46. JATAH ++

164K 6.3K 585
                                    

46. Jatah++

Bisa pas maljum gitu. Argh! Tapi maljum kali ini gak terlalu ngebuat gue seneng. Karena hujan. Btw ada yang sama nggak? Takut kalau ada hujan🌚, aneh gak sih.

Jangan lupa vote dan commentnya breee...

Ada typo, komenin aja?

Lanjutttt...

...

"Takut," lirih Nayla.

Erlangga mendongak menatap lekat wajah Nayla. Berusaha menenangkan cewek itu. Bagimana bisa, padahal sedikit lagi milik Erlan akan memasuki sarangnya malah Nayla mengatakan hal yang membuat Erlan sedikit ragu untuk melanjutkan.

Jujur, Nayla takut melakukan itu karna mereka berdua sudah tak melakukannya lagi beberapa minggu yang lalu. Tentunya hal tersebut membuat Nayla diserang rasa takut saat akan memulainya.

"Hm?"

Nayla menggenggam erat tangan Erlangga yang berada disisi tubuhnya. "Takut sakit," cicitnya.

Erlan mengulurkan tangannya lalu merapikan helaian rambut yang menutupi wajah cantik istrinya. Pria itu merendah, mengecup lama kening Nayla. Dua insan itu dapat merasakan degup jantung masing-masing. Terpacu cepat tak beraturan.

"Mau ya? Aku pengen banget, kalau sakit bilang." Disaat Erlan mengatakan hal itu, Nayla mengangguk pelan, seperti ragu. Namun melihat Erlan yang sangat menginginkannya. Apa boleh buat.

Lagipula itu sudah menjadi kesepakatannya waktu itu.

Nayla dapat merasakan ujung penis Erlan menyentuh miliknya, berusaha menerobos masuk dengan dorongan perlahan hingga menguat dari pria itu. Nayla mendesis berulang kali, rasa sakit mulai terasa sedikit. Erlan yang paham saat melihat raut wajah Nayla menahan sakit langsung menggenggam tangan cewek itu dan memindahkan di pundaknya.

"Cakar aja."

Erlan yang sudah tak tahan lagi langsung mendorongnya kuat-kuat. Nayla tersentak, cengkraman tangan cewek itu menguat hingga kukunya tak sengaja melukai pundak Erlan.

"AKHH!" Nayla mendesah keras merasakan perih pada vaginanya. Cewek itu menggeleng kuat sambil memukul pelan pundak Erlan. Tenaganya seperti menghilang begitu saja untuk menggeplak kuat-kuat.

"Ahh udah! Perih banget." Erlan mendongak menatap Nayla yang tak henti meringis.

Rasanya masih sama nikmat, sempit, sangat menjepit miliknya. Erlan mendesis merasakan pundaknya yang terasa sedikit perih akibat refleksnya Nayla tadi. Pria itu berusaha menenangkan Nayla yang sepertinya akan menangis.

Pria itu sedikit merendahkan tubuhnya, meletakkan kepalanya diceruk leher Nayla. Sesekali mengecup kulit mulus cewek itu. "Shh, tahan by," bisik Erlan.

Erlan dapat merasakan pergerakan Nayla yang mengangguk pelan. "Masih sakit?" tanya Erlan masih berbisik dengan keadaan yang sama yaitu menelungkupkan kepalanya di ceruk leher Nayla.

Nayla menggeleng pelan meskipun rasa sakitnya masih terasa. Sedikit. Nanti pun bisa terasa nikmat. Hal itu membuat Erlan kembali ke posisi semula. Pria itu terkekeh melihat hidung mungil Nayla yang memerah karena menahan tangis.

"Ih jangan diketawain," ucap Nayla sambil mengeratkan cengkramannya di pundak Erlan. Pria itu terdengar meringis.

"Shh, iya sayang. Aku gerakin ya?" Nayla mengangguk.

ERLANGGA (21+)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang