"Gimana keadaan ibuk, pak? Hanum dengar dari Angga.. Ibu collapse lagi ya."
Terdengar helaan nafas dari seberang sana "Iya benar. Tapi kamu ndak usah khawatir. Keadaan ibu sekarang sudah membaik."
"Tolong sampaikan ke ibu. Seminggu lagi Hanum pulang, karena pekan ini hari terakhir KKN. Ibu jangan sampai dibiarin mikir berat-berat pak."
"Iya.. iya. Nanti bapak sampaikan."
Hanum terdiam beberapa saat karena teringat isi chatnya dengan Angga, si adik.
"Pak ... apa benar penyebab ibu collapse.. itu karena melihat pocong?" Tanya Hanum yang tak dapat menahan isi pertanyaan dalam pikirannya.
Suasana kembali hening beberapa saat, namun suara bernada berat dari seberang pesawat telpon memecah keheningan kemudian.
"Num. Bapak sendiri juga tak tahu pasti karena tak melihat sendiri. Namun ibuk mengatakan demikian. Tapi... apapun itu, kau tau bukan? penyakit ibuk terkadang menyebabkan halusinasi saat rasa sakit itu mendera. Yaah, apapun itu doakan saja agar ibu selalu sehat."
Hanum tersenyum tipis mendengar jawaban bapaknya. Yah, bapaknya adalah seorang lelaki yang sedari dulu lebih mengedepankan logika baru mengesampingkan perasaan kemudian. Pemikiran Hanum sering seirama dengan sang bapak. Dan lagi-lagi ia menyetujui hal tersebut. Berharap apa yang dilihat ibuk hanya halusinasi belaka. Lalu Hanum mengakhiri pembicaraan itu dengan salam.
Selang beberapa menit ponselnya kembali berdering, ia menatap layar ponsel dan langsung men-swipe nama 'Angga'.
"Halo Nggaa... mbak sudah menelpon bapak..."
"Gimana mbak? Bener kan ibuk habis liat pocong? Bener kan kata Angga?" Cerocos seorang pemuda memotong ucapan Hanum begitu saja.
"Siapa yang bilang begitu?" Ucap Hanum kesal karena Angga memotong kata-katanya begitu saja.
"Bapak kan?"
"Mbak belum bilang begitu. Kamu tiba-tiba aja motong ucapan mbak gitu aja."
"Loh? Bapak nggak bilang gitu emang?"
Hanum menghela nafas sejenak.
"Nggaaa ... bapak memang bilang kalau ibu me-nga-ku ngelihat pocong. Tapi bapak nggak ngelihat sendiri. Kamu tau kan kalau sakit ibu tiba-tiba kambuh, Biasanya ibu meracau berhalusinasi melihat yang macam-macam."
"Tapi kali ini Angga percaya kalau ucapan ibu itu benar mbak." Sanggah Angga penuh keyakinan.
"Kamu tahu dari mana?"
"Karena tiga hari setelah kejadian itu, Angga lihat sendiri pocongnya!"
Dahi Hanum mengkerut, ia menggeleng meski tahu Angga tak bisa melihat gerakan kepalanya saat ini.
"Ngaco kamu..."
"Beneran mbak. Angga berani sumpah demi Allah..."
"Hush! Jangan ngomong seperti itu!" Tegur Hanum. Baginya ucapan sumpah seperti itu tak bisa dibuat main-main.
"Makanya mbak dengerin cerita Angga dulu..."
Hanum mengangkat pergelangan tangan kirinya, menatap angka digital jam yang sudah menunjuk pukul 14.00. Yah, waktu luangnya masih tersisa banyak hingga ashar nanti. Tak ada salahnya menjadi berpikir lebih terbuka untuk mendengar cerita sang adik sendiri, meski nanti ia tak yakin bisa mempercayai sepenuhnya. Mengingat adik lelakinya yang satu ini lumayan badung dan tak jarang berbohong.
"Baiklah. Coba ceritakan sama mbak!"
***
KAMU SEDANG MEMBACA
TEROR POCONG KIRIMAN
HorrorKisah ini berasal dari pengalaman nyata dari seorang kerabat terdekat. Tentang teror pocong yang dikirim pada sebuah keluarga karena memiliki tujuan tertentu dengan perantara ilmu hitam. * * * * Hanum menutup pintu. Ia menghela nafas lega. Benar, it...
