Part 13

1.1K 58 3

Seseorang menggoyangkan badanku, dan berkata, "hey bangunn"

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Tepat di depan wajahku, wajah Sarah tersenyum. "Kita sudah sampai"

Segera saja aku melihat ke arah jendela.

Changi Airport.

Singapore.

Merri.

"Ayo"

Aku mengangguk. Segera saja aku membenarkan rambutku dan turun pesawat. Di luar pesawat sudah ada mobil hitam yang sama seperti yang berada di Jakarta, menunggu kami. Aku segera masuk ke mobil karena Sarah sudah berada di dalam mobil.

"Bagaimana tidurmu?", tanyanya.

"Lumayan", kataku. "Kau?"

"Aku tidak tidur", katanya.

"Apa kita langsung ke apartment, Nona?", tanya si supir.

"Antarkan aku ke Four Seasons", katanya. "Kita akan antarkan pria ini dulu"

"Seberapa jauh apartement-mu dengan Four Seasons?"

"Hanya 2 menit jika berjalan kaki dan 5 menit jika memakai kendaraan"

"Tidak jauh"

"Memang". Telepon genggam Sarah berbunyi. "Kak Merri. Kau diam. Tapi akan aku aktifkan speakernya"

"Sarah?", panggilnya. Suaranya bergetar. "Kau sudah berada di Singapore?"

"Tentu saja, Kak. Bagaimana keadaanmu?"

"Sama seperti dua hari yang lalu"

"Oh ayolah Kak, kau tak boleh seperti ini terus"

"Aku tahu"

Sarah menghela nafas, lalu menatapku. "Aku sedang menuju ke apartement"

"Apa Greyson mengatakan sesuatu padamu sebelum dia kembali ke Los Angeles?"

Aku menggeleng.

"Tidak", kata Sarah. "Dia tidak mengatakan apapun"

Merri terdengar sedih. "Oh begitu. Maafkan aku telah melibatkanmu dalam pekerjaanku ini"

"Tak apa kak, aku sangat senang bisa membantumu"

"You are the best", katanya. "Aku sepertinya harus kembali ke Finlandia"

Segera saja, Sarah kembali men-nonaktifkan speakernya. "Apa kau sudah makan? Akan kubawakan makanan kesukaanmu. Lima menit lagi aku akan sampai"

Sambungan dimatikan.

Aku diam sambil berfikir, kenapa Sarah men-nonaktifkan speakernya saat Merri menyebutkan Finlandia? Jika memang negara itu bukanlah hal penting tapi mengapa Merri menyebutkannya seperti terdengar penting sekali? Begitu banyak sekali pertanyaan tentang kehidupan Merri, dan aku ingin sekali menanyakan langsung padanya.

"Baiklah Nona, kita sudah sampai"

"Ayo Greyson. Mari kita check-in dan aku harus kembali secepatnya ke apartement"

"Aku bisa melakukannya sendiri. Tidak usah kau bayar, aku punya uang. Kau harus segera kembali ke apartement"

Sarah memelukku. "Maafkan aku Greyson, aku tahu banyak sekali pertanyaan yang ada di pikiranmu, tapi aku tak bisa menjawabnya"

"Aku tak bisa memaksakan"

Sarah memberikan sebuah kartu nama padaku. "Telepon aku untuk besok karena aku tidak memiliki nomormu"

[ BOOK 1 ] - D I V E | Greyson ChanceRead this story for FREE!