34. Dilarang Lelah

7.3K 1.4K 97
                                    

Hadiah kemerdekaannya gini banget yak. 🤭

Yang ini nggak sedih banget kok. Si Mira udah mati rasa keknya, sampai2 semua terserah ayah aja. Dia tahu manut.

●●●●●

Semarah apapun ayah, dia tak pernah main tangan denganku. Ketika dirasanya aku tidak bisa dia atur dan bertindak di luar izinnya, hukuman yang kudapat akan sesederhana tidak diajak bicara sampai yang paling parah adalah ditarik kembali fasilitas keuangan yang selama ini jadi tumpuanku hidup. Yang manapun, semua dilakukannya dengan serius tanpa kenal kata kasihan.

Kali ini ayah memilih untuk menghukumku dengan cara menjadikanku seolah tahanan rumah. Aku bebas ke manapun di istananya, tapi selangkah saja berani menginjakkan kaki di teras, maka ayah berjanji akan melakukan sesuatu yang lebih parah. Ponselku sudah dia hancurkan. Sambungan telepon di rumah dia cabut. Semua pegawai juga sudah diperingatkan untuk tidak membantuku dalam bentuk apapun demi bisa berhubungan dengan dunia luar. Jika tahanan penjara saja masih diberi kesempatan untuk ditemui orang tersayangnya, maka aku tidak. Aku sendirian.

Jangan tanya bagaimana semua ini bisa jadi sekacau sekarang. Tidak ada yang bisa menjelaskan padaku karena semua orang seperti disapu bersih saja dari hadapan. Jelasnya ayah bukan orang bodoh yang gampang ditipu. Ayah bukan orang biasa yang cuma punya dua telinga, dua mata, dan dua kaki. Ayah punya daya yang besar untuk mengetahui sesuatu hal meski sebanyak apapun aku berusaha menyembunyikan. Aku sudah salah dengan pernah berani mengentengkannya. Sekarang, aku sedang panen setelah bibir kecerobohan kusebar. Beberapa orang mungkin sedang menderita akibat membatuku mengurusi masalah ini.

"Kak Alben beneran nggak pulang ya, Mbak?"

Satu asisten rumah tangga yang kali itu sedang menyapu, mengangguk pendek. "Saya tidak lihat sejak kemarin, Mbak."

Bahkan aku tidak tahu kabar kakakku sendiri. Dia tidak pulang atau sebenarnya dilarang pulang oleh ayah. Meski kami sama-sama darah dagingnya, tapi ayah jelas punya perlakuan yang berbeda untuk membuat anak-anaknya sama-sama berkembang. Aku dirumatnya bak kaca yang mudah pecah, sedang Alben ditempanya bak baja yang harus selalu kuat. Tidak pernah ada tamparan yang kudapat, sedang Alben sudah kenyang akan hal-hal semacam itu kalau-kalau berbuat di luar kendali. Jadi mengingat apa yang sedang kutanggung, kupikir keadaan Alben jauh lebih parah.

Lalu Kak Abi. Dia pasti juga tidak lolos meski aku yakin tak akan separah yang Alben dapat. Mungkin ayah akan sebatas memutus hubungan kerja sama di antara mereka, yang artinya membuat satu kakap lepas dari jala kantor hukum yang dirintis oleh Om Ahnaf. Yang artinya juga, Kak Abi akan dapat hukuman double dari ayahnya sendiri.

Kututup kembali kamar Alben yang dingin tak berpenghuni. Daripada mati bosan mungkin aku bisa menonton serial yang manapun di televisi.

"Mau kemana?" Suara Ayah menggema, tepat sebelum aku mengungkit kenop pintu kamarku. "Lupa sekarang jamnya untuk apa?"

Sekarang sekitar pukul tujuh yang artinya adalah jam sarapan. Biasanya aku sudah di bawah dan duduk tepat di samping kiri ayah. Makan tidak makan, aku selalu setor muka di sana. Tapi sekarang, aku sedang tidak ingin makan. Memangnya siapa pula yang masih bisa menelan makanan jika berada dalam situasi begini?

"Aku nggak lapar, Yah. Ayah makan duluan saja."

"Kenapa? Perlu Ayah hampiri anak itu di rumahnya lalu bawa ke sini?"

Aku mengepalkan tangan. Sesuatu mendadak naik ke kepala dan sedikit membuatku terengah-engah di dada hanya dengan mengingat luka memanjang di telapak tangan Reihan yang entah apa bisa hilang atau tidak.

"Yah. Reihan cuma anak-anak," kataku masih dengan halus.

"Justru karena dia anak-anak. Dia adalah kelemahan orang-orang kepala batu macam kamu dan begundal itu."

RUMPANGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang