BAB 34 : Sadar

34.4K 4.6K 133
                                    

Haiii! Lama yak updatenya? Maap yakkk ㅠ.ㅠ
Mau banget cepet update, tapi gimana yah, aku belum se-pro itu nulis ㅠ.ㅠ
Pokoknya makasih banget yang udah sabar nunggu. Luv yu pullll 

 Luv yu pullll ♡

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Dia tertawa. Wanita itu tertawa.

Nayara tertawa lepas, sangat lepas dengan seorang laki-laki dan laki-laki itu bukan dirinya. Ini jauh lebih mengesalkan dibanding saat melihat Nayara mengobrol dengan Nino sebelumnya.

Jauh... Jauh lebih mengesalkan.

Rasanya Arsen ingin menarik wanita itu sekarang juga dan menjauhkannya dari laki-laki itu.

Jujur, sebenarnya Arsen sangat senang dapat melihat tawa Nayara lagi. Arsen sangat merindukan tawa wanita itu. Tawa yang selalu dia dengar dulu, setelah Nayara menceritakan sesuatu yang lucu padanya. Arsen sangat suka mendengarnya. Cerita dan juga tawanya. Tapi itu dulu.

Yah, dulu...

Sekarang, jangankan tertawa, untuk melihat senyumnya saja butuh usaha yang keras. Arsen lebih sering mendapatkan tatapan mendelik dan kesal dari Nayara. Arsen tidak menyalahkan Nayara, dia memang pantas mendapatkannya. Nayara seperti itu karna ulahnya dan Nino yang melakukan taruhan konyol. Entah apa yang dulu dia pikirkan sehingga mengiyakan ide gila Nino hanya untuk sebuah kamera.

"Woi! Kok lu sendirian? Nayara mana?" tanya Rakka sesampainya di meja yang ditempati Arsen dan langsung duduk di sebelah kanan Arsen.

"Iya, tadi aja langsung narik pergi. Sekarang malah ditinggalin" sahut Nino yang mengambil tempat duduk di sebelah kiri Arsen dan menjadikan Arsen duduk di tengah.

Arsen memang sendirian di meja itu. Odie dan Deon sudah pamit entah ke mana, Arsen tidak terlalu mendengarkan tadi saat mereka berpamitan, karna dirinya terlalu fokus melihat interaksi antara Nayara dan laki-laki yang duduk bersama wanita itu.

Tidak mendapat jawaban dari Arsen, Rakka mengikuti arah pandang Arsen dan menemukan sosok Nayara yang tadi dia dan Nino tanyakan keberadaannya.

"Ohh~ Ditikung nih ceritanya?" kata Rakka, lalu mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.

Nino yang bingung dengan ucapan Rakka bertanya, "Ditikung?".

"Iya. Tuh, liat aja"

Nino lalu mengikuti arah pandang kedua sahabatnya dan menemukan Nayara yang sedang duduk dan mengobrol dengan laki-laki lain. Dilihat dari ekspresi Nayara yang tertawa lepas, dapat dipastikan obrolan mereka sangat seru.

"Miris amat, Ar. Baru pdkt udah ditikung aja" kata Nino meledek Arsen.

Arsen yang sejak tadi diam akhirnya membuka suaranya dan membalas ucapan Nino.

"Gw gak lagi pdkt"

Arsen langsung membantah ucapan Nino yang bilang kalau dirinya sedang melakukan pendekatan dengan Nayara. Arsen memang melakukan pendekatan dengan Nayara, tapi pendekatan agar dirinya dimaafkan sepenuhnya oleh Nayara. Arsen tau Nayara belum sepenuhnya memaafkannya. Selain itu, Arsen ingin berteman dengan Nayara.

Ya, hanya berteman.

Namun Arsen tau, bukan pendekatan seperti itu yang dimaksud Nino.

"Gak lagi pdkt tapi kosongin jadwal cuma buat nemenin Nayara pergi ke pasar bunga. Pakai acara tetap jemput segala padahal Nayara udah nolak buat dijemput. Terus pulangnya dinner di A Maggio, yang kita semua tau kalau itu restoran favorit lu. Seinget gw, lu gak pernah ngajak cewek lain selain Kaila dan nyokap lu untuk makan di situ" ungkap Rakka membeberkan perilaku Arsen beberapa minggu terakhir.

Arsen diam, tidak membalas ucapan Rakka. Tidak ada yang harus dia balas dari ucapan Rakka. Semua yang dikatakan Rakka benar. Tentang dia yang mengosongkan jadwal dan fakta kalau Nayara adalah wanita pertama, selain ibu dan adiknya, yang dia bawa ke A Maggio, semuanya benar. Arsen tidak mengelak kali ini.

Melihat Arsen yang hanya diam, Rakka kembali melanjutkan, "Ada lagi. Kata Kaila, hari ini kalian datang berdua, pasti karna lu yang maksa buat pergi bareng kan? Ck, lu tuh udah suka sama Nayara, Ar. Kalau lu gak suka, gak mungkin lu ngelakuin semua yang gw omongin tadi dan cemburu sama Nino, juga cowok yang sekarang lagi duduk sama Nayara"

"Cemburu sama gw? Kapan?" sambar Nino.

"Tadi pas lu ngobrol sama Nayara dan Kaila. Mata dia gak lepas dari lu dan Nayara"

"Anjirr! Pantes tadi gw agak merinding pas ngobrol sama Nayara"

"Si bego. Hahaha"

Arsen masih diam tidak membalas satu pun ucapan Rakka. Lagi-lagi karna seluruh ucapan Rakka memang benar. Arsen juga bingung kenapa dia bisa melakukan itu semua untuk Nayara. Dia tidak pernah seperti itu ke wanita lain, selain ibu dan adiknya tentu saja. Bahkan saat berpacaran dengan Odie.

Saat masih menjalin hubungan dengan Odie dulu, Arsen tidak pernah merubah jadwalnya untuk menemani wanita itu. Dia juga tidak pernah mengajak wanita itu pergi dinner atau semacam. Selalu Odie yang mengajaknya duluan. Dia juga tidak pernah sampai uring-uringan hanya karna Odie tidak membalas chat atau tidak mengangkat telpon darinya. Sifat cueknya inilah yang membuat Odie tidak tahan dan akhirnya memilih mengakhiri hubungan mereka.

Tapi dengan Nayara, Arsen melakukan hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya ke wanita mana pun. Arsen rela melakukan apapun agar dapat bertemu Nayara dan membuat Nayara tersenyum. Benarkah tanpa sadar dia sudah suka dengan Nayara?

Tidak tau

Satu lagi. Arsen juga tidak pernah marah jika Odie berdekatan dengan teman laki-laki wanita itu. Itu bukan masalah baginya. Toh, mereka berteman.

Tapi kenapa ketika dia melihat Nayara dekat dengan laki-laki lain, yang statusnya hanya teman wanita itu, dia merasa kesal. Benarkah tanpa sadar dia juga... cemburu?

Tidak tau

Arsen sungguh-sungguh tidak tau tentang perasaannya sekarang. Dia bingung.

"Dih malah bengong. Samperin sana. Tuh, masih ada bangku kosong di sebelah Nayara" suruh Nino yang langsung membuyarkan lamunannya.

"Lu ngusir gw?" tanya Arsen karna Nino terkesan mengusirnya.

"Iya! Jadi, cepet lu pindah. Gw gak mau liat lu galau-galau gak jelas karna Nayara direbut tuh cowok. Udah cukup gw pernah liat Rakka ngegalau gak jelas dan gw gak mau liat itu lagi dari lu" kata Nino sambil terus memakan makanannya.

Rakka tidak terima dengan ucapan Nino. Dengan kesal dia protes, "Heh, kampreett! Kapan gw ngegalau gak jelas?"

"Ck, gak usah sok insomnia deh lu"

"AMNESIA!"

"Haha~ Santai dong. Jangan emosi gitu"

"Lu yang bikin gw emosi"

Tidak peduli dengan perdebatan tidak penting kedua sahabatnya, Arsen bergumam pelan, namun masih bisa didengar Rakka dan Nino.

"Mungkin benar gw suka sama dia"

Rakka dan Nino yang langsung menangkap maksud ucapan Arsen, dengan kompak mereka membalas, "BUKAN MUNGKIN, TAPI EMANG LU UDAH SUKA!"


Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Enchanté, Ex!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang