three

2.5K 162 10
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

.

"Ayo pulang."

Hermione terdiam hampir melongo saat melihat bahwa yang menjemput dirinya bukanlah salah satu Pelahap Maut, melainkan suaminya sendiri, Voldemort.

Siapa yang mengira bahwa penyihir gelap itu mau direpotkan seperti ini. Terlihat seperti seorang pria sejati dan suami idaman. Tapi tak dapat dielak bahwa Hermione sedikit ketakutan sekarang.

Walau sosok penyihir didepannya bukanlah pada wujud ular nya yang pucat tak berhidung, tapi Hermione masih bisa merasakan aroma kematian dari sihir yang berkobar dalam dirinya.

Masih sama seperti saat insiden aula besar beberapa hari lalu, Voldemort memakai stelan jas berwarna hitam dengan kemeja hitam pula. Lalu rambut hitam legam yang tertata rapi dan wajah penuh bekas luka.

Bisa dibilang, sebenarnya sekarang Hermione sedikit tersipu melihat wujudnya yang sangat seksi dan panas. Tak bisa dipungkiri bahwa Voldemort sangat tampan. Tatapan tajam yang mengintimidasi dengan manik merah menyalanya membuat lutut Hermione seakan tak dapat menopang tubuh nya lebih lama lagi. Apalagi dengan laki-laki itu yang sejak tadi diam menatapnya, Hermione bisa memastikan bahwa wajahnya kini memerah entah karena apa.

Tidak mungkin dia tersipu karena tatapannya kan?

Perempuan itu terlonjak saat Voldemort menarik koper miliknya dan meraih pinggangnya tanpa kata. Tak memberikan salam perpisahan pada Professor McGonagall yang berdiri gugup sedikit takut didekat meja kerja nya. Penyihir tua itu bahkan sangat terkejut saat melihat Voldemort tampak baik-baik saja dengan menjemput Hermione seorang diri, bahkan membawakan koper dan memeluk pinggangnya sebelum menghilang dalam lahapan api hijau jaringan floo.

Ah, sial. Hermione ingin berpamitan dengan baik dengan Professor McGonagall, tapi apakah bisa dengan kondisinya yang saat ini dijemput oleh suaminya itu.

Setelah sampai disebuah ruangan yang sangat besar, Hermione melepaskan pelukan Voldemort saat itu juga, masih dapat merasakan tangan besarnya yang melilit dengan tegas di pinggangnya, terasa hangat tapi juga dingin. Lalu dia menjauh tak tahan untuk meneliti wajah laki-laki dewasa itu. Bahkan ia merasa beberapa detik setelah sentuhan mereka, dia tidak merasakan takut sama sekali dengan wujudnya yang sekarang. Sentuhan itu bagai benang sutra dengan aliran listrik. Bisa dikatakan bahwa itu membawa hal mengasikkan tersendiri dan Hermione ingin merasakannya lagi.

Nafasnya tiba-tiba menderu dan dia tanpa sadar memegang pinggangnya sendiri, memeluknya dengan pelan.

Hermione tidak dapat menahan ekspresi wajahnya. Wajahnya benar-benar memerah dengan kebutuhan hanya dengan sentuhan sesingkat itu.

"Kau bisa merapikan pakaian mu disana." Voldemort membuka suaranya, terdengar seperti alunan lullaby yang menyejukkan dan menenangkan. Berbanding terbalik dengan reputasinya.

Hermione mengangguk kaku, merasakan paha dalamnya terasa panas dan dia berjalan cepat menarik kopernya untuk menata ulang lemari berwarna coklat yang terletak di sebelah meja dengan patung pahatan ular.

love is the same as weakness ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang