File 01

8.6K 890 109
                                              

Dia terdiam begitu aku menancapkan pisau itu ke dadanya. Sebelumnya dia sempat berteriak layaknya ayam sebelum disembelih. Mengumpat dan meronta layaknya orang gila... yah dapat kumaklumi. Siapa yang tidak akan meronta kalau tahu dia akan dibunuh?

Ini yang ke empat puluh satu... Menakjubkan. Sekarang apa yang harus kulakukan soal mayat ini? Mungkin, aku dapat membakarnya... Namun, jejaknya akan terlihat jelas. Bagaimana kalau kutenggelamkan? Ah, membosankan... Aku baru menenggelamkan korban ke-empat puluhku minggu lalu.

Krieekk

Suara pintu terdengar di telingaku, dari jendela aku dapat melihat seseorang masuk ke dalam rumah tempatku berada. Wah, gawat... Seharusnya tidak ada siapa siapa disekitar sini. Ah, biarlah.

Dengan ini jadi empat puluh dua.

Aku bersembunyi didalam sebuah lemari baju, menggenggam pisau kesayanganku di tangan. Kebetulan ada lubang di lemari itu, jadi aku bisa mengintip keluar.

Aku dapat mendengar dengan jelas orang itu masuk kedalam rumah, sepertinya dia belum menyadari mayat yang ada diruangan ini.

"Jake?" Ujar orang itu. "Kenapa pintunya tidak dikunci?" Dari langkah kakinya, dia nampaknya berada di tangga. Berarti masih ada rentang waktu kurang lebih 10 detik sebelum dia masuk ke sini.

Bagaimana sebaiknya aku membunuhnya, yah?

"Jake?!" Yap, dia menyadarinya. Dia langsung menghampiri mayat itu, menangis dan berteriak histeris.

Oke, ini kesempatanku. Jarak antara lemari dan punggung wanita itu kurang lebih dua meter, jika aku melompat keluar ada kemungkinan aku dapat langsung membunuhnya. Persetan dengan kemungkinan, akan kubunuh dia sekarang.

Aku keluar dari lemari, berjalan perlahan menuju wanita yang sedang mengambil telepon genggam miliknya dikantong celananya.

"Polisi, aku harus telepon polisi!" Ujarnya panik.

"Wah, nona. Aku tidak bisa membiarkan kau melakukannya." Aku menancapkan pisauku ke leher wanita itu sebelum jarinya menyentuh angka 9 di telepon genggamnya.

Seperti kubilang, layaknya ayam yang disembelih. Tubuh wanita itu kejang-kejang dan darahnya mengalir kemana mana. Setelah beberapa detik, dia terdiam.

Wah, sekarang apa yang harus kulakukan mengenai dua mayat ini?

"Hei"

Aku menengok ke asal suara itu. Seorang perempuan berdiri diambang pintu, menyaksikan semuanya.

"Apa yang kaulakukan?" Tanya perempuan itu.

Suaraku tertahan di tenggorokanku, tidak mau keluar. Jantungku berdebar kencang dan tubuhku mulai berkeringat.

Seseorang melihat kegelapan didalamku.

"Siapa kau?" Tanyaku, berusaha terdengar setenang mungkin.

Dia terdiam dan berjalan mendekatiku. "Aku orang yang selalu memperhatikanmu." Rambut hitamnya berkilau diterangi cahaya bulan. "Aku tahu semua tentangmu."

Dia tahu semua tentangku? Semuanya? Kalau begitu... kenapa dia tidak lari? Seharusnya dia tahu kalau aku akan membunuhnya.

"Aku tahu siapa kau sebenarnya, Marco Gillard.." Ujar perempuan bermata emerald itu.

Dia tahu namaku... Darimana dia tahu namaku? Siapa dia sebenarnya?

"Dengar, jangan banyak bercanda... Lebih baik kau lari sekarang, atau kubunuh kau." Aku mencabut pisau yang menancap di mayat wanita.

InsideTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang