Part 9 - Somethin Kinda Crazy

1K 33 0

"Pagi, Kak Adri!" dengan semangat Devina menyapa Kakak kelas yang berdiri tepat dihadapannya, seraya menyunggingkan senyum terbaiknya.

"Pagi." Adrian pun tersenyum tak kalah manisnya, lalu ia mengacak sedikit rambut Devina.

Devina pun menjadi tersipu malu. "Nih sarapan buat kakak." Kemudian ia menyodorkan sekotak makanan berisi sandwich.

"Sarapan bareng yuk!" ajak Adrian.

Pelajaran baru akan dimulai sekitar 20 menit lagi, jadi tak ada salahnya jika mereka menikmati sarapan terlebih dahulu, begitu pikir Adrian. Kemudian mereka pun berjalan beriringan.

Mereka mendapat tatapan iri sekaligus tak percaya dari murid lainnya saat melewati lorong sekolah yang sangat ramai. Samar-samar terdengar pembicaraan mengenai mereka berdua, kebanyakan adalah omongan pedas yang dilontarkan oleh murid-murid perempuan, yap! Fans Adrian di sekolah.

"Gila kali ya si Adri. Seleranya rendah banget!" Devina mendengar dengat amat jelas ucapan itu. Matanya mulai memanas, Ia menunduk, menghindari tatapan tajam disekitarnya.

Sementara Adrian –yang juga mendengar ucapan itu– semakin tak perduli, ia hanya memandang lurus ke depan, memasang wajah datarnya seperti biasa.

"Ck ck ck, perempuannya gak tau diri banget!" Adrian menatap tajam sang pemilik suara, namun murid tersebut justru semakin menantangnya tak mau kalah.

Pertahanan Devina sudah semakin rapuh, Ia ingin menentang semua omongan itu, tapi ia tidak memiliki keberanian secuil pun. Pada akhirnya ia hanya menghindari tatapan tajam dari orang-orang disekitarnya.

Adrian merangkul bahu Devina, Devina pun sontak kaget atas perlakuan Adrian itu. "It's okay. I'm here." Gumam Adrian. Devina tersenyum simpul, ternyata laki-laki ini mengerti apa yang dirasakannya.

Adrian mengajaknya ke sebuah taman kecil di belakang sekolah mereka, karena hanya ini satu-satunya tempat yang sepi –selain atap sekolah mereka tentunya–, dengan sifat gentleman-nya Adrian menarik lengan Devina dan mengajaknya duduk di sebuah kursi.

"Nggak usah pikirin omongan yang gak penting itu. They don't know about us." Perkataan Adrian barusan membuat hati Devina tenang sekaligus dag dig dug tak karuan.

"They don't know about us bukannya lagu One Direction, Kak?" Devina berusaha mencairkan suasana.

"Yee malah bercanda nih anak." Adrian terkekeh kecil. Mereka pun tersenyum dan saling menatap satu sama lain.

Kemudian Adrian menyodorkan sepotong sandwich pada Devina "Nih cepet makan, nanti keburu bel masuk."

Devina pun memakannya dengan lahap.

Best breakfast ever!

-----

Kejadian pagi ini membuat Cloudy dan Aubrey merasa heran. Keduanya terdiam di tempat, tak berkutik sedikit pun ketika kejadian itu berlangsung.

"Adrian kenal sama Devina?" gumam Cloudy.

Aubrey menghela nafas berat "Seleranya Adrian tinggi juga ya."

"Kok gue nggak pernah tau?" lanjut Cloudy.

"Da aku mah apa atuh, cuma butiran debu dimata Adrian." Lagi-lagi Aubrey kembali menghela nafas. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.

"Dan sejak kapan mereka deket?" dahi Cloudy berkerut.

"Adrian cuma satu-satunya cara untuk memperbaiki keturunan gue." Aubrey menatap nanar punggung Adrian yang semakin jauh.

Only One [Completed]Read this story for FREE!