BAB 45 : Gak Tega

25.9K 3.4K 140
                                    

Mau minta maap dulu kalo pas baca part ini kurengg feel-nya (・ᴗ・)v

Mau minta maap dulu kalo pas baca part ini kurengg feel-nya (・ᴗ・)v

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"APA?!" pekik Nayara. Matanya menatap Arsen terkejut.

Apa katanya tadi? Ke rumahnya? Hari ini?? Bertemu neneknya?!? Tiba-tiba????

"Kamu mau ikut ke rumah aku hari ini dan ketemu nenek aku?" Arsen mengulang ucapannya tadi ke dalam bentuk pertanyaan. Dia bertanya dengan sorot mata dan suaranya yang lembut. Kalau dalam keadaan normal, pipi Nayara pasti sudah semerah tomat sekarang. Sayangnya, fokus Nayara saat ini hanya pada kalimat Arsen yang mengajak Nayara ke rumahnya dan bertemu dengan neneknya, bukan pada tatapan dan suara lembut milik laki-laki itu.

Aduuhh~ Gimana nihh??? Gue belom siapp~

Nayara sama sekali belum siap bertemu anggota keluarga Arsen yang lain, selain Lily, Tristan, Devano dan Kaila, di saat hubungan mereka baru berjalan 1 bulan. Menurut Nayara, 1 bulan adalah waktu yang terlalu cepat untuk dia diperkenalkan ke anggota keluarga lainnya. Masih ada kemungkinan bulan depan Arsen menyadari kalau ternyata selama ini dia salah mengartikan perasaannya terhadap Nayara dan hubungan ini berakhir. Jadi, bukankah lebih baik menunggu hingga hubungan mereka minimal berjalan 6 bulan untuk memperkenalkan Nayara ke anggota keluarga Arsen lainnya?

Nayara tenggelam dalam pikirannya sendiri sampai tidak menjawab pertanyaan Arsen. Dia baru tersadar dari lamunannya saat Arsen memanggilnya.

"Sayang?"

"Hah?"

Seakan tahu pikiran-pikiran yang muncul di kepala Nayara, Arsen menghembuskan napasnya pelan, lalu mengelus lembut pipi Nayara.

"Kalau kamu gak mau, gak apa-apa kok. Nanti aku bilang Mama, kamu gak bisa datang karna ada urusan lain" lanjut Arsen, mencoba menenangkannya.

Usapan lembut di pipinya dan senyum yang diberikan Arsen saat laki-laki itu melanjutkan kata-katanya, sangat ampuh meredakan kepanikan yang muncul dalam diri Nayara tadi. Nayara tahu, untuk hal-hal serius seperti ini Arsen tidak mungkin memaksanya, apalagi jika Nayara bilang dia belum siap. Sejak mereka memutuskan menjalani hubungan ini, Arsen sangat dan selalu menghargai perasaannya. Dia tidak pernah mengambil keputusan secara sepihak dan selalu menanyakan pendapat Nayara. Sikap Arsen yang satu ini yang membuat Nayara nyaman dengan laki-laki itu dan pelan-pelan mulai membuka hatinya lagi.

"Kok mendadak?" tanya Nayara yang sekarang sudah jauh lebih tenang.

Arsen sudah menurunkan tangannya dari pipi Nayara, lalu beralih menggenggam tangan Nayara. Sambil memainkan jari-jari lentik milik Nayara, Arsen menjawab, "Gak mendadak sebenarnya. Mama udah merengek ke aku dari seminggu yang lalu. Tapi selalu aku tolak. Sampai hari ini, dia masih merengek dan aku gak tega"

Refleks, Nayara menggigit bibir bawahnya, mulai memikirkan tawaran Arsen. Baru sebentar Nayara berpikir, mempertimbangkan apakah dia harus mengiyakan atau menolak tawaran Arsen, Nayara kembali mendengar suara Arsen berbicara padanya. Namun, ada yang berbeda dari suara Arsen. Suara lembut dan hangat yang biasa Arsen gunakan ketika berbicara pada Nayara, berganti menjadi suara yang serak dan... dalam.

Enchanté, Ex!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang