40. KUNJUNGAN DITA

56.7K 5.5K 310
                                    

40. Kunjungan Dita

Beneran, gue lagi sibuk😌

Karena ini hari senin, buat yg Sekolah/daring semangat belajarnya. Iya, belajar dulu baru ngewattpad. Buat yang santai sih silahkan menuhin perpustakaan wattpadnya😶

Ada typo? komenin aja!

...

Tepatnya dihari minggu, kini Dita sedang mendatangi rumah Erlangga dimana ada keponakannya disana. Siapa lagi kalau bukan Nayla, istri dari Erlan itu sendiri.

"Wow!" Erlan menatap heran kearah wanita berpakaian jas putih ciri khas dokter dengan beberapa kantong plastik yang Dita bawa.

"Nayla yuhuuu, keponakan tante yang cantik dimana ya?" Wajah Erlangga mendatar karena Dita berpura-pura seperti tak melihat keberadaannya. Padahal Erlan tepat berada didepan Dita namun dengan seenaknya Dita langsung menerobos dan mencari keberadaan Nayla.

Erlangga mendengus lalu kembali terduduk di sofa. "Tante, ngapain?" tanya Nayla saat cewek itu baru turun dari tangga.

"Bawain kamu camilan sama kebutuhan ibu hamil deh. Semuanya dijamin menyehatkan," ucap Dita.

Dita langsung meletakkan belanjaan tersebut dipangkuan Erlan. Lihat! Ini sungguh penistaan. Kenapa Dita dan Alvan itu sama. Sama-sama suka menistakan Erlangga.

"Serah lu deh tan. Emang cewe itu selalu benar. Btw, mau minum apa?" tanya Erlan masih dengan wajah datarnya.

"Ah gak perlu repot-repot. Ini sekalian tante mau pamit."

Wajah Nayla terheran. Erlan kembali terduduk padahal pria itu baru saja akan ke dapur untuk membuatkan minuman. "Pamit? Emang tante mau kemana?"

"Tante bakal pindah tugas." Sebelah alis Erlan naik tak memahami maksud Dita.

"Siang nanti, jadwal penerbangan tante menuju Amerika. Ya tepatnya di Chicago. Tempat orang tua kalian sekarang bekerja."

Raut wajah Nayla sungguh tak bisa digambarkan. Bisa-bisanya seluruh keluarganya menghilang secara satu persatu hanya karena pekerjaan. "Jadi, tante mau ninggalin Nayla?" tanya Nayla pelan.

Erlan menatap istrinya itu, Nayla seperti tengah menahan tangisnya. "Empat tahun lagi kita bertemu. Tante jamin," ucap Dita langsung memeluk Nayla.

"Sehat-sehat disini ya? Meskipun gak ada tante, gak ada mama sama papa kamu. Inget, kamu masih punya Erlangga disini dan untuk yang ada disini, dijaga baik-baik. Tante sayang kalian bertiga." Dita mengelus pelan perut Nayla.

...

"Udah dong nangisnya, liat tuh matanya bengkak," ucap Erlan sambil mengelap air mata Nayla.

Sungguh akhir-akhir ini Nayla memang sensitif, disenggol dikit nangis, marah dan lain-lain. Tak ada sabarnya sama sekali.

"Mama, papa sekarang tante Dita. Emang ya, menjadi dewasa itu susah, ribet. Bahkan untuk kumpul sama keluarga sendiri aja susah." Erlan meletakkan jarinya tepat dihadapan mulut Nayla hingga cewek itu berhenti ngedumel.

"Kita belum ngerasain kerasnya dunia luar. Jadi wajar kalau pendapat kamu kek gitu. Gak semua orang minta seperti ini, kalau sudah takdir, apa boleh buat?"

Nayla menunduk dengan sesenggukan kecil yang masih terdengar. Erlan mengulurkan tangan membuat Nayla kembali mendongak. "Yuk tidur, udah malem," ajak Erlan pelan.

Cewek itu mengangguk. Sebenarnya mereka baru saja selesai dari makan malam berdua dan kini mereka tengah menuju kamar, menaiki satu persatu anak tangga tak lupa dengan Nayla yang mengajak Erlan bercerita.

"Kalau aku pengen lagi, boleh?" tanya Nayla.

Erlan mengangguk mantap. "Boleh dong. Emang mau apa sayangnya aku?"

"Pengen roti." Erlangga meremehkan permintaan dari Nayla. Hilih, cuma roti kan? Tidak susah dicari dan tentunya tidak akan menyusahkan dirinya.

Namun setelah itu ternyata ucapan Nayla masih ada lanjutannya yang membuat Erlangga mendelik. "Pengen roti sobeknya kamu."

"Nggak!" tolak Erlan langsung mengangkat tubuh Nayla agar mereka cepat sampai dikamar.

Sesampainya di kamar, Erlangga meletakkan Nayla di ranjang. Menyelimuti tubuh cewek itu lalu meredupkan cahaya kamar. Apa? Roti sobek? Sungguh Nayla sedang tak mengerti keadaan. Bagaimana kalau milik Erlangga terbangun, pastinya Nayla tidak siap dan tidak boleh melakukannya kan?

"By, mau," ucap Nayla pelan.

Erlan menatap wajah Nayla yang memohon. Cewek itu terus merengek tak jelas hingga membuat wajahnya sedikit memerah karena menahan tangis. "Nanti kalau punya aku bangun gimana by?" tanya Erlan.

"Siapa suruh baperan. Aku mau elus-elus roti sobeknya aja kok."

Erlangga pasrah. Pria itu terduduk lalu melepas kaos yang ia pakai dan kembali membaringkan tubuhnya lagi. Nayla langsung menjulurkan tangan mencari keberadaan sixpack milik Erlan yang ia sebut-sebut roti sobek sedari tadi.

"Awsh gemes," ucap Nayla senang. Iya gemes sampai buat Erlan menahan mati-matian kan?

Pria itu hanya bisa tersenyum melihat Nayla tak bersedih lagi namun ia harus menahan sesuatu yang bisa mengeras kalau tangan Nayla semakin bergerak gemas turun naik menjelajahi tubuhnya.

"Eh gak boleh by." Erlan memegangi tangan Nayla kala pergerakan cewek itu mengelus perut bagian bawah milik suaminya.

"Nakal banget. Udah, mending tidur," suruh Erlangga. Nayla memelaskan wajahnya.

"Ihh nggak! Aku masih mau elus-elus kok."

Tak ada cara lain, Erlangga hanya terus pasrah kalau sudah seperti ini keadaannya.
Pria itu mengambil bantal lalu menutupi wajahnya, ia tak ingin melihat wajah Nayla yang hanya bisa menambah untuk membangunkan sesuatu dibawah sana.  Erlan terus mendesis karena elusan dari Nayla sungguh bukan main jika dirasakan.

Hingga sesuatu berasa dipegang seseorang. Erlan tersentak dan langsung berteriak saat itu juga.

"Akhh! Nay stop."

Nayla terkejut melihat Erlangga yang tiba-tiba terduduk. Wajah pria itu tak santai sama sekali. Sangat tegang dan tentunya membuat Nayla terheran-heran.

"Punya aku jangan ikut dimainin," ucap Erlan kesal.

Setelahnya, Nayla terkekeh baru memahami kenapa Erlan tersentak tadi. Erlan memelas melihat kebawah sana. Ah! Sudah bangun ternyata.

"Udah bangun dari tadi kok. Kan aku cuma pengen pegang."

Erlangga geleng-geleng kepala mendengarnya. "Cuma kamu bilang? Ini kalo di pegang bahaya by." Erlan gemas, pria itu langsung menangkup wajah Nayla, memainkan pipi yang terlihat semakin chubby itu. Nayla tertawa jadinya.

"Udah ih gak jadi. Mau tidur aja," ucap Nayla langsung membaringkan tubuh di ranjang.

Sedangkan pria yang masih terduduk itu berdecak melihatnya. Sungguh! Nayla tidak bertanggung jawab. "Nay, ini punya aku udah bangun loh gara-gara kamu."

"Gak mau tau," sahut cewek itu.

"Siapa suruh anunya baperan. Baru dipegeng dikit udah bangun," sindir Nayla pelan dan masih dapat didengar oleh Erlan.

...

Sibuk ngegabut😗

Ehh, valentine ga sih!

Nextt???

ERLANGGA (21+)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang