43. UJIAN

82.8K 5.6K 350
                                    

43. Ujian

Daring kebanyakan tugas. Tapi gue sukanya diem aja sih, mager ngapa²in.

Typo? Komenin aja.

Lanjuttt

...

Erlan terperanjat saat merasakan gumpalan kertas mengenai kepalanya lalu melesat hingga ke telinga pria itu. Sakit sih tidak, namun kedatangannya yang tiba-tiba disaat situasi tegang membuatnya kaget.

Erlangga berbalik arah melihat Alan yang sudah menyengir. Sedangkan Devian yang disebelah Alan masih tenang mengerjakan ujian.

"Erlangga, ngapain lihat ke belakang?" tanya pengawas ujian. Tatapan pria itu langsung menajam menatap Alan.

"Engh, anu pak, mau pinjem penghapus," sahut Erlan gugup membuat sang pengawas curiga.

"Makanya kalau mau ujian alat tulis harus lengkap. Biar gak nyusahin teman waktu ujian." Erlan mendelik. Disini, Alan lah yang menyusahkan bukan dirinya. Kenapa harus dirinya yang terkena ocehan.

Ujian pun berlanjut namun gumpalan kertas kembali mengenai kepala Erlan. Dengan geram pria itu langsung mengambil dan membuka kertas tersebut dengan hati-hati agar guru dengan kepala botak itu tak melihat pergerakannya. Erlangga menemukan beberapa angka yang tersusun di lembaran kertas yang ia pegang. Tepatnya dari Alan.

Kalo gak dikasih tega banget. No 2, 7, 13, 25 sama 30. Trus bagian B nya semuanya ya El. Gue lupa rumus matematikanya. Lo kan pinter, bantuin dikit napa.

Dikit katanya? 10 soal itu dikit katanya? Erlan menggebrak meja sekerasnya. Hal tersebut membuat seisi ruangan tersebut terkejut. Erlan menjadi pusat tatapan dari mereka semua. Sungguh, jengah sekali.

...

4 hari lagi

Nayla mendesah pelan saat melihat kertas yang terselip pada bukunya. Ini bukan tulisan tangannya melainkan sesuatu tagihan dari Erlangga mengenai jatah yang harus ia berikan setelah ujian. Ya, tepatnya ujian akan berakhir empat hari lagi. Dan sebelumnya, Erlan terus meneror Nayla dengan lembaran kertas.

Cewek itu mengeram tertahan, ia meremas kertas tersebut lalu melemparkannya pada tempat sampah di kamar. Nayla berbalik menatap Erlan yang menyengir. Pria itu terlihat sedang membaringkan tubuh di ranjang.

"El, beliin aku asinan dong," suruh Nayla penuh rayuan. Wajahnya yang mengerut kesal sudah kembali ceria. Kalau tidak, Erlangga tak kan mau membelikannya.

Erlan menggeleng. "No." Singkat, padat dan halal untuk digeplak. Nayla mendekat lalu menduduki ranjang, tepatnya duduk disebelah Erlan.

"Lagi pengen nih, gak kasian sama aku? Eh, sama dedeknya."

Pria itu tersenyum nakal. "Jadi, yang pengen siapa? Kamu atau yang disini?" tanya Erlan sambil menunjuk perut Nayla yang masih datar.

"Kalo aku yang minta, kamu gak mau beliin gitu?" Nayla memelaskan wajahnya. Erlan langsung mengangguk dengan hal itu. Why? Refleks Nayla menggeplak tangan Erlan sekerasnya.

"Fine! Gak usah minta jatah sama aku."

Nayla bangkit membuat Erlan panik. Tujuannya untuk menjaili sang istri malah berujung mendebatkan masalah jatahnya. Erlangga cepat-cepat bangkit dari berbaringnya lalu menahan tangan Nayla.

ERLANGGA (21+)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang