bagian kedua

6.3K 510 36
                                        


Di pagi hari yang cerah, seperti biasa Yoshi akan meninggalkan Junghwan terlebih dahulu di kamar untuk menyiapkan sarapan mereka berdua.

Yaa.. jangan tanya deh kenapa mereka belum mau punya anak, soalnya kelakuan Junghwan juga masih kaya anak-anak— dan yaa Yoshi jadi pikir seratus kali untuk memikirkan keputusan tersebut.

Selagi menunggu Junghwan datang, Yoshi menyempatkan diri untuk menyiram tanaman di halaman belakang rumah yang Junghwan belikan sebagai hadiah ulang tahunnya.

Hanya beberapa jenis mawar yang berbeda warna, tetapi semua jelas terlihat memanjakan mata. Namun, niatnya harus diurungkan karena dari depan sana Junghwan sudah berteriak memanggil namanya.

"Kenapaa?" sahut Yoshi sekuat yang ia bisa.

Junghwan menunjuk kearah dadanya, dengan maksud. "Dasi aku mana?" dan seketika Yoshi langsung tepuk dahi karena ia juga baru sadar kalau tadi malam itu dia seharusnya gak usah nurutin perkataan suaminya.

Sesampainya di sana Yoshi langsung membuka laci kecil di dalam lemari pakaian dan mengambil satu yang berwarna hitam untuk Junghwan kenakan.

Junghwan melengos. "TADI GAK ADA DISITU LHO SERIUS, GAK BOHONG." dan Yoshi pun menghela nafasnya sudah hafal dengan kelakuan suaminya itu di pagi hari.

"Ini bekalnya udah aku siapin, kamu langsung berangkat aja gausah sarapan lagi. Lihat itu udah jam setengah delapan, nanti kelas kamu telat." ucap Yoshi sembari membantu suaminya itu mengenakan ranselnya

"Iya, juga. Kunci motor mana? aku mau naik motor aja biar bisa nerobos lampu merah."

Yoshi memicingkan matanya. "Ih, jadi selama ini kamu naik motor selalu ga bener ya?" dan setelahnya ia batal memberikan kunci motor itu ke tangan Junghwan.

Seketika Junghwan kaget, apalagi ketika melihat Yoshi memakai outer putihnya yang tergantung di balik pintu kamar. Yoshi menarik tangannya untuk ikut keluar dari rumah dan menyimpan kuncinya setelah pintu itu tertutup rapat.

"Aku yang antar."

"Hah! Janganlah, nanti aku pulangnya gimana?."

"Ya aku jemput."

"Gak mau ah."

"Junghwan.." Yoshi melipat kedua tangannya di hadapan dada, sedikit kesal karena Junghwan baru saja membantah perkataannya.

"Sayang.. nanti kawan-kawanku lihat, malu lah."

"Kamu malu sama aku?"

"Bukan gitu."

Yoshi membalikkan tubuhnya, tak mau lagi melihat kearah suaminya yang baru saja melukai perasaannya.

"Jahat! yaudah berangkat aja sana, terserah kamu mau ngebut mau terbang juga aku ga peduli."

Dengan emosi Yoshi melemparkan kunci motor itu ke perut Junghwan kemudian pergi meninggalkannya, buru-buru membuka pintu untuk menuju kamar. Jelas Junghwan dapat mendengar suara bantingan pintu kamar, kalau sudah begini pasti Yoshi sudah kecewa sekali.

Junghwan tak dapat berbuat apa-apa karena dirinya juga sedang dikejar waktu, kalau tidak berangkat sekarang pasti dirinya tak akan sempat tiba tepat waktu ke kelas.

"Maaf, kak.."





















ㅡ♡m u d a



















Sudah sore dan Junghwan masih belum berhasil membujuk Yoshinya yang mengurung diri di kamar. Junghwan akui dirinya memang salah, yang tadi itu tidak seharusnya ia katakan apalagi di hadapan Yoshi langsung.

MUDA [Hwanshi] ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang