Blue Pov

Kami hanya saling memandang sedari tadi. Aku sibuk menunggu Harry menjawab sedangkan Harry sibuk memberikan aku jawaban. Dia seperti bingung namun juga seperti tersadar, kilau dimatanya yang biasa muncul sekarang redup oleh ketidaktahuan.

Aku tak mengerti, aku hanya ingin tahu dan kurasa itu cukup. Anne juga takkan keberatan kalau aku mengetahuinya kan? Apa ini semacam rahasia yang tak boleh diketahui siapa-siapa?

"Apa yang membuatmu bertanya seperti itu?" Menelan ludah, aku menjawab,"Tadi Ansel sedang pada sambungan telepon, aku tak sengaja mendengarkan pembicaraannya dengan seseorang sampai kemudian dia berkata bahwa 'anak kembaranmu baik-baik saja' itu yang kuingat."

"Maafkan aku Harry jika aku keterlaluan. Aku hanya ingin tahu, apakah Anne punya kembaran? Aku tahu ini bukan urusanku ma---" "Ya. Dia punya." Jawabnya singkat.

Melirik ke arahnya aku tersenyum puas dan lega. "Maukah kau ikut ke frat temanku? Dia akan mengadakan pesta menyenangkan malam ini."

Wajahnya bingung. Ajakannya seperti pengalih dari masalah sebelumnya. Dia tampak masih memikirkan sesuatu. Sesuatu yang jelas-jelas terlihat janggal. Oh Harry... Harry....

Aku mengangguk setuju. "Aku tak pernah perginke pesta semacam itu sebenarnya. Bisa kau jelaskan cara melakukannya?"

"Berpakaianlah seperti biasa, atau jika kau ingin lebih terlihat kau bisa dandan nyentrik." Dia terkekeh diakhir kalimat. "Aku? Menyentrik? Apa maksudmu??"

"Tentu kau tidak perlu. Aku berdiri hanya dengan kaus rumahan dan celana pendek saja sudah membuatku ingin menidurimu."

Ya Tuhan! Kalimatnya begitu vulgar, darimana dia belajar seperti itu? Apa itu seperti bakat terpendam yang akan muncul seketika diwaktu kau dewasa?

"Kita berangkat pukul 7 malam, oke?"

"Tidakkah itu terlalu awal untuk pesta?" Tanyaku dengan ekspresi bodoh. "Kita akan berkencan dahulu sebelum berpesta pora." Jawabnya yang membuatku tersipu.

...

Normal Pov

Paris, Prancis.

Cafe dekat rumah bergaya klasik disana sangatlah mantab. Perasaan rindu terhadap kampung halaman rasanya dapat diobati dengan cepat jika datang kesana. Lukisan bergambar pasir putih dengan ombak bergulung selalu mengingatkan Sienna akan Australia.

Ia memang selalu datang kemari. Entah itu hanya untuk minum kopi atau teh, atau makan malam sendirian. Dia tak terlalu tertarik dengan kehidupan di Paris tanpa Edward. Sienna merindukannya. Sienna merindukannya.

Seorang pelayan dengan kaus putih serta celana kain berwarna hitam dan motif garis menghampirinya di meja pojok, "Jadi Nona Marcus lagi?" Gadis itu mengangguk tersenyum. "Aku ingin memesan kopi."

Pelayan wanita itu mencatat pesanannya. "Bagaimana dengan salad? Itu jika kau sedang mood untuk makan."

"Kau bisa bawakan aku biskuit cokelat yang biasanya saja? Kurasa tak akan nikmat jika minum kopi dengan salad."

Dia hanya membalas dengan tersenyum lalu melenggang menjauhi meja Sienna. "Oh, Nona Marcus?"

Gadis yang dipanggil menaikkan satu alisnya menatap pelayan wanita tadi. "Tidakkah akan lebih baik jika kau mengajak teman untuk mengobrol?"

Wanita itu kembali menghilang di dapur.

Sienna menatap layar ponselnya, banyak sekali e-mail, chat, panggilan tak terjawab dan pesan masuk yang tak pernah dibuka. Yang selalu terpikir dalam benaknya adalah ketakutan saat kau membaca pesan dari seseorang yang paling kau tunggu.

Sienna hanya gadis biasa. Itulah yang jadi masalahnya, Ia takkan berbuat macam-macam. Yang dilakukan hanyalah menunggu,

Bukankah itu yang bisa wanita lakukan? Menunggu sesuatu yang mungkin takkan ada wujudnya.

Screenlock ponselnya masih menampilkan Edward dan dia. Bagaimana dia bisa melupakan Ed?

"Ini dia Nona. Secangkir kopi dan biskuit cokelat. Aku menambahkan susu pada kopimu, kupikir kau akan lebih menyukainya." Wanita itu kemudian meletakkan kopi serta biskuitnya diatas meja. Wajahnya kembali tersenyum ramah sebelum pergi meninggalkan meja Sienna.

Jemarinya diputar-putar pada gelas di depan. Matanya memandang lurus--Berkonsentrasi pada kopi berwarna cokelat muda. Wajahnya masih ragu dengan apa yang Ia rasakan sekarang, ada banyak hal yang terjadi dua tahun terakhir. Bertemu Edward disebuah diskotik jiga salah satunya, mungkin jika Ayah dan Ibu tak meninggalkan Sienna sendirian malam itu, Ia takkan bertemu dengan pria yang begitu dikagumi.

Sekali lagi, memori-memori itu datang berkunjung setiap kali Sienna meneguk kopinya.

Matanya yang lembut namun juga tajam. Ekspresinya yang selalu menggambarkan sosok sempurna. Senyuman yang kesannya selalu ditahan. Bahkan tawa yang selalu disembunyikan. Ia merindukannya. Sentuhan dari ujung jemari Edward, kadang Ia harus tertidur hanya untuk merasakan sensasi menyenangkan itu.

Sienna, kau dimana? Aku merindukanmu.

"Aku juga sangat merindukanmu, Edward. Aku teramat merindukanmu."

...

Suara sepatu terdengar dari pintu depan, gadis berambut pirang itu berlari untuk melihat siapa yang datang. "Tunggu sebentar!"

"Ini kami, Blue." Anne dengan wajahnya yang kelelahan.

Wajahnya pucat dengan mata sayu sedangkan Ayahnya sendiri tampak berdiri disamping Anne dengan setia. Jujur saja Blue cemburu dengan Anne yang bisa bersama dengan lelaki yang telah meninggalkan Ibunya.

"Ibu!" Seru Harry dari belakang Blue sebelum akhirnya dia berhambur pada Anne. "Bagaimana dengan Ed?"

Anne menghela nafas sembari menggeleng. Oh tidak! Kabar yang tidak menyenangkan.

"Kurasa Edward ada di Victoria? Aku tidak tahu, Harry." Anne tampak mengganjal pada kalimatnya. "Sudahkah Marcel kembali?"

Mereka yang ditanya menggeleng. "Harry, Charles akan mengirimmu ke London akhir musim panas ini."

Dan kemudian Harry menatap wajah Blue.

Hei, sorry this is suck sorry. Ya Allah H-4 UN Gue masyaallah. Please siapapun yang baca ini please doain gue biar dapet nem yang tinggi, biar masuk smansa, biar lancar dan dimudahkan. Begitu juga kalian yg mau UN, semoga dimudahkan yaa guys. Vomment lafflaff

The Triplets // harry stylesBaca cerita ini secara GRATIS!