Happy reading.
Di sebuah gedung yang menjulang tinggi terlihatlah seorang pria berwajah tampan dan menggunakan setelan jas sedang memasuki ruangannya. Dia adalah Rasya Ashaz Gohan pemilik perusahaan nomor 1 di dunia. Hari ini adalah hari pertama ia kerja, banyak pegawai yang belum mengetahuinya. Semua mata karyawan tertuju padanya, banyak yang bertanya-tanya siapa sosok laki-laki tampan itu Rasya yang ditatap banyak pasang mata bersikap biasa saja.
Tiba-tiba salah satu perempuan cantik yang berpakaian minim mencegatnya, "Permisi tuan anda siapa ya? Kenapa masuk ke ruangan bos saya, bos saya sedang tidak masuk kerja hari ini."
"Saya bos baru kalian Ayah saya sudah tua jadi saya yang akan menggantikannya," ujar Rasya.
"Emm iya Pak maaf atas kelancangan saya," kata perempuan yang bernama Della.
"Satu lagi untuk kamu tolong berpakaian seperti biasanya kalau tidak mau saya pecat," peringatan Rasya.
"Kenapa begitu Pak, dulu waktu Ayah anda yang bekerja saya tidak pernah di permasalahkan masalah pakaian," bantahnya.
"Peraturan saya sama ayah saya berbeda, jika anda tidak mau menuruti saya silahkan angkat kaki anda keluar dari kantor saya."
"I-iya Pak maaf," ujarnya dengan gugup.
Di lain tempat terlihat seorang wanita cantik yang sedang berdebat dengan sang ayah. Dia adalah Anesia Clarissyah, anak dari pemilik perusahan terkaya nomor 2 di dunia. Ayahnya menginginkan ia bekerja di kantor sebagai bosnya tapi Rissya enggan ia hanya ingin menjadi karyawan ataupun sekretaris bos.
"Ayah gak mau tahu pokoknya kamu harus kerja di kantor Ayah untuk menggantikan Ayah."
"Gak mau suruh Bang Dito aja. Rissya gak mau ya jadi bos, Rissya maunya jadi sekretaris bos ganteng gitu kan yah siapa tahu nanti bosnya bisa jadi suami Rissya," ujarnya panjang lebar.
"Hmm iyah deh iya. Coba aja kamu melamar kerja di kantor Gohan corp, Ayah dengar sekarang anaknya yang gantiin dia jadi bos."
"Ayah Rissya memang yang terbaik," kata Rissya sambil mencium dan memeluk Ayahnya.
"Huh! Kalo dah urusan cowok gercep banget lo," cibir dito yang tiba-tiba muncul
Rissya dan ayahnya menoleh kearah cowok tersebut, Rissya memandang dito dengan tatapan sinis, "Apa-apaan si lo Bang, suka-suka gue lah."
"Santai dong dek, gausah nyolot gitu."
"Tau ah, aku mau ke kamar dulu, bye!"
Keesokkannya Rissya segera menghampiri Ayah dan Abangnya, masih memakai piyama tidurnya. Pagi ini dia berniat inging melamar kerja di perusahaan Gohan Corp.
Gadis itu menuruni anak tangga satu persatu, ya kamarnya berada dilantai 2, dengan wajah cerianya dia menyapa Papanya dan Abangnya saat sudah berada dilantai bawah. Ada yang bertanya dimana ibunya? Ibunya sedang pergi biasalah ada arisan.
"Selamat pagi semuanya!" sapanya dengan nada ceria.
Kedua laki-laki berbeda usia itu menoleh kearah seorang gadis, "Pagi juga!"
"Ceria amat neng pagi ini," celetuk Dito
Rissya menarik kursi dan mendudukinya tepat di samping Abangnya, "Iya dong harus ceria, kan mau ketemu cogan."
"Cogan Mulu otak lo, sama yang ono udah move on belom?" tanya Dito.
"Ish apa sih! Di ingetin lagi bosen tau gak. Gue ingetin lagi ya Abangku sayang termuach-muach gue itu udah move on kali dan sekarang gue mau mencari cinta yang baru dengan bos kaya nan tampan. Mantep gak tuh?" tanyanya.
"Iya kalo bosnya mau, kalo kagak mah pupus dah impian lo."
"Gue itu Adek lo, seharusnya lo dukung kali Bang. Hiks," katanya dengan pura-pura menangis.
"Mau acting nangis lo? Gak mempan tau."
"Yaudah sih," kesalnya lalu pergi meninggalkan sang Kakak dan melangkahkan kakinya menuju taman belakang rumahnya.
"Duh gimana ya nanti pertemuan sama bosnya, apa gue harus bersikap genit gitu biar bosnya suka atau gue harus sok-sok polos? Ah gak gue banget itumah sejak kapan kan ya gue mantan tomboy bersikap kaya gitu," pusing memikirkan caranya agar bisa mendapatkan hati sang cowo Rissya tertidur di kursi taman.
Setelah bersiap-siap Rissya tak lupa pamit dengan Abang dan Ayahnya, setelah pamit ia segera melangkahkan kakinya menuju garasi dengan memakai mobilnya untuk pergi melamar kerja dan bertemu bos ganteng.
Beberapa menit kemudian dia telah sampai disebuah perusahaan bernama Gohan Corp, di memandang gedung yang menjulang tinggi itu.
"Bismillah semoga bosnya ganteng," dia melangkahkan kakinya berjalan masuk. "Kenapa gugup banget sih gue, biasanya ketemu cowo aja gak kaya gini gue dulu."
Tok tok tok
Setelah mengetuk pintu Rissya mendengar suara dari balik pintu, suara itu terdengar menyuruhnya untuk masuk. Setelah masuk ke ruangan Rissya segera duduk di kursi depan di hadapan bosnya.
"Yang suruh anda duduk siapa?" tanya Rasya.
"Adanya kursi ya buat duduk lah Pak," gumam Rissya.
"Apa katamu?" tanya Rasya.
"Eh nggak ada kok Pak."
"Permisi pak, perkenalkan dia yang barusan melamar kerja sebagai sekretaris Bapak," ujar Raden, dia adalah sekretarisnya Ayah Rasya namun dikarenakan ia tidak mau bekerja lagi karna sedang fokus dengan keluarganya di desa.
"Iyak Pak Raden, siapa nama kamu?" tanya Rasya.
"Perkenalkan saya Anesia Clarissyah Pak, panggil saja Rissya."
"Saya Rasya,"
"Duh ya ampun nama gue sama dia hampir mirip. Aaaaa sabi nih jadi jodoh gue!!" teriaknya dalam hati.
Author 1 POV
"Emangnya teriak dalam hati bisa ya?"
Author 2 POV
"Di bisa-biasin aja sih, diem deh gak usah banyak tanya."
Skip
"Mana berkas anda?"
"Ini Pak," Rissya memberikan berkasnya pada bosnya.
"Saya gak setua itu untuk Anda panggil Pak dan saya juga bukan Bapak anda."
"Ribet amat lo Bambang." batinnya.
"Saya harus panggil apa dong?"
"Terserah anda tapi jangan Pak."
"Rissya panggil Mas aja kalo gitu."
"Kenapa harus Mas?"
"Mas Suami gitu maksudnya, eh calon maksudnya," ucapnya tanpa sengaja.
Ada yang aneh? Sejak kapan seorang Rasya yang terkenal cuek meladeni Rissya yang sangat bawel. Mungkin sebentar lagi bosnya yang cuek akan luluh juga padanya.
"Bangun, jangan mimpi. Saya gak akan jadi Suami kamu."
"Ciee tadi saya-anda sekarang saya-kamu pasti sebentar lagi aku-kamu tuh, ya kan pak?"
"KELUAR!!" teriak Rasya.
"Aduh jadi saya ga diterima ini pak?Tolong terima saya kerja disini pak, saya lagi butuh kerjaan," Rissya mengeluarkan jurus utamanya atau bisa di sebut dengan puppy eyes.
"Gausah di imut-imutin itu muka, saya pikir-pikir dulu, sekarang silahkan keluar dari ruangan saya,"
"Yaudah pak iya," setelah berjalan menuju pintu keluar Rasya pun teriak, "KAMU SAYA TERIMA."
"Terima kasih Mas."
KAMU SEDANG MEMBACA
Sebuah Pilihan
RandomKukira mendapatkanmu kembali hanya sebuah mimpi, tetapi pada kenyataannya mimpi itu menjadi suatu hal yang nyata. ~Rasya Ashaz Gohan~ Aku mengira dia tak akan kembali lagi, setelah kejadian dimasalalu, dan apa yang sudah kulakuan padanya, jodoh itu...
