pasti kuat buat ngadepin semuanya, percaya deh sama gue kalo semuanya bakal baik - baik aja." Gumam pria itu seraya tersenyum kecil lalu melangkahkan kakinya keluar kamar.

More Beautiful Than Flowers [HIATUS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang