DIA ( yang terindah )

595 15 5
                                    

Amarah dan penyesalan sering kali muncul silih berganti.
Bagaimana bisa aku yang harusnya kuat bak karang terjal yang mampu melemparkan seseorang kedasar jurang harus lantah oleh sapuan ombak kecil.

Cukup baikkah aku dimata manusia lain?
Aku yang munafikkan diri atas pertemanan yang terjalin dalam lingkaran manusia.

Pesakitan yang membuat gumpalan kemerahan ini meradang hingga menjalar ke denyut venaku.

Salahkan aku yang menciptakan alur yang merusak kebahagiaan yang seharusnya telah tercipta.

Cinta, seringnya aku berujar cinta dalam setiap kosa kata yang aku torehkan pada lembaran putih.

Kenyataannya, justru aku tak punya cinta...
Berangan manisnya rasa yang mereka agungkan, munafikkan diri oleh sebait rasa sang dewa dewi.

Jika debar-debar yang bergejolak disetiap perjumpaan bisa dimaknai dgn cinta, maka hanya kamu satu-satunya lelaki yang terbalut rapi dalam sudut memori terindah.

Takkan pernah tersentuh meski kelak masa depanku telah datang dan menemaniku.

Hanya diantara kau dan aku,
Memang pernah kuhabiskan bertahun hidupku bersamanya akan tetapi itu hanya ilusi cinta yang menggodaku untuk mencoba.

Raga kita memang tak saling memiliki, namun sapuan lembut angin dikala shubuh cukuplah untuk kita mengerti.

Mengenangmu, adalah putaran kenangan masa lalu dimana aku adalah aku.
Penuh gejolak ambisi, tertawa disaat memang harus tertawa, marah disaat aku terusik, dan belajar memaafkan disaat aku rindu.

Berbaring diatas tikar pandan dimalam hari memandang indahnya cahaya rembulan ditemani bintang-bintang, itulah kebahagianku bersamamu meski kita tidak hanya berdua.

Lirikkan-lirikkan yang kita lakukan seakan itu tabu untuk dilakukan. Hingga menerbitkan senyuman penuh kemerahan.

Saat adzan berkumandang itulah pertanda pertemuan, berterima kasihlah kepadaNya.

Anak manusia yang tak bernoda namun sudah mengerti makna cinta disaat orang dewasa menertawakannya.

Aku dulu memang tak seperti yang tergambar sekarang, tak ada wajah manis yang kau utarakan dan tak ada keceriaan yang kau dambakan.

Hilang...
Bersama lembayung senja yang mengantar kereta malam itu.
Aku pergi meninggalkan kenangan dan cinta yang sesungguhnya.

Takdir atau Pilihankah..???
Yang aku tahu aku mencintaimu seiring lilin-lilin yang tertiup.
Bukan luka namun bahagia.

Meski akhirnya kita tak bersama. Berbahagialah sajadahku
Aku yang merindukkan lafalan ayat-ayatmu di sepertiga malam.
Meski hanya menjadi imam dalam sujudku..
Kau pernah menjadi cahaya dlm perjalananku..

Sekarang,
Tak ada cinta manusia yang aku percayakan..
Hingga takdirlah yang menjadi pilihan.

Lantunan Dalam BaitTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang