Bab 1 Umpan untuk Berjudi

195K 6.3K 624
                                    

Banyak wanita berpikir, cowok dingin itu menarik. Sikap acuh-acuh butuh selalu bikin geregetan. Senyum mereka yang jarang-jarang sangat dirindukan. Bahkan suaranya saat ngomong itu ditunggu-tunggu dengan hati berdebar. Pemikiran kayak gini sudah seharusnya di-upgrade atau kalau perlu diganti. Sebab, sampai saat ini-bulan kedua aku jadian dengan cowok dingin yang kadar kedinginannya mengalahkan kulkas yang disetel 273 K-belum pernah sekalipun aku puas dengan kelakuannya yang membekukan itu. Justru, aku selalu uring-uringan, marah tertahan karena bingung mau memarahi siapa dan sebal karena merasa diabaikan. Bukan sok manja, akan tetapi sebagai cewek, aku ingin diperhatikan.

Cowok yang sedang kubicarakan ini namanya Nizam Harris. Nama yang sederhana. Hanya terdiri dari dua kata. Mungkin ketika memberikan nama, orang tua Harris terinspirasi oleh tata nama ilmiah yang sering disebut binominal nomenclature. Itu lho... tata nama yang dipopulerkan oleh Linneaus, yang sampai saat ini jadi patokan para ilmuwan dalam memberikan nama ilmiah sebuah objek biologi. Like that. As simple as that.

Sesuai namanya yang klasik, Islami tasted, dan coolest boy-yang kadar dinginnya bisa bikin mual dan membeku, Harris juga tipe orang yang irit omong. Aku yang sudah heboh bercerita hanya dibalas, 'oh', 'aku tahu' atau 'baiklah.' Dalam waktu dua bulan, aku bisa kenal pribadinya luar dalam dan sayangnya, aku tidak suka dengan kepribadian macam dia.

Mengenai gaya berpacaran kami-eits, sebut saja secara spesifik-gaya pacaran Harris sangat lain. Aku memang baru sekali ini pacaran, tapi aku sering mengamati teman-temanku yang pacaran. Mereka ngedate, jalan berdua, makan bersama atau jalan-jalan bersama. Istilah kerennya, bagi pasangan yang lagi mabuk cinta, tentu ada quality time. Tapi Harris?

Dua bulan pacaran, dia hanya menyempatkan sekali berkunjung ke rumahku. Itu pun karena alasan tugas. Bukan karena dia berniat apel. Yang paling menyebalkan, dia datang beramai-ramai dengan kawan kelompok kami. Ya iyalah, kami 'kan mengerjakan tugas.

Di lain waktu, seperti misal saat mata pelajaran tidak ada guru, Harris akan sibuk berdiskusi dengan teman-temannya, membicarakan tentang apa saja. Dari topik Undang-Undang Dasar yang menyatakan bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara negara, sampai keberadaan black hole di semesta. Melihatnya yang bersemangat diskusi, aku pun bertanya-tanya, sebenarnya hubungan kami ini seperti apa? Ketika di depan banyak orang, dia terlihat antusias, hangat dan responsive, tapi saat di depanku-bersamaku-berdua denganku, termometer Celcius akan berdengung nyaring karena derajat panasnya nyaris dibawah 0.

"Hoi... Nawaila, cak mano la rai kau ditekok mak itu? Rai la kusut mencak kain rombeng di pasar bawah." Gita menyenggolku dengan logat melayu Palembang sangat kental. Bahkan saat berbicara denganku, ia mempertahankan bahasa daerahnya. Dia juga sama seperti Harris: tidak peka. Bedanya, kalau Harris tidak peka pada perasaanku, Gita tidak peka bahwa aku tidak paham bahasa yang dia gunakan.

"Gue pusing, sumpah. Rasanya kayak berdiri di puncak gunung yang dingin tanpa kain penghangat," kataku, tidak terlalu ambil peduli apa Gita paham.

"Kau ini," Gita mencibir, "pasti masalah cowok lagi? Jaman sudah canggih, galau belum juga hilang." Gita sudah menggunakan bahasa Indonesia dengan baik.

"Malu dong ama usia. Kayaknya lo kudu mikir, kalau pacaran cuma bikin galau dan prestasi belajar lo turun, udah putusin aja." Kali ini yang menyerobot obrolan adalah Fina.

Aku hanya balas muntah. Heran, ya, ama Fina yang baru sebulan masuk salah satu organisasi ekstrakurikuler. Jilbab dia memang lebar, pakaiannya tidak ketat atau transparan, tetapi jago banget mengeluarkan kata 'udah putusin aja' atau gini 'lo Islam kan? Kenapa masih pacaran? Lama-lama, kalau terpengaruh lingkungan, lo bisa murtad.'

Ya Salam... koleksi kalimat dia jahat-jahat semua. Atau mungkin, setan dalam diriku yang banyak sehingga hatiku keras dan nggak bisa dinasehati? Tapi, Fina memang anomali yang paling anomali. Selain mudah banget bilang murtad-lah, kafir-lah, liberal-lah, sekuler-lah, dia jago menasehati kawannya tentang hubungan lawan jenis, tapi pernah saat ia usai shalat dan baca sebuah pesan di ponsel, dia cekikikan. Pas kutanya, dia jawab, dari ikhwan anu, mau ajak keluar ke toko buku. Ada buku baru buat nambah bacaan plus keimanan.

Luka yang Kau Tinggal Senja Tadi (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang