34. Rencana Amora?

141K 19.6K 10.2K
                                    

Sorry guys gak update satu jam🥰🦋

Weii aku udah ada chapter selanjutnya, tapi aku mau lihat dulu antusias komentar kalian di chapter ini, baru aku up lagii, cepetann komenn yang banyakkkk😡

Sekali lagi aku ingetin, buat baca semua, baik narasi atau dialog, biar kalian gak bingung. Terus nanya ini siapa? Itu siapa? Anu siapa? Aku gak mungkin jawabin komen kalian satu-satu. Jadi buat kalian yang nemu komentar kaya gitu, tolong bantu jawab dan bantu jelasin ya kalo kalian tau💖

 Jadi buat kalian yang nemu komentar kaya gitu, tolong bantu jawab dan bantu jelasin ya kalo kalian tau💖

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"AAAAAAAA!!!!"

Brukk

"Kak Riri!" Amora berteriak lalu menghampiri Riri. "Kak Riri gak papa?" tanyanya setelah membantu Riri berdiri.

"Gak papa," geleng Riri sembari meringis pelan. "Makasih ya."

Entah kenapa, tadi saat membuka pintu kamar mandi dan mulai melangkahkan kakinya, perasaan Riri tidak enak. Riri juga merasa lantai di depan pintu kamar mandi sangat licin hingga membuatnya terjatuh. Padahal seingat Riri, saat pertama kali ia masuk ke dalam kamar mandi, lantai di depan pintu kamar mandi biasa saja. Tidak selicin sekarang.

Untungnya Riri hanya jatuh dengan posisi duduk. Tidak sampai terlentang dan mengakibatkan kepalanya terbentur lalu terluka. Hanya saja yang namanya jatuh tetaplah sakit. Riri merasa pinggangnya nyeri. Ditambah bagian belakang jaketnya juga sedikit basah.

"Lepas aja jaketnya, Kak. Biar Kak Riri bisa bersihin bagian belakang jaket Kak Riri yang kotor," saran Amora melihat Riri yang kesusahan mengecek bagian belakang jaketnya. "Sini biar hape Kak Riri aku yang pegang."

Riri menatap Amora ragu. Ingin menolak, namun apa yang Amora katakan memang benar adanya. Sebaiknya ia bersihkan dulu jaketnya. Biar Gala tidak curiga dan marah kalau tahu dirinya ceroboh hingga bisa jatuh di depan kamar mandi.

"Sini, Kak." Amora meraih ponsel dari genggaman tangan Riri. "Aku tunggu di sini. Kak Riri bersihin dulu di dalem kamar mandi."

"Gak us--"

Riri hendak mengambil ponselnya kembali, namun dengan cepat Amora menyela.

"Gak papa biar aku bawain. Kan Kak Riri mau bersihin jaket, nanti ribet bawanya. Baju sama celana Kak Riri gak ada sakunya. Cuma jaket aja kan yang ada sakunya? Terus jaketnya juga mau Kak Riri bersihin. Mau ditaruh di mana hapenya? Jadi biar aku bantu bawain. Gak aku curi kok, Kak. Tenang aja."

"Aku tungguin sampai Kak Riri selesai. Jangan buru-buru, Kak," tambah Amora melihat Riri kembali masuk ke dalam kamar mandi dengan wajah pasrah.

Amora tersenyum penuh arti. Bagus. Rencana keduanya berhasil setelah rencana pertamanya sukses membuat Riri jatuh.

BUCINABLE [END | LENGKAP]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang